(Pidato pada Wisuda Unesa th 2007 selaku alumnus)
Dua puluh dua tahun yang lalu saya berdiri di antara Anda semua, sebagai salah satu wisudawan IKIP Negeri Surabaya tahun 1984. Perasaan saya sedih, gembira, gamang, campur aduk jadi satu. Sedih meninggalkan dunia dan masa yang paling membahagiakan dalam hidup saya, gembira telah menjadi sarjana seperti yang diharapkan orangtua, namun juga gamang menghadapi hari esok. Hari pertama sebagai sarjana, kemana langkah kutujukan? Mendapat kehormatan berdiri di sini hari ini, saya mengajak Anda semua untuk merenungkan masa depan sarjana Indonesia.
Tahun lalu saya, atau tepatnya dunia, dikejutkan oleh sebuah pernyataan nyleneh: “The world is flat”. Siapa orang “kurang ajar” ini, yang tiba-tiba memporakporandakan gambaran kita tentang dunia yang bulat, yang pengakuan atas “kebulatan” itu membuat ilmuwan dihukum oleh gereja beberapa abad yang lalu? Enak saja, sekarang dia tiba-tiba bilang “Eh, ternyata dunia itu datar-datar saja tuh.”
Thomas L. Friedman, pencetus gagasan itu, adalah kolumnis terhebat di Amerika Serikat, pemenang penghargaan Pulitzer berkali-kali. Dia tengah berada di India ketika kepalanya seperti kena hantam. Friedman terkaget-kaget pada kemajuan teknologi IT yang terpusat di Bangalore, Silicon Valley-nya India. Banyak perusahaan di seluruh dunia bergantung pada perangkat lunak dan SDM yang di-outsource di India. Friedman kemudian menyimpulkan bahwa dunia tak lagi dibatasi oleh garis batas geografik atau batas waktu. Pada masa Columbus, untuk pergi ke India dari Spanyol, diperlukan waktu berbulan-bulan, melewati Afrika dan Asia Barat, atau sebuah teritori yang kelak disebut Amerika. Sekarang, dari Eropah ke India seperti meluncur saja di lantai yang datar dan kita tiba di tempat kurang dari setengah hari.
Pada jaman kejayaan kerajaan-kerajaan Eropah: Inggris, Belanda, dan Portugis berlomba menjajah daerah-daerah baru –Afrika, Asia- dengan mengerahkan armada-armada kapal lautnya, bermodalkan kekuatan fisik dan persenjataan. Pada jaman ekspansi perusahaan multi nasional, para penjajah tak lagi beridentitas negara (melainkan Shell, Mobil Oil, MacDonald, KFC) dan bergerak dengan pesawat-pesawat tercepat. Saat ini, ketika IT mengubah gaya hidup dan peradaban manusia, siang atau malam tak lagi menjadi persoalan di belahan bumi manapun. Dan untuk menguasai dunia (atau bahasa positifnya ”terlibat dalam arus globalisasi”), orang bahkan tak perlu pergi kemana-mana. Dunia toh datar-datar saja.
Sebuah rumah sakit di Amerika, misalnya, bisa saja menyerahkan analisis scanning kasus pasien kanker ke ahlinya di belahan dunia yang lain, misalnya Jepang, karena di Amerika sudah malam, bukan jam kerja. Keesokan harinya, para tim RS di Amerika itu sudah mendapatkan analisisnya yang dikirim lewat email dari Jepang, while they were sleeping! Tak ada waktu terbuang: layanan 24 jam. Si Jepang menganalisis pasien kanker di AS tanpa beranjak dari ruang kerjanya. Semua orang dan pekerjaan terhubung oleh internet. Ruang dan waktu tak lagi punya makna.
Outsourcing menjadi kunci keberhasilan bangsa-bangsa dalam mensiasati dunia datar ini. Inti outsourcing adalah ”kemampuan individu”, ”kualitas SDM”, bukan kejayaan negara (glory) atau kepadatan modal usaha (capital)! Yang diperlukan adalah soft skill, soft ware, tenaga ahli. Kita melihat, orang-orang (atau para ahli) dari India dan China-lah yang sudah maju lebh dulu menjajah pusat-pusat riset ilmiah, industri berpiranti canggih, teknologi ruang angkasa, rekayasa genetika, bahkan dunia hiburan di seluruh dunia.
Mulai jaman Columbus hingga abad 18, rakyat bertanya ”Apa peran saya dalam dunia bulat ini, melalui negara saya?” Di jaman modern (abad 18 sampai 20), revolusi industri menenggelamkan peran negara dan menonjolkan peran perusahaan. Rakyat bertanya, ”Bagaimana saya berperan di desa global ini, melalui perusahaan tempat saya bekerja?”. Sekarang, abad 21, pertanyaannya adalah ”Bagaimana saya punya peran di dunia datar ini, atas nama diri sendiri?”
It’s the era of enterpreneurship. Kewiraswastaan. Wartawan terkenal adalah wartawan freelance (Robert Fisk). Dosen-dosen terbang keliling dunia bukan karena negaranya atau institusinya, melainkan karena kemampuan dirinya sendiri (Amartya Sen). Ekonom pemenang Hadiah Nobel adalah seorang wirausahawan sosial (Muhammad Yunus). Seniman yang sukses di mancanegara bukan yang dikirim pemerintah atau organisasi besar/terkenal, melainkan yang menjual diri sendiri.
Suatu ketika anak saya bertanya, “Mengapa semua sarjana bercita-cita jadi pegawai negeri atau pegawai swasta?” Dia minta izin tidak kuliah selepas SMA. “Dananya saya pakai modal kerja saja, Bu.” Sekarang dia menerima pesanan disain kartu dan komik pekerjaan rumah teman-temannya, dengan upah mulai dari traktir bakso sampai ratusan ribu rupiah. Saya mungkin malu kalau anak saya sampai tidak kuliah. Pendirian anak saya tergolong ‘nyleneh” dan “nightmare” bagi orangtua baik-baik seperti saya. Tapi, saya sedikit lega bahwa dia sudah bisa mendisain masa depannya sendiri.
Di Jawa Timur, catatan April tahun lalu menunjukkan, satu dari 5 orang Jatim adalah orang miskin, lebih tinggi dari angka kemiskinan rata-rata di Indonesia. Faktor terbesar kemiskinan adalah merosotnya pertanian: harga pupuk mahal, harga gabah jatuh terus. (Intermezzo: aneh juga, mahasiswa tidak pernah demo persoalan pupuk dan gabah, mereka sibuk demo goyang ngebor atau anti-poligami, yang jauh dari urusan ayah ibu yang membiayai kuliah mereka!). Faktor kedua adalah pengangguran, hilangnya lapangan pekerjaan. Bagaimana sekarang, setelah ada lumpur di Porong, jalan ekonomi putus dan pabrik-pabrik tutup atau pindah?
Dengan kondisi seperti itu, di antara ribuan sarjana yang lahir dari belasan perguruan tinggi setiap tahunnya, Anda semua masih mau minta pekerjaan pada orang lain? Mengapa tidak menciptakan pekerjaanmu sendiri? Buka layanan home-schooling, buka kursus, rumah mode, usaha catering atau restoran, bengkel mobil atau sepeda motor, jasa konsultan, menjadi editor/penyunting/penterjemah freelance, bekerja sewaktu-waktu dan dibayar jam-jaman. Semua sarjana Unesa pasti telah dibekali ilmu-ilmu yang relevan. Tinggal: apakah Anda punya nyali untuk hidup merdeka, tidak tergantung pada pemerintah dan perusahan besar? Siapkah Anda meluncur di dunia datar? Hanya itu pertanyaan saya hari ini pada Anda semua. Semoga Anda sudah punya jawabannya.
Sirikit Syah
April 2007