De Ja Vu


 

 

                                                Sirikit Syah

 

Pada hari ketiga aku jatuh cinta pada Oxford

meski dingin menyakitkan telinga

dan rindu terus menyiksa

 

Jalanan kecil berliku

berpagar rumah-rumah batu

dengan banyak jendela di sisi mukanya

membawaku ke alam masa lampau

 

Seperti de ja vu

aku merasa pernah berada di sini

beratus tahun yang lalu

mencukuri bulu-bulu domba,

memerah susu sapi

di bawah awan yang tersibak

terobosan sinar matahari

 

Di padang di mana biri-biri merumput

aku seperti pernah melihatmu berlutut

dengan mata birumu yang penuh cinta

Kau sodorkan sebuah tanya

“Will you marry me?”

dengan cincin jerami kering

dan bunga ilalang di atas kepala

 

Langit di atas Oxford seperti tak berbatas

ini bisa saja Surabaya, Jakarta, atau Singapore,

atau inikah “paradise found”?

 

Tapi kamu dimana

Di kedai-kedai kopi dan toko-toko buku,

di sekitar kampus, kau tak ada

Di pub-pub yang dipenuhi pemabuk,

kau tetap tak ada

 

Wajahmu hilang rupa

Dan suaramu hilang tawa

 

Di warung internet

(kembali ke abad milenium,

dimana orang-orang bicara pada dinding

yang bersuara)

telah kukirim beratus-ratus pesan

toh, tak juga kuterima signalmu

 

Akhirnya,

Pada suatu senja berkabut

saat aku harus berpacu dengan jadwal coach ke Heathrow

kuterima juga pesanmu lewat voice mail:

            “GET LOST!”

 

London, 2000

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s