Akhirnya, penyanyi jazz romantis ini mampir juga ke Indonesia, dan ke Surabaya. Setelah dianak-tirikan oleh promotor, Surabaya masuk peta persinggahan musisi dunia. Sebelumnya, sebagai warga Surabaya, saya agak gondhok juga ketika musisi seperti Al Jearou, George Benson, Baby Face, tampil di Jakarta dan tidak mampir ke Surabaya. Syukurlah Michael Franks diajak mampir. Saya yang telah mengenal lagu-lagu MF sejak umur 21 tahun (tahun 1981), dan memiliki hampir semua albumnya, seperti mendapat hadiah akhir tahun ketika berkesempatan menyaksikannya Face to Face (seperti salah satu judul lagunya).
Mula-mula memang ada di antara teman-teman yang bertanya: ”Michael Franks, siapa ya? Apa lagunya?” Atau ada juga yang reaksinya begini: ”Oh, yang ganteng dan kumisnya tebal itu ya?” Memangnya Pakde, dikenal karena kumisnya? Tak banyak yang kenal Michael Franks rupanya.
Bagaimanapun, sedikit penggemar MF di Surabaya akhirnya dimanjakan: Michael Franks menyanyi live di hotel Shangri La, Minggu malam lalu. Agak mengejutkan juga ketika Franks muncul di atas panggung (yang agak ketinggian dan terasa kurang akrab itu). Orangnya sudah sepuh banget, tubuhnya sudah agak membungkuk, rambutnya putih, termasuk kumisnya yang terkenal itu. Selama ini kita hanya menyimpan wajahnya seperti dalam cover album: lelaki macho, agak berbau latino, rambut hitam, kumis tebal, masih muda.
Dan, betul juga kata sahabat saya dr. Ario Djatmiko yang sudah pernah menonton Franks di Belanda sekian tahun lalu: ”Penampilannya tidak attractive. Kalau cari pertunjukan hebat, akan kecewa. Tapi kalau suka lagu-lagunya, akan memuaskan.” Franks menyanyi tanpa gaya. Berdiri begitu saja di depan microphone sambil membawa perkusi. Dia bahkan tidak banyak berinteraksi dengan penonton.
Namun suaranya memang luar biasa. Penonton terhanyut, terbuai oleh suaranya yang mendesah, merayu, membawa suasana romansa di ruangan. Diiringi oleh pemain piano, drum, bas, dan terompet/flute, Franks bernyanyi dengan sederhana. Kualitas dan warna vokalnya yang khas membayar lunas rasa haus penggemarnya. Meskipun terasa ada sedikit perbedaan aransemen lagu yang dibawakan secara live dengan yang sering kita dengar dari album-albumnya, keindahan komposisi melodinya tak sempat memunculkan rasa kecewa. Memang band-nya agak minimalis. Dr. Ario Djatmiko, musisi jazz Surabaya yang duduk di samping saya, mengomentari kurangnya elemen gitar dalam komposisi band-nya. ”Kalau membawakan lagu-lagu bosas, gitar adalah elemen utama,” ujar dr. Ario.
Sesekali ditemani vokalis pendamping (perempuan), Franks menyanyikan lagu-lagunya yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Dari jempol kaki (Popsicle Toes), terong yang dimasak dalam 19 cara (Eggplant), cinta monyet (Monkey See Monkey Doo), sampai toples kue yang kosong (Cookie Jar is Empty).
Konser dibuka dengan lagu Face to Face, lalu berkelanjutan lagu-lagu Franks yang sudah amat akrab di telinga kita: Down in Brazil, The Lady Wants To Know, When I give My Love To You, Tiger in the Rain. Setelah membuai penonton dengan lagu-lagunya yang berirama bosas, jazzy, sedikit blues, diselingi penampilan tunggal masing-masing musisi (piano, terompet, drum, bas), tiba-tiba Michael Frank dkk pamit mundur. Penonton kontan meneriakinya untuk kembali. Bagaimana mungkin dia meninggalkan panggung sebelum melantunkan Antonio’s Song?
Tak berapa lama kemudian, Michael muncul kembali bersama sang pianis, dan mengalunlah lagu berirama lambat, menonjolkan vokal Michael Franks dengan piano hanya sebagai ilustrasi (nyaris acapela). Michael melantunkan Mr. Blue yang syahdu. Setelah itu, sebagai imbuhan kedua, anggota band bermunculan kembali secara lengkap, dan ….. hadiah bagi penonton: Antonio’s Song.
Malam itu Michael Franks banyak melantunkan lagu-lagu dari album lamanya One Bad Habit, Blue Pacific, Camera Never Lies. Sayang tak banyak yang dia nyanyikan dari albumnya dari tahun 2004, Dragonfly Summer. Menurut saya, ini album terbaiknya (selain One Bad Habit yang dibuat tahun 1980). Banyak lagu-lagu yang bagus dengan variasi irama di album ini. Album terakhirnya Love Songs (2006) hanya daur ulang dari lagu-lagu lamanya yang berunsur cinta. Salah satu memang dinyanyikannya, When I give My Love to You.
Bagaimanapun, penggemar Michael Franks cukup dipuaskan oleh kehadirannya malam itu. Tak perlu berpenampilan heboh, tak perlu gaya, dan cukup dengan rombongan musisi yang minimalis. Yang penting ada Michael Franks, dan suaranya yang menghanyutkan itu …….. .
We live,
We love, we laugh, we cry
We never die, and now
I think of you and I
change my name to Mister Blue
……………..
……………
………….
Sirikit Syah