Istri Kita
Pagi hari ia bangun
menuju kamar mandi
kenakan busana modis
dan menoreh gincu di bibir yang membiru
Sambil memberi perintah pada pembantu
istri kita menyambar tas dan sepatu
Cium pipi suami
dan anak-anak yang masih dibuai mimpi
kemudian berangkat demi sesuap nasi,
atau segenggam berlian? Siapa peduli
Senyumnya cerah menantang dunia
menjadi diri sendiri
bukan lagi nyonya Hasan atau Ibu Bakri
Melebur dalam kehidupan modern
di balik dinding kaca bangunan berlantai sepuluh
bergaul dengan komputer dan mesin fotokopi
dikagumi rekan sekerja,
Terutama pria –tentu saja!
Ketika matahari telah lama mengistirahatkan diri
lembayung senja berganti langit hitam kelam
istri kita baru kembali
anak-anak sudah tidur lagi,
suami lebih konsentrasi pada bola di televisi
Istri kita tanpa mandi
berganti daster lusuh yang tidak seksi
(suami toh bukan orang lain yang perlu disiasati).
Sirikit Syah 1996