Belakangan ini dunia media kita dihebohkan oleh berita tentang Pujiono dan Ulfah. Anak perempuan saya yang mengamati dunia media mencoba membahasnya dengan saya: “Ibu, bukankah baik Pujiono maupun Ulfah bukan selebritis? Mengapa mereka masuk ke berita infotainment seolah-olah mereka adalah selebritis?” Sebuah pertanyaan sederhana yang menguak banyak persoalan dalam pemberitaan Pujiono-Ulfah.
Bila kita menganalisisnya dari nilai-nilai dan kriteria berita, memang sulit ditemukan alas an tepat mengapa Pujiono-Ulfah ini menjadi berita hebat. Informasi itu sama sekali tidak penting bagi rakyat, tidak berdampak bagi rakyat, tak mengandung unsur tragedi, tidak menarik (karena banyak terjadi hal yang sama), dan tidak mengandung unsur ketokohan/prominence (tak melibatkan artis atau pejabat).
Bila ditelusuri secara obyektif, kesalahan pemberitaan memang terletak pada Pujiono sendiri. Ini orang kaya raya yang memiliki pesantren, terpandang di wilayahnya, lalu dia ingin ‘pamer’ kepada publik bahwa dia bisa menikahi siapa saja yang dia kehendaki, dan ‘pamer’nya itu dilakukan melalui media massa. Beritanya pertamakali muncul di harian Jawa Pos, lengkap dengan fotonya bersama Ulfah. Tak lama kemudian banyak media mengekspos sensasi itu, terutama infotainment. Mneurut pandangan saya, Pujiono ini manusia sok tahu nomor satu dalam kasus ini.
Manusia sok tahu nomor dua adalah Kak Seto. Aneh saja, lelaki yang menurut predikatnya mestinya mengurusi anak-anak korban kekerasan, malah ingin menyakiti hati anak perempuan yang sedang mengalami masa bahagia bersama suaminya. Betul-betul seperti tak ada pekerjaan lain, atau tak ada anak-anak korban kekerasan yang lebih memerlukan perhatiannya. Ulfah bukan korban kekerasan orangtua maupun suaminya, juga bukan korban trafficking (anak yang diperdagangkan). Tidak ada alas an bagi Kak Seto untuk memisahkan Ulfah dari suaminya.
Manusia-manusia berikutnya yang paling sok tahu adalah awak media massa. Sebelum Ulfah muncul, media selalu mengira atau menuduhnya sebagai anak perempuan yang dipaksa kawin oleh orangtuanya. Guru di sekolah diwawancarai. Gurunya bercerita bahwa Ulfah pamit baik-baik sambil menangis, karena akan rindu pada sekolah, guru dan teman-temannya. Oleh media, ini di’plintir’ menjadi Ulfah menangis karena sedang tertekan.
Tak lama kemudian Ulfah muncul di hadapan publik dengan merangkul lengan suaminya, dan berbicara dengan tegas kepada aparat (kepolisian) maupun wartawan. “Tidak ada masalah. Saya baik-baik saja. Mengapa diributkan? Saya mencintai suami saya. Saya tak mau dipisah. Mohon doanya saja.” Rasanya, tak ada pernyataan yang lebih tegas dari itu, dilengkapi mimik dan gesture yang meyakinkan. Tetap saja media ‘tidak terima’. Mereka mengulas berita itu dengan mengatakan, “Ulfah tidak sadar mengucapkan kalimat-kalimat itu”, “seperti didikte, dihafalkan”, “tampaknya dia di-brainwashed”, “meskipun benar, dia belum cukup umur untuk mempertanggungjawabkan kata-katanya”, dan seterusnya.
Apa sebetulnya yang diharapkan ataudituntut oleh para manusia sok tahu itu? Berharap Ulfah adalah korban? Ternyata bukan. Tapi, tetap saja, Ulfah dianggap “korban yang tak sadar bahwa dirinya adalah korban”. Luar biasa. Manusia-manusia ini berlagak seperti Tuhan. Mencampuri urusan orang lain, bahkan bisa membaca pikiran dan kalbu orang lain.
Yang mengherankan adalah adanya manusia sok tahu yang muncul dari kalangan agamawan. Mereka bahkan setuju dengan Kan Seto dan aparat kepolisian agar Ulfah dikembalikan pada orangtua. Ini bertentangan dengan kehendak pribadi Ulfah sendiri. Dengan cerdas Ulfah mengucapkan kalimat, “Kalau saya dianggap anak, anak-anak punya hak untuk dicintai. Izinkan saya menikmati hak itu.”
Para agamawan itu menganggap Ulfah terlalu muda menjadi istri. Betapa terlambatnya. Ada ribuan anak se-usia Ulfah yang menikah di seluruh Indonesia. Bukan jaman dulu saja (ibu saya menikah pada umur 13 dan melahirkan 13 anak dalam kondisi sehat semuanya), tetapi juga jaman sekarang. Tetangga saya mengeluh pembantunya yang berusia 17 tahun sudah dipanggil pulang oleh orangtuanya di Madura. Sudah terlambat kawin, sudah dianggap ketuaan. Ribuan lagi jumlahnya anak-anak seusia Ulfah yang menikah di pelosok-pelosok pedesaan di seluruh Indonesia. Setidaknya, perkawinan ini akan menyelamatkan mereka dari potensi trafficking (urbanisasi perempuan melalui pekerjaan PRT, buruh pabrik, pelayan klub malam, bahkan PSK).
Terlalu banyak manusia sok tahu dan sok benar di Indonesia ini, baik di kalangan pejabat dan aparat, media massa, maupun tokoh agama. Simpang siurnya berita Pujiono-Ulfah ini tentu membuat rakyat menjadi bingung. Yang benar tampak salah, yang salah dianggap benar. Menikahi gadis 12 tahun dianggap penganiayaan (bahkan phedophilia), tetapi para cukong yang men-sinetronkan anak-anak di bawah 10 tahun, termasuk menyuruh mereka buka perut dan memutar-mutar pinggul, dianggap sebagai pemberdayaan anak dan perempuan.
Saya kira kita mesti tak henti-hentinya menyuarakan kebenaran. Meskipun akan berhadapan dengan lawan yang luar biasa banyaknya dan sangat berkuasa, kebenaran harus disuarakan. Pujiono memang salah karena suka pamer. Wong urusan rumah tangga kok dipamer-pamerkan. Dia telah menabur angin dan menuai badai. Namun lebih bersalah lagi mereka yang hendak memisahkan suami istri yang telah menikah secara sah.
Sirikit Syah
17 November 2008