Manusia lebih berharga daripada minyak
Sirikit Syah
Reaksi pertama ketika Anda membaca judul ini pastilah, “Tentu saja.” Namun mari kita jujur pada diri sendiri. Sejauh pengalaman dan pengamatan saya, selama ini kita bangsa Indonesia tidak benar-benar mempercayai itu. Kita lebih sering menyesali bahkan mengumpat diam-diam atas ”kutukan” mempunyai 230 juta rakyat yang kita anggap membuat negara bangkrut. ”Memang susah mengurus negara dengan 17 ribu pulau dan 230 juta penduduk.” Kita menganggap rakyat adalah beban, bukan berkah.
Angan-angan kita adalah sebuah negara kecil dengan sumber daya alam melimpah ruah dan jumlah penduduk sedikit saja, sehingga setiap rakyatnya sejahtera. Mungkin seperti Brunei Darussalam?
Brunei memiliki hanya sekitar 350 ribu penduduk di seluruh negeri. Ibukota Bandar Seri Begawan dan sekitarnya dihuni oleh sekitar 150 ribu orang. Dari 350 ribu penduduk itu, 100 ribunya adalah orang asing, 30 ribu di antaranya tenaga kerja Indonesia. Karena minyaknya berlimpah ruah, semua fasilitas rakyat dibangun dengan megah. Sekolah-sekolah dari TK sampai sekolah menengah dan kejuruan, bagus fasilitasnya. Demikian pula perguruan tinggi. Mendapatkan beasiswa dari pemerintah adalah “hal biasa”, termasuk ke luar negeri (bandingkan dengan penerima beasiswa di Indonesia yang mesti bersaing dengan ribuan calon). Tak hanya pendidikan, perdagangan juga mendapat perhatian. Mal-mal dan pertokoan, semua megah. Masjid-masjid mewah.
Namun di tengah kemegahan itu, saya merasakan kehampaan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Mal megah itu sepi sekali pada hari biasa. Banyak mobil parkir, sampai meluber, namun mengapa mal-nya sepi? Ternyata itu mobil-mobil para pemilik dan penjaga/pegawai toko. Bahkan petugas kebersihan (yang memunguti sampah) datang di tempat kerja –di gedung pertokoan- dengan mobil sendiri. Toko-toko memiliki window display yang sangat menarik, tetapi jarang sekali orang masuk. Banyak toko tutup karena sepi tak ada pembeli. Sebuah ruko bagus mangkrak sekitar 8 tahunan karena tak ada yang menyewa. Plaza-plaza hanya ramai di bawah, lantai atas kosong melompong. Di sebuah pasar malam yang terkenal karena masakan matangnya, saya melihat lebih banyak yang berjualan daripada yang membeli.
Saya bertanya-tanya, bagaimana mereka, para pedagang ini survive? Ternyata bantuan kerajaan sangat “crucial”, termasuk bantuan kemudahan utang bank. Para pedagang Brunei sangat bergantung pada utang bank. Begitu juga para konsumen. Kata Chiew Chew Phoong, lelaki China kelahiran Brunei yang berpaspor Singapura, ”Para pegawai di sini menghabiskan 60% gajinya untuk bayar utang bank, lalu membelanjakan 30% lainnya untuk kebutuhan konsumtif pada minggu pertama, dan bokek hingga akhir bulan. Itu sebabnya pasar dan toko hanya ramai pada minggu pertama dan sepi selama tiga minggu berikutnya.”
Melihat suasana megah namun sepi ini, saya menyimpulkan, orang-orang Brunei hidupnya sangat tergantung pada belas kasihan sultan. Rumah dan tanah dibagi-bagi oleh sultan. Yang belum kebagian, meski telah menunggu hingga 20 tahun, tidak bisa protes, wong itu anugerah kok. Suka-suka raja kan anugerah diberikan kepada siapa dan kapan? (Kasus rakyat menunggu puluhan tahun sampai meninggal dunia ini, tentu saja tidak terekspose). Rakyat merasa, kalau sakit ada yang nanggung, kalau pensiun ada yang ngasih makan, anak-anak ada yang membiayai sekolahnya. Aman, nyaman, tentram. Tak ada kebutuhan dan dorongan untuk berjuang.
Di sela-sela kemegahan dan kenyamanan hidup orang Brunei yang namun sepi ini saya merindukan susana ”hidup” di kota-kota di Indonesia. Pasarnya pasti ramai pembeli. Jalan rayanya tak hanya dipenuhi mobil, tapi juga becak dan sepeda yang seperti rayap. Yang tak bisa jadi PNS bergeliat di sektor swasta, jadi pedagang kaki lima atau buka warung, tambal ban, dll. Mal-mal penuh pada hari biasa meskipun parkir mobil tidak penuh, karena kita semua datang dengan sepeda motor atau angkot (bemo, bus kota). Di Indonesia, mobil tidak tampak tapi manusianya banyak, di Brunei banyak mobil parkir di mal tapi orangnya tak nampak. Kemarin saya ke Giant di Pondok Chandra, ratusan orang berbelanja berdesakan. Di sebuah supermarket seperti Giant di Brunei, yang belanja tak lebih dari 10-20 orang.
Lalu, mengapa saya katakan ”orang lebih penting daripada minyak”? Saya menilai, dalam jangka panjang, rakyat Brunei akan mengalami kesulitan besar. Sumber minyaknya tidak langgeng, akan menyurut dalam beberapa tahun lagi. Kemudian, pada dasarnya orang Brunei bukan pencipta alias tidak kreatif. Mereka tak bisa bertukang, berkebun, bercocok tanam. Mereka hidup dari menangkap ikan di sungai dan laut dan tak pernah hidup di darat sampai Inggris datang dan membangun daratan. Asumsi saya bahwa mereka tak hidup di darat ini terbukti dengan tak adanya jejak kendaraan darat. Di banyak negara pasti ada kendaraan semacam becak, rickshaw (becak ditarik orang), dan berbagai jenisnya. Paling kuno adalah dokar/delman atau pedati ditarik kuda atau sapi. Di Brunei alat angkut semacam itu tidak pernah ada. Orang Brunei langsung naik mobil dari era naik perahu.
Karena tak pandai memproduksi, hampir semua barang konsumtifnya impor (ayam, sayur, buah, dll). Kengerian saya melihat bangsa yang ’dimanjakan’ itu disebabkan saya melihat sikap bangsa Brunei yang sangat bergantung pada anugerah dan belas kasih sultan. Begitu yakinnya mereka pada kebijakan sang sultan, mereka tidak mendidik diri sendiri untuk bisa berbuat, mencipta, berkreasi. Lebih ngeri lagi saya melihat betapa perekonomian tidak tumbuh sehat karena pasarnya sangat kecil. Di negara Amerika, Jepang, India, China, atau Indonesia, orang berlalu lalang di jalan, naik turun dan keluar masuk angkot, subway, metro, menyebabkan toko-toko dan warung warung PK5 hidup. Di Brunei tidak ada orang berjalan kaki. Mobil membawa mereka dari satu tujuan ke tujuan berikutnya secara langsung, tidak mampir-mampir, sebuah opportunity yang nihil bagi para pedagang asongan atau PK5 di sepanjang jalan. Tak ada orang mampir beli sesuatu, perdagangan seperti mati.
Di Brunei saya berpikir tentang India, China, Indonesia. Memiliki banyak orang jauh lebih berharga daripada banyak minyak. Minyak bisa habis dan kalau manusia tak terlatih, negara menunggu kehancurannya. Banyak manusia membuat sang manusia bergeliat, berkompetisi, berproduksi, berkreasi. Kalau tidak kreatif dan produktif, siapa yang mau kasih makan? Presiden SBY? Jusuf Kalla? Mbak Tutut?
Indonesia memiliki banyak SDM, plus SDA. Sempurna. Kalau kita masih terpuruk, saya kira karena kita selalu memilih pemimpin yang salah. Kita sebagai rakyat, baik-baik saja, bisa survive tanpa belas kasihan. Biarpun negara bangkrut, rakyat bisa menjual ketrampilan dan keahlian personalnya (pertukangan, perkebunan, pertanian, seni, produksi, perdagangan, dll). Di negara kaya yang minim SDM, bila pemimpin serakah atau SDA menyusut, rakyat yang tak bisa apa-apa karena hidup dimanja akan kehilangan eksistensinya.
Sementara putus dulu, supaya pembaca tidak jenuhJ