Mengenali Steven Spielberg


 

Sirikit Syah

(Penggemar Film)

 

            Banyak orang di dunia, termasuk di Indonesia, mengenal nama Steven Spielberg. Film-filmnya sangat terkenal, spektakuler dan selalu masuk daftar box office (terlaris). Namun mungkin jarang yang mengamati ‘kejiwaan’ Steven Spielberg. Lagipula, menonton film toh cuma hiburan. Keluar dari gedung bioskop, sudah lupa ceritanya. Tulisan ini mencoba memaparkan pengamatan saya terhadap ‘jiwa’ Steven Spielberg melalui film-film yang dibuatnya. Memang ini bukan hasil riset ilmiah. Ini hanya pendapat pribadi berdasarkan pengalaman dan pengamatan menonton film-film buatan Steven Spielberg.

 

            Saya baru tahu bahwa Steven Spielberg adalah salah satu, kalau bukan satu-satunya, insan film Amerika yang relijius, setelah saya menonton hampir semua filmnya. Di dunia industri film, Spielberg paling dikenal sebagai sutradara. Padahal sesungguhnya  dia juga terlibat dalam pembuatan film sebagai produser, penata special effect, penata kamera, bahkan penulis skenario.

 

Mungkin tidak terlalu mengherankan bila film-film Spielberg sangat laris dan terkenal. Dia sering dan banyak sekali membuat film berdasarkan buku yang sudah terkenal dan laris. Misalnya saja Jaws, The Color Purple, Empire of the Sun, Jurassic Park, dan Schindler’s List. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah bahwa ternyata Spielberg sangat mengutamakan nilai reliji dan moralitas manusia dalam film-filmnya. Saya dapat mengatakan demikian karena biasanya saya juga membaca buku-buku yang menjadi bahan film Spielberg.

 

Sebagai gambaran, banyak kisah-kisah perselingkuhan dalam buku, di film yang dibuatnya, kisah-kisah itu ditiadakan. Di novel Jaws (karya Peter Benchley), istri kepala polisi Brody berselingkuh dengan pendatang yang mengaku sebagai penangkap hiu, Hooper. Di film, bagian perselingkuhan dan adegan yang cukup panas itu tidak ada. Bahkan novel Jaws yang merupakan kisah tragis itu, di tangan Spielberg berubah menjadi film epik yang dahsyat. Demikian juga di film The First Encounter of the Third Kind, ada dua tokoh yang selain memiliki minat yang sama, mengalami keanehan-keanehan yang sama, juga saling tertarik secara fisik. Namun Speilberg tak membiarkan mereka terjerumus dalam perselingkuhan.

 

Yang paling jelas menggambarkan relijiusitas Spielberg adalah trilogi Indiana Jones-nya, terlepas agama apa yang hendak diutarakannya kepada audience. Di film pertama, Raiders of the Lost Ark, digambarkan kepercayaan Judaisme dengan cukup cermat seperti yang dikisahkan dalam Kitab Taurat (di sini saya teringat bahwa Spielberg berdarah Yahudi). Lalu di film kedua, The Temple of the Doom, Spielberg menunjukkan perhatiannya pada kepercayaan timur/Asia (Hinduisme). The Last Crusade, film Indiana Jones yang ketiga, mengupas kepercayaan Kristen. Tentu, semuanya dengan bumbu khas Hollywood.

 

Tokoh dalam Film

 

Spielberg juga kentara sekali percaya pada baik dan buruk, dan kebanyakan film-filmnya berbau mistis. Kalau toh ada persoalan dengan film Spielberg, mungkin tokoh-tokoh antagonisnya yang sering kekurangan motif atau motifnya lemah (lihat Jurassic Park), atau tokoh tak berotak (Duel, di mana tokoh antagonisnya adalah sebuah truk, serta Jaws, dengan tokoh antagonis seekor hiu ganas). Bahkan tidak jarang, filmnya tidak memiliki tokoh antagonis (Empire of the Sun, E.T.). Ada juga penjahat yang malah dicintai dan dielu-elukan rakyat banyak (Sugarland Express, dengan pemain Goldie Hawn yang sangat mengesankan). Lebih kontroversial lagi, tokoh yang diposisikan sebagai ‘si jahat’, ternyata adalah ‘malaikat’ bagi banyak orang (Schindler’s List). Apakah mungkin karena ketidaklaziman pakem perfilman yang dianutnya itu membuat Spielberg tidak disukai para kritikus film dan para juri festival film?

 

Tokoh dalam film Spielberg selalu orang biasa, orang kebanyakan. Sebelum melahirkan tokoh  Indiana Jones, Spielberg tak memiliki hero. Di semua film yang dibuat sebelum Indiana Jones, tokohnya bukan hero (dalam artian hero seperti yang dipahami audience perfilman). Indiana Jones konon dibuat karena Spielberg terpengaruh kesuksesan Superman, ditambah suasana Amerika saat Ronald Reagan baru saja menjadi presiden. Spielberg kemudian mulai menciptakan tokoh pahlawan. Namun, pahlawan yang diciptakannya masih berasal dari orang biasa. Harrison Ford dipilih sebagai dosen arkeologi yang lugu dan naif, sama sekali tidak seperti pahlawan. Keberhasilan-keberhasilannya bukan karena kekuatan fisik atau kekuatan supra natural, melainkan karena keberuntungan-keberuntungan dan kelihaian sebagai manusia berakal. Tokoh pahlawan jenis Indiana Jones ini kemudian mengilhami sineas AS lainnya. Pada masa itu, tahun 1980-an, beramai-ramai produser memproduksi film-film bertema sama; King Somolon’s Mines, Jewel of the Nile, The Lost City of Gold, Romancing the Stones (dilakoni oleh Richard Chamberlain atau Michael Douglas). Lalu, awal 1990-an, muncul tokoh lugu dan naif di era modern, Bruce Willis dalam Die Hard (1 sampai 3), kisah tentang polisi biasa yang terjebak dalam situasi sulit dan ‘terpaksa’ menjadi hero.

 

Latar belakang

 

            Latar belakang keluarga Spielberg yang penuh kasih sayang, membuatnya seringkali memberikan sentuhan keluarga, rasa kebapakan, peran ibu, dalam film-filmnya. Sebagaimana keluarga ‘Yahudi’ umumnya, pendidikan keilmuan dan kesenian diajarkan sejak dini dalam keluarganya. Ketika Spielberg masih anak-anak, ayahnya suka membawanya ke tanah lapang pada malam hari, lalu keduanya berbaring berdampingan, menatap langit dan memandangi bintang-bintang. Ayahnya mengajarinya mengagumi kebesaran Tuhan. Ibunya pun kerap membawanya menonton film. Ketika menonton film Pinocchio, Spielberg terkesan pada lagu “When you wish upon a star … makes no difference who you are … Anything your heart desires will come to you …”. Dia merasa tergugah. Dibekali ‘pengalaman angkasa’ bersama ayahnya, Spielberg bertekad suatu hari kelak dia akan membuat film tentang angkasa luar dan bintang-bintang. Ketika dia masih siswa sekolah, ayahnya tak segan-segan membiaya film-film eksperimennya.

 

            Bila E.T. dan Jurassic Park tercatat sebagai film terlaris sepanjang masa, filmnya yang berjudul 1941 merupkan salah satu (atau satu-satunya?) yang gagal di pasaran. (Film ini tidak diputar di Indonesia, saya beruntung menontonnya di AS). Ini pertamakalinya dia mencoba membuat film komedi. Secara teknis (sinematografi dan special effect), film ini luar biasa. Sebetulnya ceritanya juga cukup bagus. Sayang, karena dimaksudkan untuk lucu, film itu jadi tidak lucu.

 

            Menurut Douglas Brode, pengamat perfilman Amerika (buku-buku yang telah ditulisnya antara lain tentang Dustin Hoffman, Jack Nicholson, Woody Allen, Robert de Niro, dll), hanya ada tiga movie maker hebat saat ini. Mereka adalah Francis Copolla (serial Godfathers), Martin Scorcese (Taxi Driver), dan Spielberg. Apakah Brode tidak menyebut nama Akira Kurosawa dan Bernardo Bertolluci karena keduanya bukan orang Amerika? 

 

            Mungkin karena Brode mengistilahkan dengan khusus: ‘movie maker’, bukan ‘director’. Sebetulnya ada dua golongan sutradara film: mereka yang menyutradarai para aktor (director), dan mereka yang menyutradarai hal lain selain aktor (movie maker). Sidney Lumet, Pollack, Kenneth Brannagh, dan banyak sutradara Inggris dan Perancis tergolong yang pertama. Sutradara semacam ini biasanya sangat dicintai aktor-aktornya, sebab dari tangan sutradara macam inilah lahir aktor-aktor hebat. Spielberg tergolong yang kedua. Dia menyutradarai gerak kamera, para editor (penyunting gambar), special effect, bahkan para penulis skenario! Hasilnya memang hebat. Sebagai kesatuan tontonan, filmnya luar biasa. Tapi jarang sekali (mungkin tidak pernah) lahir aktor besar dari tangan Steven Spielberg (bandingkan dengan Copolla dan Brannagh yang melahirkan aktor aktris handal). Bagi Spielberg, aktor bukan faktor penting. Sebagian besar pemain filmnya tidak terkenal, baik sebelum atau sesudah dia pakai dalam produksinya.

 

            Bila diamati filmografinya, sebetulnya Spielberg tidak hanya menelurkan karya-karya komersial (laris secara komersial). Banyak juga karya-karya seninya, seperti The Color Purple, yang meraih 9 nominasi Oscar tahun 1985. Ketika tak satupun piala Oscar diterima oleh film itu, publik pemerhati film AS heboh. Saya yang juga membaca bukunya, sangat terkesan dengan kesetiaan Spielberg pada buku. Ceritanya dan settingnya memang sangat mengesankan. Whoopi Goldberg kalau tidak salah dikenal di dunia film pertamakali dari film ini.  Bahkan 1941 dapat digolongkan sebagai karya seni. Dia juga pernah membuat film cinta yang romantis (Always). Hampir semua film Spielberg merupakan pembaharu pada zamannya, dan gayanya diikuti oleh sineas-sineas lainnya. Selain model kepahlawanan ‘kebetulan’ dari orang biasa yang lugu seperti Indiana Jones yang diikuti genre pahlawan sejenisnya oleh sineas lainnya, simak juga film-film luar angkasanya yang kemudian banyak diproduksi oleh George Lucas. Bahkan genre film ‘hewan besar’ seperti Jurassic Park telah diikuti oleh lusinan karya sejenis, seperti Crocodile, Comodo, dll.

 

            Setelah bertahun-tahun menekuni industri film, ironisnya, baru pada tahun 1994 Spieberg meraih Piala Oscar sebagai sutradara terbaik, puncak prestasi seorang sineas. Filmnya, Schindler’s List yang merupakan kisah epik tentang Holocaust, disukai para pemilih di Academy Awards (sayang film ini juga tidak diputar di Indonesia). Setelah itu, Spielberg masih beberapa kali membuat film-film ‘hebat’ seperti Amsitad (kisah perbudakan di AS) dan Saving Private Ryan. Tapi, yang laris manis, tetap saja Jurassic Park (1,2,3).

 

 

Filmografi Steven Spielberg

 

1. Duel                                                                              1971                sutradara

2. The Sugarland Express                                        1974                sutradara

3. Jaws                                                                             1975                sutradara

4. Close Encounters of the Third Kind                1977                penulis & sutradara

5. 1941                                                                             1979                sutradara

6. Raiders of the Lost Ark                                        1981                 sutradara

7. Poltergiest                                                                 1982                produser & skenario

8. E.T. (The Extra Terrestrial)                                1982                 produser & sutradara

9. Twilight Zone, the movie                                     1983                produser & sutradara

10. Indiana Jones & the Temple of the Doom  1984                sutradara

11. The Color Purple                                                   1985                produser & sutradara

12. Empire of the Sun                                                 1987                produser & direktur

13. Indiana Jones and the Last Crusade             1989                sutradara

14. Always                                                                      1989                 produser & sutradara

15. Hook                                                                          1991                 sutradara

16. Jurassic Park                                                          1993-2000   sutradara

17. Schindler’s List                                                      1993                produser & sutradara

18. Amistad                                                                    1998                 produser & sutradara

19. Saving Private Ryan                                            1999                 sutradara

20 dst …..

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s