Pendidikan Bermakna, Sudah Waktunya


  

Oleh Sirikit Syah*

 

Buku ”Menggagas Pendidikan Bermakna” karya Prof. Muchlas Samani ini saya pilih sebagai salah satu buku favorit saya pada tahun 2007. Bila dibedah dari sudut pandang dan teori perbukuan, buku ini memenuhi semua persyaratan buku yang baik.

 

Mula-mula, cover buku ini sangat ”eye-catching”. Bila diletakkan berjajar di meja bersama buku lainnya, buku dengan cover warna hitam ini cenderung dipilih oleh siapa saja yang lewat di dekatnya. Ilustrasi karikaturnya relevan dan menggelitik. Di beberapa bagian, kita bahkan tak perlu membaca detil bukunya untuk menangkap maksud penulis, cukup dengan membaca komik/kartunnya yang amat merepresentasikan gagasan penulis.

 

Alur atau struktur (pembagian bab) yang koheren dan sinambung membantu kita mengikuti alur pikir penulis secara runtut. Dari pendahuluannya yang langsung menendang, yaitu ”Merekonstruksi Pendidikan”, sampai ke bab-bab berikutnya, gagasan penulis tentang pentingnya pendidikan bermakna terjalin dengan rapi dan enak diikuti. Ada pertanyaan kritis tentang ”Mengapa Anak Harus Sekolah?”, sebuah pertanyaan yang terus mengusik kita dan anak-anak kita. Ada pengamatan atas orang-orang sukses dan karakter yang secara umum terdapat pada orang sukses, ada persoalan pendidikan akhlak, dan ”gong”nya –menurut saya- adalah diskusi tentang life-skill atau kecakapan hidup.

 

Mengikuti pendapat Prof. Muchlas, life-skill memang bukan sekadar ketrampilan menjahit (agar bisa menjadi penjahit) atau ketrampilan otomotif (agar bisa buka bengkel). Bagaimana kalau penjahit tidak laku lagi (digilas pabrik pakaian jadi) dan keahlian otomotif tak diperlukan lagi? 10-20 tahun lagi, dunia anak-anak kita tak sama dengan dunia kita. Tenaga kerja terbuka bagi orang asing. Di dunia media, kehumasan, periklanan, dunia kedokteran dan hukum, hal ini sudah berlangsung. Tak menutup kemungkinan, tak lama lagi, Indonesia digelontor guru-guru dari Filipina atau India. Oleh sebab itu, yang paling penting diajarkan kepada anak didik kita bukan ilmu yang sama dengan ilmu yang kita pelajari, melainkan kemampuan dan kecakapan menghadapi tantangan dan menjalani kehidupan di masa depan. Bukan sekadar trampil menjahit atau menjadi tukang –agar bisa survive di tengah kelangkaan lapangan pekerjaan- tetapi cakap menghadapi tantangan dan persaingan dalam situasi apapun. Itulah life-skill menurut Prof. Muchlas Samani, dan itulah pendidikan bermakna.

 

Buku ”Menggagas Pendidikan Bermakna” mempertanyakan secara kritis proses dan materi pembelajaran kita. Dicontohkan, orangtua-orangtua di pedesaan heran mendapati anaknya yang sudah disekolahkan sampai pendidikan tinggi, malah gak kenek dipek gawene. Tidak bisa bekerja. Ini sudah menjadi keprihatinan penyair Rendra di tahun 70-an, seperti diungkapkan dalam puisinya ”Seonggok Jagung di Kamar”. Anak sekarang, melihat seonggok jagung, melihat sawah yang siap panen, atau diajak mencari ikan oleh ayahnya yang nelayan, akan merasa dan menjadi ”asing”, ”pekewuh”. Pertanyaan orangtua di desa menjadi valid: ”Untuk apa anak disekolahkan? Cuma buang-buang biaya saja.”

 

Meminjam pengalaman nyata dengan keponakannya, penulis buku mengkritik guru-guru yang suka memarahi siswa yang menjawab salah (meskipun jujur, tidak mencontek), dan memuji-muji siswa yang menjawab 100% benar (meskipun mencontek). Berdasarkan survai dan pengamatannya, kebanyakan orang sukses memiliki karakter budi pekerti seperti bertanggungjawab, menjunjung etika, bekerja keras, jujur, beriman dan bertakwa, hormat pada orangtua. Jarang sekali, nyaris tak ada, orang sukses karena dulu waktu sekolah nilainya bagus-bagus.

 

Dengan life-skill yang tepat, seorang anak desa yang tidak kuliah dapat memberi pekerjaan pada teman-temannya yang tamat perguruan tinggi dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Anak-anak yang tidak atau gagal sekolah, namun memiliki life-skill, akan menjadi enterpreneur yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Namun, mengapa kita mengabaikan pelajaran budi pekerti dan etika, lalu, malah sibuk mengikuti kursus atau mengkursuskan anak/murid ke berbagai kursus EQ, SQ, ESQ?

 

Gaya bahasa bertutur penulis yang renyah dan komunikatif membuat bukunya mudah dicerna. Ini sebuah buku tentang teori pembelajaran yang paling sederhana. Tingkat keterbacaannya (readibility) tinggi. Bahkan, bukan golongan pendidikpun akan menikmati membaca buku ini, dan melakukan refleksi atas apa yang telah diperolehnya semasa sekolah dan apa yang didapat anak-anaknya sekarang.

 

Dalam ilmu jurnalisme ada gaya bahasa ”jurnalisme sastrawi”, yaitu pelaporan berita (fakta) dengan menggunakan gaya bahasa sastra. ”Menggagas Pendidikan Bermakna” sedikit banyak menggunakan gaya bahasa tersebut. Substansinya ilmiah, namun penyampaiannya populer. Saya percaya buku ini akan menjangkau pembaca yang luas, tidak terbatas pada masyarakat keguruan dan pendidikan.

 

Bagi yang menekuni dunia pendidikan dan keguruan, buku ini wajib dibaca dan wajib dimiliki. Isinya padat dan bernas: gabungan antara kisah-kisah nyata hasil survai dan pengamatan, dengan teori-teori pendidikan klasik maupun modern, plus gagasan inovatif penulis di dunia pendidikan dan pengajaran yang mengusik kemapanan kita semua. Seusai membaca buku ini kita seperti dituntut menjawab pertanyaan: sudah bermaknakah pendidikan yang kita berikan pada anak/murid kita selama ini? Apa makna pelajaran matematika, ilmu bumi, sejarah, bagi anak-anak kita dalam hidupnya sehari-hari?

 

Setelah membaca buku ini kita juga akan semakin terusik: sudah benarkah track atau jalur pendidikan di negeri ini? Sudah benarkah arahnya? Kita berutang pada anak-anak kita. Bila kita salah membekali, kita akan mencelakakan mereka. Semoga sang penulis, Pembantu Rektor Unesa dan Direktur Tenaga Kependidikan Diknas RI, siap memimpin perubahan di dunia pendidikan di Indonesia.

 

* Sirikit Syah adalah alumnus Unesa, penulis, pecinta buku, dan ketua Klub Guru Jatim

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s