Ketika para yuniorku kagum pada banyaknya kenalan yang saya punyai di Surabaya, saya bilang pada mereka: “Itu bukan karena saya hebat, melainkan karena saya menua di sini.” Ya, menjadi tua di Surabaya. The art of growing old is: you know almost everybody in town. Yah, nyaris seperti Cak Kadar itulah. Mungkin saya calon sesepuh arek Suroboyo berikutnya.
Saya berasal dari keluarga priyayi campur petani proletar. Almarhum ayah saya yang anggota angkatan laut berasal dari keluarga guru di Mbarat, Madiun. Ayah bertemu ibu yang anak petani Kediri, lalu menikah tahun 1949. Ibu saya, usia 13 tahun, jebolan kelas 3 SD, sehari-hari kerjanya nggendong atau nyunggi padi, sayur, atau kayu, tiba-tiba tercerabut dari desanya dan dibawa ke kota besar Surabaya pada tahun 1950. Menurut cerita mbakyu saya, keluarga kami mula-mula tinggal di Jl. Manggar, lalu Jl. Diponegoro, lalu (saya alami s/d th 1972) di Jl. Melati. Menurut cerita, ayah saya keren, ganteng, berpendidikan, kaya, luas pergaulan, moderat. Sayang, beliau meninggal ketika saya belum berusia 3 tahun. Saya tak ingat apa-apa tentangnya.
Dalam usia 29 tahun, ibu saya sudah janda dengan 7 anak, saya nomor 6. Wanita sekarang, 29 tahun masih mencari pacar mungkin ya? Karena ayah saya keren, ibu saya yang asli wong ndeso itu ikutan keren: dileskan menjahit sehingga mahir menjahit. Seingat saya, semua baju masa kecil kami ibu sendiri yang menjahit. Ibu juga dileskan masak, dileskan dansa, diajari naik sekuter (vespa). Ibu sangat fashionable. Melihat foto-fotonya, rasanya baju-bajunya bisa dipakai anak gadisku sekarang. Begitu modis.
Di Jalan Melati dimana kami tinggal di tahun 60-an itu, semua rumah bergaya Belanda, dan orang-orangnya tergolong the haves. Ada Tante Mariana di nomor 15 yang keBelanda-Belandaan (anak-anaknya cantik-cantik), ada Bude Tik yang priyayi di nomor 17 (pojok), ada Bu Warsito di nomor 12, ada drg. Sandi di nomor 5, ada Christin Ningrum di nomor 8. Dulu kami melihat Christin Ningrum sebagai penyanyi hebat. Sayang dia muncul berbarengan dengan Emilia Conteza, lalu dia kalah pamor. Christin sering bermain bersama band Panbers. Di Jl. Melati itu para remajanya memang kompak, band-band-an, dansa-dansa. Waktu mbakyu saya ultah ke 17, ruang besar di rumahku disulap jadi lantai dansa, dan anak kecil (saya dan adik-adik) tak boleh masuk. Kumpulan remaja Jl. Melati tahun 60-an ini sampai sekarang masih suka bertemu, tokohnya antara lain mbakyu saya dengan julukan Susi Melati yang dulu mantan siswa SMP I Pacar dan SMA I Wijaya Kusuma.
Karena punya 7 anak, ibu saya tak tahan menjanda lama-lama, lalu menikah lagi. Keluarga baru dan besar kami bertambah dengan 4 anak bawaan ayah tiri, dan dua anak ibu bersama ayah tiri, total 13 anak, saya nomor 6 atau tujuh tergantung dari sisi mana melihatnya. Sebagian dari kami seumur.
Di Jalan Melati itu, rumah kami nomor 14 dan berhalaman pelataran cukup luas, dimana anak-anak sering bermain kelereng, pres, baksodor (go back through the door), pathe lele, dll. Kalau lagi iseng, saya dan saudara-saudara suka naik kursi di gudang belakang, mengintip di lubang angin, melihat para KKO antre mandi di Asrama Amurang (dulu ada bioskopnya), yang kini sedang dibangun entah jadi mall apa lagi itu. Kalau ingat, memang memalukan, tapi waktu itu kami masih anak-anak, penuh curiousity (keingintahuan). Saya kalau main bisa sampai menelusuri jalan Angrek terus naik viaduct di belakang Asrama KKO Amurang itu, menyeberang jalan tertinggi di Surabaya (viaduct Gubeng), turun di anak tangga seberangnya, yang dekat Stasiun Gubeng lama. Atau turun ke RSAD di Gubeng Pojok, dimana ada juga rumah teman SD di situ.
Kadang kami bermain ke Jl. Ketabang Kali, dimana sekolah TK kami berada. Atau, ke Jalan Legundi, sampai ke Pasar Kanginan. Saya dulu punya Bude yang tinggal di tepi jalan kereta api di balik Pasar Kanginan. Pak De dan Bude sudah meninggal, tapi putranya sekarang jadi juru masak di Hotel Simpang. Mas Bambang orangnya gemuk, meyakinkan kalau dia juru masak. Dari rumah Bude itu saya biasa melompati rel kereta, kawat-kawat listrik, semak-semak, dll, sampai ke seberang, Jl. Residen Sudirman, lalu ke Jl. Indrakila, dimana sahabat saya saat SD tinggal. Tentu waktu itu belum ada Stasiun Gubeng baru.
Karena sekolah kami semua di SDN Kusuma Bangsa I, sebelah utara THR, kami akrab dengan daerah Kapasan, Ngaglik, Tambaksari. Kami bersaudara memiliki anggota di setiap kelas di SD tersebut, mulai kelas 6,5,4,3,2,1. Bahkan seingat saya, di kelas saya, ada dua, yaitu saya dan Mbak Eki, saudara tiri saya. Di kelas adik saya juga dua, dengan saudara tiri. Jadi, kalau berangkat atau pulang sekolah, kami beriringan berjalan kaki dari ujung timur Jl. Melati dan ujung selatan Jl.Kusumabangsa, berjalan di taman di tengah jalan, di mana pedagang mainan kuda-kudaan atau kursi-kursi rotan menggelar dagangannya. Kami menyeberang Jl. Ambengan, melewati Taman Remaja Surabaya, THR, lalu masuk halaman sekolah.
Jajanan paling top waktu itu di sekolah-sekolah dasar adalah kerupuk upil dengan sambal petis, tebu ditusuk biting (lidi), trembesi, gulali (kembang gula). Tentu tak ada Chiki atau penthol/gorengan bakso saat itu.
Bila kami agak terlambat berangkat atau malas berjalan kaki, kami di ujung Jl. Melati itu menunggu orang naik sepeda dengan boncengan kosong atau cikar sapi yang mengangkut barang dagangan dari Pasar Wonokromo ke Pelabuhan Kalimas. Kepada lelaki bersepeda dengan boncengan kosong, kami mengacung-acungkan jari layaknya hitch-hiker, ”Paklik, nunut paklik.” Lalu kami nyengklak di boncengan belakang sampai ke sekolah. Kalau cikar sapi, tak perlu basa-basi, kami langsung nggandhol saja di belakang, duduk di antara barang-barang dagangan. Lumayan.
Pernah suatu kali ada Paklik bersepeda yang malah turun dari sepeda lalu duduk-duduk dengan kami di pagar rumah Bude Tik Jl. Melati nomor 17 itu. ”Rumahnya dimana, dik?” tanyanya. Kami menunjukkan rumah nomor 14 agak jauh di belakang punggung kami. Wajah orang itu keheranan: ”Masak itu rumahnya? Bagus gitu lo. Kok nunut sekolah? Atau nggandhol cikar?” Kami, masih anak-anak, tidak bisa menjawab.
Sekian puluh tahun kemudian, baru kusadari ironi dari keadaan itu: rumah megah, di kawasan the haves, sekolah nggandhol cikar atau nunut sepeda. Dua bulan lalu mbakyu saya bercerita. Tadinya kami keluarga kaya, yang pertama kali punya mobil, satu-satunya istri (ibu kami) yang mboysh pakai slack nyetir vespa keliling lingkungan. Tiap sore kami semua sudah mandi dan bersepatu untuk menyongsong ayah kami pulang dari kantor lalu kami naik mobilnya jalan-jalan. Ayah kami juga suka mengajak para tetangga untuk rekreasi dengan mobil pribadi atau mobil (bahkan bus) angkatan laut. Semua anak tetangga boleh nunut mobil kami kalau berangkat sekolah. Namun setelah ayah meninggal, keadaan berubah.
Rumah kami tetap berdiri megah, namun kami harus nggandhol cikar (gerobag ditarik sapi) atau nunut Paklik bersepeda. Saya baru sadar kalau itu adalah penurunan strata ekonomi. Saya kira selama ini –sebelum dua bulan yang lalu- itu fun-fun aja untuk anak-anak usia SD seperti kami. Tahun 1972 memang orangtua kami akhirnya menjual rumah besar itu dan membeli rumah di Jl. Pumpungan Gg 1 nomor 3. Separuh dari harga rumah di Jl. Melati menjadi rumah dengan luas 1 hektar lebih, masjid, sawah, kapal penangkap ikan, dll. Rumah kami berkamar 16, dan banyak menampung mahasiswa kos-kosan. Tahun 1978, saya masih murid SMA 5, rumah kami digerebeg polisi karena dipakai rapat mahasiswa. Kalau tidak salah yang suka rapat di rumah kami itu antara lain Djalil (Sapu Jagad, dulu kalau tak salah di Stipac), Wisnu Broto (Unair), Tommy Pakasi (Ubaya), Soeharyono (Ubaya), dll. Dari kalangan seniman, yang sering mampir di rumah kami, sekadar makan siang, makan malam, tidur, nginap, antara lain almarhum Gombloh, Leo Kristi dan anggotanya, Emha Ainun Najib, WS Rendra, dll. Jadi, sejak SMA saya memang dilingkungi aktivis mahasiswa dan para seniman. Keluarga saya memang agak liberal, dan Islamnya abangan.
Punya 13 saudara sangat menyenangkan (salah satunya, almarhum Susilo Hadi, pernah menjadiajudan Walikota Muhaji Wijaya, lalu Camat Wonokromo), meskipun kalau sepatu jebol, belinya nunggu antre. Bahkan saya ingat ketika masih di rumah Jl. Melati yang megah itu, kami semua makan nasi jagung dan sayur ketela. Kalau ada tempe atau tahu, jumlahnya pas satu-satu. Jadi ingat tarian ”Piring’nya Parmin Ras (piring yang disediakan ibunya untuk anak-anak, seringkali kosong tak berisi apa-apa). Tapi saya mengenangnya sebagai adventure. Saya pernah makan nasi jagung dengan sayur ketela, atau satu piring nasi dengan satu potong tempe. Untung ibu saya asli ndeso, dan mahir memasak, sesederhana apapun bahannya, di tangan ibu menjadi lezat luar biasa (meskipun di kala jaya ibu juga hebat memaak beef steak, huzaren sla, dll yang ke-Belanda-belandaan, berkat didikan ayah). Yang paling saya ingat dari ibu yang minim pendidikan itu adalah: tersedianya makanan tiga kali sehari di meja makan untuk begitu banyak anak, ditambah penganan pada pukul 9-10 pagi dan pukul 4-5 sore. Persis jadwal rumah sakit. Semua bikinan ibu sendiri.
Kami sekeluarga biasanya rekreasi ke Kebun Binatang. Senang sekali kalau ke Kebun Binatang, masih longgar, leluasa. Kami juga rekreasi ke Tretes, atau bersama-sama para tetangga menonton pertunjukan akrobat dari luar negeri dengan naik bus angkatan laut (ayah tiri juga dari angkatan laut, jadi, fasilitasnya sama, sebelum beliau keluar dari angkatan). Lingkungan tetangga kami tergolong borju, jadi meskipun ekonomi mulai melorot, kami memaksakan diri mengikuti kegiatan-kegiatan semacam itu. Di kali lain, saya pernah ikut ibu antre minyak tanah atau minyak goreng, seperti yang saya lihat terjadi belakangan ini.
Di Surabaya, saya hafal semua jurusan kendaraan bemo (kalau di kota lain namanya angkot). Pertamakali saya naik bemo adalah ketika lulus SD dan harus mengambil rapot. Kami sudah pindah ke Pumpungan. Bagaimana bisa ke SDN Kusumabangsa di dekat THR? Waktu itu belum ada taksi dan lyn bemo masih jarang. Saya dan ibu (berkebaya, karena acara istimewa) naik becak dari Pumpungan menelusuri Jl. Ngagel Jaya Selatan, melewati makam ayah saya di Ngagel, melewati ban sepur, berhenti di BAT. Dari situ naik bemo roda tiga (F) ke arah utara, rasanya lama sekali, turun depan sekolah persis. Pulangnya begitu lagi. Agak susah payah, bukan? Tapi ibuku yang cantik tersenyum terus karena aku dinobatkan jadi Bintang Kelas tiga tahun berturut-turut (sejak kelas 4) dan puncaknya kelulusan kelas 6. Mana ada siswa lulus SD nilai ijasahnya, 10 mata pelajaran, 10 semua? Saingan dekatku namanya mBing, anak pedagang Cina di Ngaglik. Dia pintar. Saya bangga bisa mengalahkannya. Waktu itu saya tidak berpikir, mengapa di rumah ada dua go-cart milik kakak dan sebuah kapal penangkap ikan milik ayah tiri yang diparkir di halaman (halaman rumah kami besar sekali, ada masjidnya pula), tetapi saya dan ibu mesti susah payah naik becak dan bemo? Saya kira, itu bagian dari mismanajemen dalam keluarga kami.
Saya akhirnya bersekolah di SMPN 12, SMP Negeri terdekat dengan Pumpungan, lalu melanjutkan ke SMAN 5 Surabaya. Saya mendaftar sendiri ke situ, antre sendiri, karena kesasar saja. Tidak tahu mana sekolah bagus atau kurang bagus, pokoknya Wijaya Kusuma. Alhamdulillah diterima. Semasa di SMA 5, hampir setiap Sabtu sore saya bermain ke Petrokimia Gresik, naik bus Petro dengan teman yang asal Petro, menelusuri Jl. Gresik dengan ladang-ladang garamnya yang indah. Saya week-end di rumah keluarga Petro yang saya panggil papa dan mama, karena mengajari adik-adik bahasa Inggris. Kalau saya tidak ikut bus Petro, mama papa akan datang dengan mobil ke rumah saya di Pumpungan, menjemput, minta ijin pada orangtua saya.
Kehidupan saya selalu bergantung pada bemo. Bemo Bratang-Wonokromo saat SMP, bemo N Bratang-Jembatan Merah saat SMA (turun di pojok Jl. Slamet), bus kota Ngagel-Ketintang saat kuliah IKIP (kadang-kadang dibonceng sepeda sahabat saya Abdul Latief, sekarang guru SMAN 5), lalu bemo Q waktu bekerja di Departemen Perindustrian Jl. Kedungdoro. Setelah di Surabaya Post (1984-1990) saya mengendarai sepeda motor saya sendiri. Saya juga pernah indekos di depan Telkom Ketintang, dalam rangka menghindari untuk dijodohkan. Ketika anak ibu kos saya ajak pulang ke rumah di Pumpungan, dia bercerita kepada keluarganya dan tetangganya kalau rumah saya seperti istana. Padahal di kamar kos saya umpel-umpelan dengan tiga mahasiswi lain, dan makan siang seharga Rp 150 (sayur lodeh dan kerupuk). Itu cukup membuat orang-orang keheranan. Tak lama, saya dijemput oleh kakak laki-laki untuk pulang.
Surabaya dan saya, bagaimana saya bisa meninggalkannya? Saya hafal hampir semua sudut kotanya. Saya hafal jalur bemonya, seperti membalik telapak tangan. Saya lahir di Surabaya, bersuamikan arek kampung Suroboyo asli (Dinoyo, dimana dia bisa mengurut kakek moyangnya yang semua dari Dinoyo), beranak di Surabaya, meniti karir di Surabaya. Surabaya adalah tanah airku, kota kelahiranku. Sejak pulang dari Brunei Darussalam tahun 2007 saya bertekad tak akan meninggalkan Surabaya lagi. Saya akan mengabdikan diri saya untuk Surabaya.
Sirikit Syah