dari Anna Mathovani sampai Bobby Brown
Seperti Christina Aguilera, Inul Daratista sebetulnya memiliki materi suara yang bagus. Christina pernah duduk manis di sebuah acara MTV lalu membawakan lagu-lagunya tanpa banyak tingkah dan tanpa penari latar. Luar biasa. Suaranya sangat merdu, ditambah olah vokal dan tehnik menyanyi yang sangat piawai, suara Christina benar-benar enak didengar. Bila menyaksikan video klipnya yang didominasi gerakan para penari latar dan polah tingkahnya sendiri, suaranya agak terabaikan.
Karena penasaran pada pro-kontra Inul Daratista, saya sempatkan menonton VCD bajakan Inul dan saya mendapati, suara Inul lebih bagus dari kebanyakan penyanyi Indonesia yang sudah terkenal lainnya. Saya bahkan berani bertaruh, silakan Krisdayanti dan Inul sama-sama duduk manis dan menyanyi. Suara Inul akan terbukti lebih bagus. Suara Krisdayanti ‘pas’ saja. Pada awal-awalnya bahkan KD tidak memiliki tehnik menyanyi yang bagus. Seringkali saya amati, suaranya ‘nggandhol’, tidak ‘ngemat’ (match dengan musiknya), sehingga kentara para pemain musik sedikit mengalami kesulitan. Untunglah, KD penyanyi pas-pasan yang punya niat belajar tinggi dan memiliki suami yang sangat mahir mengelolanya sehingga hasilnya KD menjadi Diva penganyi pop Indonesia. (Sebagai catatan, saya menyarankan sebaiknya Anang berkonsentrasi di musik dan mencipta lagu saja. Sebagai penyayi, dia lebih rendah dari sekadar pas-pasan).
Saya sangat sependapat dengan tulisan Beni Setia di Kompas edisi Jawa Timur, 24 Januari 2003, bahwa Inul kalau menyanyi gayanya datar-datar saja. Baru pada saat break vokal dan full musik, dia menggoyang pantat dan pinggulnya dengan gaya yang boleh dikata ‘agak mesum’. Goyangannya memang mirip penari erotis di klab-klab yang menjaja eksploitasi seks. Apalagi, Inul selalu membelakangi penontonnya, pantatnyalah yang disodorkannya ke hadapan para penonton. Inul tidak bisa menari. Itu sangat kentara. Penyanyi dangdut lainnya pasti memiliki keluwesan menggoyang badannya, meski sangat minim seperti Ikke Nurjanah dan Evie Tamala. Inul tidak bisa. Dia tidak luwes, dan goyangannya tidak memiliki sense of art. Itu cuma goyang ‘mesum’. Beberapa orang mengatakan, “Semua penyanyi dangdut kan goyangnya begitu”, saya pastikan orang yang mengatakan ini belum pernah menonton Inul. Goyang Inul sama sekali bukan goyang dangdut.
Bila ingin menjadi penyanyi, Inul sesungguhnya memiliki modal yang lebih dari pas, modal suara yang bagus. Materi suaranya bahkan lebih cocok untuk aliran musik rock atau pop. Namun karena dia ‘terlanjur sukses’ lewat goyang ‘mesum’nya, dia dan manajer (=suaminya) berkutat di wilayah itu. Yang mereka jual adalah : goyang Inul. Bukan Inul sang penyanyi.
Banyak penyanyi baru bermunculan di Indonesia, dan sebagian besar dari mereka hanya memiliki modal ‘pas-pasan’. Sulit mencari suara yang semerdu Anna Mathovani (dengarkan rekamannya ‘Cinta Pertama’ dengan Idris Sardi). Atau, materi vokal dan tehnik bernyanyi sepiawai Ruth Sahanaya dan Trie Utami. Setidaknya Vina Panduwinata, yang suaranya sangat tidak bening (serak kebanyakan merokok, katanya), mampu menutupi kelemahan dengan tehnik bernyanyi yang bagus. Anggun C. Sasmi mungkin dapat digolongkan pada penyanyi bermodal suara bagus.
Bandingkan dengan Dewi Sandra, yang pada penampilan pertamanya sebagai penyanyi bersama para model Indonesia, tampak kikuk dan bersuara agak fals. Baru-baru ini saja dia tampak mengalami banyak kemajuan. Itupun, tak dapat dipungkiri, lebih banyak ditunjang faktor koreografi dan pilihan lagu yang tepat untuk karakter suaranya. Coba izinkan Dewi Sandra duduk manis dan beri dia lagu yang tak biasa dinyanyikannya (lagu orang lain), mungkin dia akan mengalami kesulitan juga. Berbeda dengan pengalaman Trie Utami ketika main-main ke sebuah studio radio di Australia lalu iseng-iseng menyanyi The Greatest Love of All, semua terpesona mendengar suaranya.
Bandingkan juga dengan Britney Spears, yang suaranya sangat buruk, meskipun tidak lebih buruk daripada F4. Bila tak ada musik pendukung, menyanyi acapela misalnya, Britney akan hancur. Britney didukung koreografi yang bagus sedangkan F4 ditunjang kesuksesan sinetronnya. Suara personil F4 sangat tidak layak untuk disebut sebagai suara penyanyi. Selain materinya vokalnya buruk, tidak jarang mereka fals (sumbang) atau tidak ngemat (tidak sinkron dengan musik). Kualitas suara Britney jauh di bawah kualitas suara Christina. Namun mengapa Britney lebih populer dan disukai? Christina terlalu sibuk ‘menjual yang lain’. Lihat saja cara berpakaiannya. Lalu lihat single-nya yang terakhir ‘Dirty’ yang tidak ditayangkan di layar kaca Indonesia. Tengok gerakan-gerakan tubuhnya yang erotis ketika bernyanyi, menjadikannya tampak lebih tua dari umurnya. Sementara Britney tetap di jalur gaya remaja yang segar dan ceria.
Jennifer Lopez adalah salah satu contoh penyanyi yang sadar betul akan kelemahan materi vokalnya. Mendengarnya di kaset, tidak senikmat menonton video klipnya. Kepiawaiannya dalam ‘performance’ kini disaingi oleh Shakira. Keduanya sama-sama penari dan modal vokalnya sama-sama pas-pasan. Seharusnya Christina Aguilera tidak perlu mengikuti jejak ‘para penari’ ini dengan mengobral gerakan-gerakan tubuh, sebab justru itu kelemahannya. Kekuatannya adalah pada vokal dan tehnik bernyanyi, seperti Mariah Carey.
Agak sulit dimengerti, bagi penggemar musik yang sungguh-sungguh, bagaimana penyanyi seperti Bobby Brown bisa sangat terkenal di Amerika. Dengan suara pas-pasan, lagu-lagunya kebanyakan bernuansa ‘jorok’ (di AMA kemarin dia menyanyikan lagu rap yang liriknya antara lain ‘I want you to kiss my ass’ sambil merem melek seperti sedang mengalami orgasme). Toh dia mendapat applause luar biasa. Perilaku buruknya itu tak hanya di atas panggung. Bobby mengkoleksi perempuan dan punya anak di luar nikah, baik sebelum maupun sesudah menjadi suami Whitney Houston. Saat menyanyi di AMA itupun dia ‘mangkir’ dari kewajibannya menjalani hukuman pidana karena mnegendarai mobil sambil mabuk. Bobby dan beberapa penyanyi ‘rap’ Amerika lainnya, juga kerap berurusan dengan polisi karena kasus perilaku kasar termasuk menyerang orang lain dan seks dengan anak di bawah umur.
Bagaimana penyanyi-penyanyi yang sesungguhnya ‘bukan penyanyi’ ini kemudian menjadi idola remaja kita? Itu yang harus kita waspadai. Lirik lagu-lagu Eminem yang cenderung melanggar tata kesopanan kepada orangtua atau perempuan, didengar dengan seksama oleh anak-anak muda kita. Jangan-jangan perilaku ‘dendam kepada orangtua’ ala Eminem akan dianut oleh anak-anak muda kita. Ironisnya lagi, seorang guru besar di Surabaya bahkan mengaku terus terang, suka terinspirasi oleh goyang Inul. Pernyataan itu diungkap di surat kabar, seolah-olah melegitimasi goyang itu sebagai hiburan yang bermanfaat. Sebuah komunitas seni dan organisasi kesenian pun bersemangat menyelenggarakan lomba goyang Inul, yang berarti menyuburkan perilaku tidak patut yang masih menjadi perdebatan dipandang dari segi moralitas.
Sebentar lagi goyang Inul akan disaksikan jutaan pemirsa televisi swasta di Indonesia. Di benak rakyat Indonesia pecinta dangdut akan terbayang goyang Inul, bukannya suara merdunya. Mudah-mudahan ini tidak memberi pemahaman kepada anak-anak muda bahwa untuk menjadi penyanyi tidak harus bersuara bagus, asal bisa dan mau goyang, jadilah.
Sirikit Syah
Penikmat musik