Sirikit Syah
Setting: sebuah pub di Oxford, almost midnight
Gadis Polandia bermuka pucat itu minum segelas air putih
Pada orang-orang, dikatakannya itu vodka
Cewek Palestina berambut coklat itu mereguk whisky
Sedang aku menuntaskan gelas ketiga pepsi
Orang-orang ribut berdiskusi tentang poligami
Semua protes ketika aku bilang setuju
“Kenapa?!” ramai-ramai mereka hujamkan pandang ke arahku
(terutama perempuan Mesir berwajah kakak tua itu)
“Karena mencintai adalah hak paling hakiki
dari segala pasal human’s right yang kita pelajari,” kataku sederhana
(Nah lo! Bukankah kita semua para pejuang human’s right?)
“Kalau suami kita mencintai perempuan lain,
cara apa yang lebih baik untuk tetap memiliki
selain memberinya permisi?” lanjutku
“Bagaimana kalau kita yang mencintai lelaki lain?”
tanya perempuan India dengan titik merah di jidatnya
“Oh itu lebih gampang,” jawabku
“Tinggalkan suami, kejar lelaki itu.”
Wanita katolik dari Irlandia itu menenggak sisa anggurnya
“Mengapa kita tidak boleh bersuami dua?
Itu tidak adil!” protesnya keras
Aku benar-benar terkesima
“Are you kidding? Who needs two husbands?
One is too many already!!!”