Oleh Sirikit Syah
Saya, yang sejak lulus dari IKIP Surabaya tahun 1984 menjadi wartawan kemudian menjadi dosen, di tahun-tahun belakangan ini agak iri dengan kemajuan dan perkembangan profesi keguruan. Bila diamati secara jujur, profesi guru mengalami perbaikan nasib yang jauh lebih baik dibanding profesi lain di Indonesia seperti petani, nelayan, buruh, polisi, tentara, dosen, bahkan wartawan. Jadi, tak ada alasan bagi para guru untuk mengeluh, sebetulnya.
Para tentara Indonesia (maksud saya yang level prajurit, bukan jendral) gaji bulanan dan uang lauk pauknya masih kecil dibanding pendapatan para guru. Bila kita melihat para prajurit diberangkatkan ke wilayah perang/konflik (seperti di Aceh atau Lebanon) dan kita melihat mereka berwajah cerah, itu karena dalam beberapa bulan ke depan mereka akan mendapatkan tunjangan tambahan, yang sangat lumayan bagi keluarganya. Tentu mereka tidak menghitung bahwa mereka bertaruh nyawa untuk itu. Wartawan, meskipun pers sudah bebas dan menerbitkan pers tak perlu SIUPP, kesejahteraannya masih di bawah guru. Padahal kerjanya 7/24 (tujuh hari 24 jam).
Polisi, ketika menerima uang dari pelanggar lalu lintas di jalan raya, akan dikecam. Demikian juga wartawan yang menerima amplop. Namun guru yang menerima bingkisan dari orangtua murid tidak apa-apa. Para orangtua pasti memberikan bingkisan dengan ikhlas dan senang hati, dengan rasa terimakasih, karena para guru telah membuat anak-anak mereka berpengetahuan. Guru yang baik, bila dipindah ke sekolah lain, akan ditangisi rekan-rekan guru dan murid-murid. Di profesi lain rasanya tak ada orang menangisi kalau kita pindah tempat kerja.
Saya mengintip sebuah portal, www.duniaguru.com, dan saya mendapati sebuah data menarik. Portal www.duniaguru. com pada Desember 2007 lalu telah melakukan jajak pendapat dengan pertanyaan ”Jika Anda seorang guru dan ‘diberi’ kesempatan untuk ganti profesi, maukah Anda?”. Jawaban para guru adalah tetap memilih profesi guru (55,8%), tetap sebagai guru dan mencari tambahan penghasilan (27,9%), ganti profesi (15,4%), bingung (1%). Ini berarti, lebih dari 80% guru ingin
setia pada profesinya. Artinya lagi, tingkat kepuasan menjalani profesi keguruan cukup tinggi. Tentu saja ini kabar baik, karena sulit kita membayangkan kalau para guru mogok atau ogah-ogahan menjalani profesinya.
Kelahiran Klub Guru sesungguhnya dilatarbelakangi niat baik keluarga Unesa (alumni maupun dosen, karyawan, dan mahasiswa Unesa) untuk melakukan sesuatu bagi almamater. Kami sering mengejek almamater ketika makan pecel di Warung Bu Koes di Bratang (sebelum rumah saya jadi sekretariat, warung ini jadi tempat nongkrong kami). “Kalau UPI Bandung itu singkatan dari Universitas Padahal IKIP …..” (UPI adalah jelmaan IKIP Bandung), sampai di sini kami tertawa-tawa; “Maka Unesa adalah ….. universitas nempel sawah.” Kami tertawa lebih keras, namun dengan rasa keprihatinan.
Untuk menunjukkan cinta almamater, kami memutuskan untuk melakukan sesuatu demi Unesa, kampus yang telah menjadikan kami orang, dan yang telah mendidik ribuan guru di seluruh Jawa Timur bahkan Indonesia Timur. Maka kami mulai berkomunikasi melalui mailing list dengan para guru dan kepala sekolah alumni IKIP Surabaya atau Unesa di manapun berada (ada juga yang merespon dari Amerika, Australia, Zelandia Baru). Kami menamakan diri ganesis (anggota keluarga unesa). Kami dari berbagai jurusan dan angkatan. Saya yang angkatan 79 dari bahasa Inggris bisa akrab dengan M. Ihsan dari Kimia angkatan 89. M. Ihsan kini menjadi Sejen Klub Guru. Bertipe entrepreneur sejati, arek Kimia ini selulus IKIP tak pernah menyinggung hal-hal kimiawi, malah menjadi konsultan IT di beberapa perusahaan besar.
Pengalaman mengelola organisasi keguruan juga menimbulkan nuansa lain dalam kehidupan saya. Banyak guru datang ke sekretariat yang juga rumah saya (rumah saya dulu juga kantor LKM Media Watch, yang kini sudah pindah ke Balai Wartawan/Gedung PWI Jatim). Seorang Waka SLTP datang dan mengobrol: ”Percayalah Bu, kalau menyelenggarakan seminar-seminar dan lokakarya, berapapun harganya, pasti dibeli oleh para guru.” (Pantas, belakangan tumbuh marak EO pelatihan keguruan, pikir saya sambil tersenyum).
”Tapi, guru kan pendapatannya pas-pasan pak, darimana mereka membayar seminar dan pelatihan yang bisa sampai 3-4 kali sebulan itu?
”Ya, ini investasi bu. Mereka mengumpulkan sertifikatnya untuk portofolio. Portofolio untuk sertifikasi. Sertifikasi untuk tambahan gaji.” (Sederhana, pikir saya).
Ada lagi seorang Kepala Sekolah di Sidoarjo menulis SMS: “Saya sangat mendukung Klub Guru dan ibu sebagai ketua. Saya ingin bergabung, bu.”
”Tapi, organisasi kami tidak cari uang lo pak. Tak ada nilai materinya.”
”Ibu, saya bukan tipe seperti itu,” balasnya dengan nada agak tersinggung.Setelah pertukaran SMS beberapa kali, kedua belah pihak yakin bahwa kami memiliki visi dan misi yang sama, yaitu meningkatkan kapasitas dan kualitas para guru.
Ada yang menelepon dari Magetan. ”Bu, kapan ada seminar atau lokakarya di Magetan?”
Lalu disambung, ”Tapi bu, parpolnya apa?”
”Kok begitu sih pak, pertanyaannya?”
”Yah, mana ada bu pengumpulan massa yang tidak didukung atau ditunggangi parpol. Apalagi di daerah-daerah.” (Saya jadi ingat beberapa Kadis Pendidikan mengerahkan guru dan GTT dalam program-program parpol tertentu).
Seseorang dari Malang berkirim email: ”Bu, kalau Bojonegoro batal launching, pindah ke Malang saja.” (Sedih juga, rencana launching Klub Guru tanggal 6 Januari di Bojonegoro harus batal karena kondisi alam. Namun tawaran dari kota lain menimbulkan harapan).
Yang saya tengarai dari wajah-wajah para bapak ibu guru, juga dari suaa-suara mereka di telepon (mereka suka sekali ngobrol bila dilayani dengan baik) adalah bahwa mereka menikmati profesinya. Jarang sekali guru berkeluh kesah. Seperti saya tulis di atas, memang guru sekarang tak punya alasan untuk berkeluh kesah. Harapan saya bersama Klub Guru, hura-hura sertifikasi ini segera lewat tahun ini, agar di tahun-tahun ke depan, para guru lebih konsentrasi pada peningkatan wawasan dan kualitas pembelajaran. Kesejahteraan bukan lagi persoalan.
Sebagai penutup seri tulisan ini, saya ingin mengutip apa yang pernah ditulis oleh Henry Brooks Adam, sejarawan dan penulis Amerika (The Education of Henry Adams), “A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.” Seorang guru memberi dampak pada kehidupan seseorang untuk seumur hidupnya, dia sendiri tak tahu kapan pengaruh itu berhenti.
Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi, membuktikan hal ini. Dan dia hanya salah satu dari jutaan manusia yang berutang pada para guru atas keberhasilannya.
ahhhh bener tuh bu, jadi guru memang tidak perlu lagi berkeluh kesah, selama masih jadi guru PNS. Yang swasta…rasanya masih boleh deh berkeluh kesah
Tapi saya sangat beruntung sekali, walaupun di waktu-waktu tertentu sang guru mengeluh, tapi dalam mengajar tidak pernah patah semangat. Hidup bapak dan ibu guru di Madina Islamic School.
Menjadi guru, insya Allah penuh keberkahan, asal dilandasi niat ikhlas. Menjadi guru, bagi saya yang pemula adalah belajar berproses bersama siswa untuk menjadi lebih dewasa.
Semoga apa yang di cita-citakan terrealisasi. Amiin
Malam-malam yang dingin……….
Wassalam
/SS