Sirikit Syah
“Apa yang membuatmu gundah, Nak? Tanyaku.
“Aku malu mengatakannya kepada ibu,” jawab anak perempuanku sambil tetap memeluk lututnya yang berbalut jins ketat. Dia duduk di ambang jendela dalam kamar tidurnya, dan aku duduk dihadapannya.
“Katakanlah, mungkin ibu bisa membantumu.”
Matanya menjadi basah. Kupandangi wajah gadis dua puluh empat tahun, satu-satunya anakku ini. Rambutnya hitam, lurus, panjang. Bentuk wajahnya bulat telur, dihiasai mata inidah bercahaya. Hidungnya mancung, bibirnya mungil namun penuh. Tapi bukan cuma kecantikan wajah atau keindahan tubuhnya yang menjadi kebanggaanku selama ini. Dia juga memiliki kepribadian yang amat menarik: periang, penuh inisiatif, penuh perhatian kepada orang lain dan suka menolong.
“Apakah Ibu tetap akan mencintaiku bila aku berbuat salah?”
Untuk sesaat jantung tuaku seperti berhenti berdenyut, kemudian kembali berdenyut dengan kecepatan tak beraturan. Apakah dia hamil? Di zaman sekarang ini, rasanya kekhawatiran semacam inilah yang paling banyak melanda ibu-ibu seperti aku. Anak perempuan yang hamil sebelum menikah. Kutatap matanya dan kubaca, dia menunggu jawabanku. Akhirnya kujawab juga dengan hati-hati.
“Tentu saja, apa pun yang terjadi, kamu tetap anakku yang kucinta,” ujarku. Sesudah mengambil napas sejenak akhirnya putriku berkata, “Ibu, aku mencintai orang yang tidak mencintaiku.”
Oh Tuhan. Anakku mengalaminya. Pantas dia kalihatan begitu sedih. Rasanya memang tak ada kesedihan yang melebihi hal seperti ini. Mencintai dengan sungguh-sungguh orang yang ternyata justru tidak mencintai kita.
“Itu mustahil, sayang. Tak ada orang yang tidak mencintai kamu,” aku memberinya semangat.
“Ya, memang. Dia bilang, dia mencintaiku. Tapi cintanya tidak cukup besar untuk menikahi aku. Cintanya sekadar alasan agar dia bisa mencium bibir dan memelukku.”
“Mana ada laki-laki model begitu. Ibu yakin laki-laki yang kamu cintai itu juga sangat ingin menikahi kamu.”
“Ya, dia memang ingin, tapi tak bisa. Dia sudah berkeluarga, Bu, dan dia tak ingin meninggalkan keluarganya demi aku. Dia tak berani berkorban. Dia ingin agar kami terus berpacaran secara diam-diam. Cinta macam apa itu, Bu?”
Anakku kembali sesenggukan. Hati ibu mana yang tidak perih jika dihadapkan pada persoalan macam begitu? Ah, betapa sedih nasib anakku. Mencintai lelaki yang tak mungkin menjadi miliknya.
Sepuluh tahun yang lalu, rasanya baru kemarin, Ani, putriku sering mengomel sebab jarang ketemu ayahnya.
“Mungkin aku ketemu dengannya di jalan atau supermarket, tapi aku tak mengenali ayahku.” Katanya pada satu hari sepulang sekolah. Tentu saja dia cuma menyindir. Dia memiliki foto ayahnya, bagaimana bisa lupa?
Mas Hadi memang sudah berkeluarga saat menikahi aku. Istrinya mengizinkan kami menikah karena dia sakit yang menurut diagnosa dokter sulit disembuhkan. Sebuah alasan yang diperbolehkan agama untuk beristri lagi. Mbak Sri, begitu panggilan istri Mas Hadi, bahkan sudah divonis dokter bahwa usianya tinggal beberapa bulan lagi.
“Mas Hadi adalah suami yang baik dan jujur. Sepanjang yang kutahu, dia belum pernah nyeleweng. Aku izinkan kalian menikah karena aku punya firasat anda perempuan baik yang akan dapat memelihara suamiku, kelak, sesudah aku meninggal.”
Mula-mula aku menolak menikah dengan tergesa-gesa, bahkan aku berniat tak akan menikah dengan Mas Hadi bila Mbak Sri dikaruniai umur panjang. Tapi Mbak Sri malah mendesakku.
“Aku nggak tahan melihat Mas Hadi menderita. Sudah lama aku tidak melayaninya di tempat tidur. Aku nggak mau dia terperosok ke dalam dosa. Menikahlah.” katanya.
Aku memang mencintai Mas Hadi, dia bosku di kantor. Setelah menikah dengannya aku berhenti kerja. Kami dikaruniai seorang putri, Ani. Mas Hadi bersikap sangat adil dan selalu mencukupi kebutuhan kami. Sementara itu, secara mengejutkan, Mbak Sri berangsur-angsur sembuh bahkan pulih kembali. Aku justru merasa dibebani perasaan berdosa. Mas Hadi, dengan disiplin, tetap menggilir kami: tiga hari bersamaku, empat hari tinggal bersama Mbak Sri. Menurutku pembagian cukup adil, sebab bukankah Mbak Sri istri pertama dan tentu saja dia lebih memerlukan perhatian di hari tuanya.
Suatu kali Mas Hadi tidak bangun dari tempat tidurku. Hari keempat dia tidak bisa pulang karena demam, hari kelima dia memang agak mendingan, tapi masih ingin tinggal bersamaku lebih lama lagi. Namun kuantarkan dia kepada Mbak Sri. Kepadanya kujelaskan mengapa Mas Hadi sampai empat hari berada di tempatku.
“Dik, seharusnya kamu ndak usah begitu. Kalu dia memang lagi kepingin bersama kamu, lima atau enam hari pun aku ikhlas. Aku ini kan sudah lebih lama hidup dan tinggal bersama Masmu, aku justru merasa waktu yang dijatahkan buat kamu ndak cukup,” ujar Mbak Sri mengagetkan.
“Saya pikir Mbak Sri akan keberatan.”
“Lho tentu tidak. Orang selalu menghitung keadilan dengan besarnya angka rupiah yang dibagikan kepada kita, atau dengan hitungan hari dan jam yang digilirkannya. Buatku keadilan itu adanya di sini,” katanya sambil, menunjuk dadanya.
“Keadilan tak dapat diperhitungkan dengan angka dan logika. Bagaimana mesti membagi tujuh hari menjadi dua? Mustahil bukan? Tuhan tidak menciptakan hukumnya untuk sia-sia, bukan? Bila Mas Hadi tinggal lebih lama di tempat kamu, itu cukup adil buatku, sebab kamu lebih muda dan cantik. Jadi kamu memang berhak mendapatkannya, Dik.”
Selama mendengarkan ucapan Mbak Sri, aku menangis. Mbak Sri membuka cakrawala tentang hukum Islam yang mengizinkan pernikahan lebih dari sekali. Mbak Sri, dengan begitu gemilang berhasil menerjemahkan kehendak Tuhan. Aku bersyukur menjadi istri Mas Hadi sekaligus memiliki madu seperti Mbak Sri.
Namun Ani tidak puas. Semasa remaja, seringkali dia tampak sangat membenciku. Bahkan pernah ada periode ia malu mempunyai ibu seperti aku.
“Mengapa Ibu menjadi wanita simpanan?” tanyanya ketus.
“Ibu bukan wanita simpanan. Ibu istri resmi, sah, sesuai hukum negara maupun agama,” kataku.
Saat itu juga kutunjukkan surat-surat nikahku dan menceritakan hubungan kami. Lama-lama Ani memahami. Saat ia mulai menjadi mahasiswi, dia kelihatan lebih matang dari usianya dan dibanding teman-teman sebayanya. Bahkan dia mengajak bertukar pikiran denganku mengenai banyak hal, termasuk soal cinta dan laki-laki. Kami saling terbuka. Ani juga mencintai ayahnya meski lelaki itu jarang mengunjunginya. Apalagi setelah anak-anaknya sudah berkeluarga dan dia memiliki beberapa cucu, maka perhatiannya lebih banyak terbagi untuk keluarga besarnya. Meski demikian, Mas Hadilah yang terus mendorong dan membiayai Ani bersekolah di bidang yang diinginkannya hingga bergelar sarjana.
“Aku malu pernah berbuat bodoh,” kata Ani.
“Mengapa?”
“Membenci Ibu dan Ayah. Bahkan aku pernah merasa malu mengakui bahwa aku dilahirkan oleh orangtua macam kalian. Bukankah justru sikapku yang memalukan?”
“Jadi kamu sekarang tidak malu lagi?”
“Tidak, kini aku malah bangga dan bersyukur,” jawab Ani sambil tersipu.
Kini anakku hendak mengikuti jejakku. Dia mencintai pria yang telah berkeluarga. Kukuatkan hati untuk menasehatinya.
“Tinggalkan dia, anakku.”
“Mengapa, Bu? Bukankah hidup Ibu, hidup kita juga baik, sekalipun ayah punya keluarga lain? Bude Sri bahkan sayang padaku.”
Aku menggeleng.
“Kau layak mendapatkan yang lebih baik. Maukah engkau mendengar nasehatku?”
“Tentu, Ibu.”
Kuceritakan kepadanya tentang rasa bersalah yang tak bisa hilang dengan mengambil seseorang dari keluarganya. Mungkin dia juga belum tentu seberuntung aku, mendapat madu searif Bude Sri-nya. Tentang rasa kasihan terhadap suami yang harus memenuhi kewajiban pada dua keluarga. Tentang malam-malam yang sepi dan dingin.
“Waktu usiamu baru dua tahun, Ibu sakit lever. Ibu tidak dapat menghubungi ayahmu.
Maka selama sehari penuh engkau tidak mandi dan tidak makan, sementara ibu tergolek hampir mati. Untung ada tetangga yang menolong.”
“Lalu, sewaktu kamu berumur tujuh tahun, engkau bertengkar dengan anak tetangga hingga kepalamu bocor. Darah banyak keluar, Ibu hampir tak bisa apa-apa saking histerisnya. Ayahmu tak dapat dihubungi. Dengan menangis dan tubuh gemetaran, kamu kubopong sendiri ke jalan mencegat taksi dan kubawa ke unit gawat darurat. Aku tak mau engkau mengalami hidup seperti Ibu,” aku mengakhiri kisahku dengan air mata yang hampir keluar.
“Tapi, Bu, pacarku bisa saja kupaksa untuk menceraikan istrinya.”
“Kamu tega berbuat begitu? Aku yakin kalau kamu mau berpikir lebih jauh, kamu tak akan melakukannya. Itu bukan sifatmu. Lagi pula bagaimana dengan anak-anaknya?”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Tinggalkan dia!” kataku tegas. Aku pernah hidup dalam keadaan serupa itu, jadi aku tak rela bila anakku mengalami hal yang sama.
Sore itu kulihat Ani pulang kerja membawa serangkai bunga yang kemudian ditaruhnya di meja makan. Wajahnya tetap sayu, tapi senyum mulai menghiasi bibirnya.
“Ibu.”
“Ya.”
“Menurut Ibu, apakah aku bisa melupakan pacarku?”
Aku tercenung sejenak. Haruskah aku membohonginya, atau lebih baik aku jujur saja?
“Bagaimana, Bu?”
“Hmm, kamu tak akan bisa melupakannya, Nak, setidaknya – agak sulitlah. Tentu akan ada lelaki lain yang bakal datang dan pergi dalam kehidupanmu. Akan banyak peristiwa menghiasi hidupmu. Namun kenangan dari orang yang pernah engkau cintai tak akan mudah hilang, dan itu biasa. Sepuluh tahun lagi, kenangan itu akan menjadi manis dan indah, hilang pahitnya.”
Ani menghampiri lalu memelukku, direbahkan kepalanya di dadaku.
“Bagaimana Ibu bisa begitu penuh pengertian dan bijaksana?”
Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Barangkali banyak kepahitan hidup yang belum kuceritakan kepadanya. Dan, aku rasa, dia tak perlu tahu seluruhnya.
Surabaya, 5 Januari 1992