Perilaku Konsumtif dan Koruptif orang Brunei
Sirikit Syah
Saya sering dibuat tersinggung dengan pembicaraan di ruang redaksi yang didominasi redaktur asal Malaysia karena perkara korupsi. Tak jarang mereka nyeletuk, “Indonesia tuh luar biasa ya korupsinya.” Lain kali, “Masak saya bawa bantuan ke Aceh, dipalak sama polisi Aceh.” Meski saya kritikus di negeri sendiri tetapi rasa nasionalisme saya terusik juga. Teman baik saya adalah Chiew Chee Phoong, yang mengkritik negeri sendiri (Brunei) karena diskriminasi terhadap keturunan China seperti dirinya. Juga Haji Bujang, mantan Dirjen Penerangan yang menjadi Pemred di Brunei Times.
Setelah Brunei dilepas oleh Inggris pada tahun 1984, hanya etnis Melayu yang mendapatkan kewarganegaraan Brunei. Sebeleumnya, semua orang memegang paspor Inggris. Sejak 1984, etnis China mesti pergi ke LN mencari kewarganegaraan. Ada juga yang bertahan tinggal tetapi dengan status PR (permanent resident). PR ini baru dapat kewarganegaraan dan mungkin hadiah rumah dan tanah kalau dia menjadi mualaf. Chiew berkelana puluhan tahun menjadi wartawan di Taiwan, Hong Kong, China, Singapura, dan mendapat paspor (kewarganegaraan) Singapura. Dia kembali ke Brunei sebagai konsultan redaksional. Dalam emailnya baru-baru ini menanggapi kasus pemukulan wasit Donald, dia berkata, “Polisi Malaysia adalah salah satu yang terkorup di dunia. Akan saya ceritakan lebih lanjut kelak.”
Suatu hari ada berita diplomat di Kedubes Brunei di Jakarta didakwa korupsi. Tentu saja berita itu hanya berita dari agen berita asing. Di RTB (Radio Televisi Brunei) dan di koran-koran termasuk Brunei Times, tidak ada berita itu. Toh, di kalangan redaktur, hal itu dibicarakan. Lagi-lagi, para redaktur Malaysia itu berkata: “Gila orang-orang Indonesia itu, sampai menyuap pejabat Kedutaan Brunei segala.” Saya naik pitam. Saya angkat bicara: “Dengar kawan-kawan, ini kasus korupsi pejabat Kedutaan Brunei. Bukan pemasok tenaga kerja Indonesia. Jangan belok dong. Memangnya tak mungkin orang Brunei korupsi? Perbuatan korupsi itu ibarat menari tango, it takes two to tango. Tidak bisa dilakukan sendirian. Dan yang diadili sekarang adalah sang pejabat Brunei. Bukan orang Indonesia. Jangan lupa ya.”
Dari kawan yang lain, seorang yang juga bekerja di Kerajaan Brunei, saya dapati perhitungan bahwa Brunei bisa jadi lebih koruptor daripada Indonesia. Namun teman-teman intelektual Indonesia yang masih bekerja di sana (kebanyakan dokter di rumah sakit atau dosen di UBD-Universiti Brunei Darussalam) agak enggan membahas hal ini, bahkan minta anonim ketika menyerahkan data-data pada saya.
Tampak musykil bila dikatakan Brunei lebih korupsi daripada Indonesia. Kita ubah saja bahasanya. PNS di Indonesia mungkin jumlahnya tak lebih dari 5% jumlah penduduk, sedangkan PNS Brunei angkanya lebih dari 30%. PNS Brunei punya kebiasaan: pagi jam 9-10an keluar kantor minum kopi, siang jam 12-13an makan siang, menjelang sore jam 2-3an jemput anak sekolah, jam 4 pulang. Teman pekerja Indonesia yang ingin bertahan di kantor diusir karena kantornya akan dikunci. Itu artinya: tidak efesien dan tidak produktif (bahasa halus dari korupsi waktu).
Di Indonesia, tidak ada kebiasaan minum kopi pagi hari dan jemput anak sekolah (anak-anak Indonesia amat sangat mandiri, sejak SD sudah bisa pulang sendiri, bahkan naik angkot/bemo. Di Bunei nyaris tak ada angkot sehingga orangtua –para ayah- menjemput anak-anak pulang sekolah). Secara prosentase, penggerogotan uang negara/kerajaan oleh pegawai negerinya pada jam kerja lebih tinggi di Brunei daripada di Indonesia.
Dalam hal konsumsi, orang Brunei gemar sekali membeli mobil. Bosan satunya, beli lagi yang baru. Semua dengan kemudahan utang bank. Hand phone saja bisa dicicil sampai tiga tahun. Saya mau beli cash, pedagang di toko keheranan, ”Tumben ada orang beli HP cash?”
Rasio kepemilikan mobil di Brunei merupakan yang tertinggi di dunia, kira-kira 1:2 (ada sebuah mobil untuk dua orang Brunei). Kenyataannya, hampir semua orang punya mobil, termasuk para satpam dan para petugas kebersihan. Turis dan pendatang saja yang menggunakan jasa bus kota yang jadual dan rutenya amat jarang dan jam 6 sore sudah berhenti beroperasi. Pemimpin redaksi saya yang punya empat anak minta saya menebak berapa jumlah mobilnya. Saya pikir, kalau setiap anak dapat satu, maksimal mereka punya 6 mobil. Toh saya bilang ”Tujuh.” Eh, ternyata salah. ”Mobil saya sembilan,” katanya bangga. Dia sering mengajak saya jalan-jalan dengan mobil berganti-ganti, Innova terbaru, Lexus, BMW, dll.
Rumah-rumah di Brunei berhalaman lapang. Sejelek apapun rumahnya, di halamannya selalu terparkir mobil keluaran terbaru, jumlahnya paling sedikit dua, dan bisa sampai 8-9. Mula-mula saya kira ada arisan keluarga, namun ternyata itu kondisi normal. Tiap rumah mobilnya ya segitu itu, mungkin sesuai jumlah anggota keluarga. Para penghuni Kampung Ayer (baca: Kampung Air), yaitu rumah-rumah panggung yang berdiri di tengah-tengah sungai, juga punya mobil. Ada ratusan bahkan ribuan mobil diparkir di seberang sungai, maklum rumah di sungai kan tak punya garasi? Orang-orang ini berperahu dari dan menuju daratan, lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil-mobil keren mereka.
Orang Brunei sangat mudah tergoda oleh barang konsumtif. Mobil dan HP misalnya, mereka selalu mengikuti yang terbaru, sering ganti. Maklum, pajak memang rendah sehingga harga mungkin lebih murah daripada di sini. Namun juga karena sistem kredit. HP saja bisa dicicil dan sebulan membayar serendah 2 ringgit (Rp 11.600) selama beberapa tahun. Saya tak habis pikir, bensin mobilnya saja berapa untuk datang ke toko bayar cicilan 2 ringgit? Betul-betul tidak rasional.
Dalam bulan Juli kemarin terjual sekitar 1500 mobil baru, untuk penduduk Bandar Seri Begawan yang jumlahnya sekitar 150 ribu. Bila ada model baru dipasarkan, mereka buru-buru ganti/tukar yang baru, yang lama ditinggalkan di dealer-dealer mobil second-hand (mobil second-hand ini biasanya dibeli oleh para pekerja pendatang asal Indonesia, Filipina, Pakistan, India). Bila ada peluncuran mobil baru, beritanya bisa jadi headlines suratkabar. Saya “senyum kecut” juga hampir setiap hari mesti memasang berita-berita jualan mobil baru itu di halaman Home (Nasional), lengkap dengan foto-foto pengguntingan pita, buka selubung, lalu profil mobilnya. Satu berita peluncuran mobil, fotonya bisa dua, ukuran tiga kolom. Di Indonesia, informasi semacam ini masuk halaman iklan, bukan berita.
Namun, meski konsumtif, apakah pria Brunei royal? Seorang perempuan Indonesia yang tinggal 16 tahun di Brunei, kosmetika kecantikan yang dijualnya termasuk leading di sana, mengaku masih single karena tidak tertarik dengan laki-laki Brunei. Ditanya mengapa, wanita cantik asal Bandung yang punya 20 anak buah di Bandar Seri Begawan itu menjawab diplomatis, ”Tinggallah di sini lebih lama, kau akan tahu sendiri jawabannya.”
Beberapa pelayan restoran langganan saya menceriterakan hal yang sama dengan gaya bahasa berbeda. ”Temanku banyak mbak yang mau digendhak orang Brunei. Habis gimana, gaji gak dibayar-bayar sama majikan. Tapi laki-laki Brunei itu medhit banget. Kalau ngasih uang seringgit dua ringgit, seringkali tidak. Cuma mau pacaran saja gak mau tanggungjawab,” ujar Rasmini, tukang masak sekaligus pelayan Cafe Gaza di kawasan Gadong.
Beberapa kali saya diajak makan oleh petinggi koran –yang tentu saja kaya, saya mencatat: mereka tidak pernah meninggalkan tips di meja makan. Sekali bahkan pernah mereka membayar kurang sekian sen, lalu pura-pura sibuk cari di dompet dan di saku, sampai pelayan restoran bilang, ”Ya sudah Tuan, tidak apa-apa yang 14 sen. Ini saja cukup.” Kalau orang Indonesia yang membayar, pastilah tak ada urusan sen-senan. Keluar 13,5 ringgit saja, saya misalnya, bayar 15 ringgit dan kembaliannya saya tinggalkan. Kebiasaan itu tidak ada di Brunei. Pembeli lebih baik bayar kurang dan dimaklumi oleh pihak restoran, daripada bayar lebih dengan tips.
Susi, perempuan Medan bersuamikan lelaki Brunei juga mengeluh, ”Orang Brunei itu mobilnya keren, tapi dompetnya kosong. Gak ada duitnya. Kalau ada, pelit.” Seorang pejabat di KBRI mengisahkan kisah-kisah TKW yang lari dari majikan: ”Mereka berbulan-bulan tidak dibayar. Kalau dibayar oleh salah satu majikan, keesokan harinya majikan satunya datang mengutang uangnya. Jadi para PRT kita itu bukannya dibayar, tetapi diutang, ya tenaganya, ya uangnya.”
Kebiasaan dan kenyataan itu tentu ironis dengan gambaran serba wah orang Brunei. Rumahnya bagus, mobilnya keren, dan mereka konsumtif. Uang mereka dibelanjakan untuk hal-hal yang tampak wah di permukaan. Agus Djamil pernah diminta turun dari kantornya di lantai atas oleh rekan kerjanya hanya sekadar untuk dipameri mobil barunya. ”Lihat mobilku yang baru beli kemarin, keren ya?”
Mereka tak punya tabungan. Tabungan mereka adalah ”anugerah dan belas kasih sultan”. Hidup memang sejahtera di Brunei. Namun belakangan ini bank-bank tampak sudah kewalahan dengan menumpuknya kredit yang tak terbayar. Mereka melakukan kampanye ”mengelola keuangan dan menabung” bagi masyarakat yang gila belanja itu.
Berhenti lagi ya, dilanjut besok terakhirJ
Bagus bu tulisannya,bisa jadi bekal informasi buat saya. February ini saya mau kesana untuk bekerja di salah satu bank di Brunei. Kalau ibu berapa lama ya di Brunei? Rencana sih saya juga ngga mau lama2 disana, masih lebih senang di negri sendiri.
Simak dengan seksama Sketsa Brunei 1 – 3, Anda sudah mendapatkan 3 bulan pengalaman saya disana. Saran: segera hubungi tokoh masyarakat Indonesia di Brunei (Bp. Agus Djamil), Anda akan mendapatkan teman, saudara dan kemudahan-kemudahan dirantau.
Semoga sukses.
Salam
Sirikit Syah
Seru deh baca seri ini. Ternyata banyak hal-hal tentang Brunei yang sama sekali tidak terbayangkan oleh saya sebelumnya. Lain kali, kalau ada pembantu saya yang berminat untuk bekerja di Brunei, saya wanti-wanti dulu sebelumnya kali ya, atau saya suruh baca sendiri artikel ini.
Salam,
Bteul, tadinya saya juga “tergoda” gaji tinggi di Brunei. Makanya saya pergi, meninggalkan peluang saya menjadi Rektor di Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya. memang gajinya besar sih, tetapi ….. kisah-kisah di Sketsa Brunei menjawab rasa penasaran kawan dan kerabat tentang mengapa saya pulang, lalu mulai dari NOL lagi di Surabaya pada pertengahan tahun 2007. Semoga catatan saya ini dibaca banyak orang, lalu menjadikan pelajaran agar tak banyak lagi orang jadi TKI/TKW di Brunei, lebih baik berusaha di negeri sendiri. Apapun jenis usahanya:).
sirikit