Wati memandang perempuan itu dari tempatnya bekerja. Perempuan itu kira-kira sebaya dengannya, sedikit lebih tua. Yang jelas, wajahnya tampak layu. Perempuan itu berpakaian sangat sederhana. Terlalu sederhana untuk ukuran sebuah supermaket elite di plaza termegah di Surabaya.
“Barangkali dia nyasar,” pikir Wati.
“Atau sengaja memenuhi keingintahuannya.”
Perempuan itu kelihatannya tidak pada tempatnya. Sandal plastiknya butut. Warna bajunya sudah pudar. Dia juga kelihatan bingung menghadapi pasar modern dengan ribuan jenis dagangan. Didorongnya keranjang perlahan-lahan. Dia berhenti di bagian sayur-mayur dan buah-buahan segar agak lama. Dia hanya memandangi semua yang terpajang. Sepotong tahu putih seharga dua ribu rupiah (di pasar tradisional paling banter cuma dua ratus rupiah), segenggam daun bawang seribu rupiah! (Wati ingat, di desanya daun bawang cuma imbuh — gratis! Sekilo jeruk (yang mungkin isinya cuma empat buah) enam ribu rupiah.
Kepala perempuan itu menoleh kesana kemari. Ditimbangnya seiikat mentimun yang berisikan tiga buah. Setelah berpikir agak panjang, ditaruhnya lagi. Sikapnya kikuk dan malu-malu. Ia kemudian bergegas ke tempat lain. Kalau tak salah, sudah lebih satu jam perempuan itu berputar-putar di dalam supermaket. Keranjang dorongnya cuma berisi sekotak kue kering, sekaleng susu bayi dan sepotong sabun mandi murahan.
Setelah menaruh barang-barang dagangan baru di raknya, Wati kembali mengamati perempuan itu. Kali ini ia lihat perempuan udik itu berada di counter pangan. Berkali-kali ia mengambil kemasan barang, entah kopi, teh, selai roti, mie instan, dan sebagainya. Dia melihat harganya, berpikir, menimbang-nimbang, kemudian mengembalikan benda-benda itu ke tempatnya.
Bagi Wati, perilaku pengunjung supermaket yang satu ini tentu aneh dan mengundang tanda tanya. Biasanya, mereka yang masuk supermaket tak pernah melihat harga barang satu per satu. Mereka tinggal ambil segala yang mereka mau, ditumpuk dalam kereta dorong, membayar semuanya di kasir, sudah itu pergi membawa barang-barang tersebut. Bila ditanya berapa harga odol yang barusan dibelinya, pasti mereka tidak tahu. Mereka tidak bisa membedakan harga odol di Hero dengan harga barang yang sama di pasar-pasar swalayan lainnya. Selisih seratus atau dua ratus rupiah (padahal kalau dikumpulkan bisa mencapai ribuan) tak ada artinya bagi mereka. Apalagi membandingkan dengan harga di pasar tradisional. Itu tak perlu. Harga murah di pasar tradisional terlupakan karena kesejukan AC, kenyamanan ruang belanja yang bersih dan lapang, bahan-bahan pilihan. Sandal tidak terkena tanah becek dan tak perlu repot menawar, menjadi curiga, kemudian menimbulkan perasaan kecewa karena merasa ditipu pedagang kecil.
Namun pengunjung yang satu ini dipenuhi keragu-raguan dan senantiasa mengecek harga barang-barang yang diminatinya. Entah mengapa Wati mencurahkan perhatian lebih kepada perempuan itu. Ada rasa empati, iba sekaligus penasaran. Wati teringat pada dirinya sendiri.
Enam bulan yang lalu, kelakuannya mirip perempuan itu. Datang dari sebuah desa di Lamongan, ia cukup beruntung bisa langsung mendapat pekerjaan di supermaket ini, meski tugasnya sangat berat (dalam arti fisik). Dia harus mencocokkan keluar-masuknya barang–barang, termasuk mengangkut barang-barang baru, lalu menatanya di rak pajangan. Untuk pekerjaan itu, dengan jam kerja sepuluh sampai dua belas jam sehari, enam hari seminggu, dia cuma diupahi sebesar tiga ratus ribu rupiah sebulan!
Mula-mula dia cukup bangga dengan penghasilan sebesar itu, sebab gaji Mas Parmin, pacarnya, yang jadi carik desa, tidak sebesar itu. Padahal Parmin tamatan SMA dan sudah diangkat jadi pegawai negeri. Tapi setelah dilewatinya hari demi hari, hidup di Surabaya, Wati mulai merasakan perbedaan antara bergaji tiga ratus ribu di kota dengan gaji pegawai negeri tamatan SMA di desa. Uang kosnya saja sebesar lima puluh ribu rupiah untuk sebuah kamar berukuran tiga kali dua meter persegi, dihuni empat orang dengan dua tempat tidur susun. Untung saja rumah kosnya berada di gang sebelah plaza tempat dia bekerja, jadi dia tak perlu keluar uang lagi untuk biaya transport. Tapi untuk kebutuhan makan, Wati terpaksa berhemat. Bahkan, kalau perlu, puasa di siang hari, sebab makanan di warung sekitar tempatnya bekerja cukup mahal. Setelah dipotong semua pengeluarannya, setiap bulan paling-paling dia bisa menabung hanya lima puluh ribu rupiah, yang rencananya akan ia pakai untuk sangu nikah nantinya.
Memandangi perempuan udik itu, dia seperti melihat dirinya sendiri. Betapa dia ingin memiliki atau mencicipi semua barang yang dijajakan karena semua tampak menggiurkan dan menerbitkan selera. Tapi bagi orang semacam dia dan, mungkin, perempuan berbaju lusuh itu, barang-barang itu hanya untuk dipandangi, bukan dimiliki.
Dilihatnya kembali perempuan berambut kusut itu. Setelah berjalan beberapa meter, dia kembali ke counter yang didatangi sebelumnya dan mengembalikan semua barang yang tadinya ia kumpulkan dalam keranjang dorongnya. Rupanya dia pikir itu semua terlalu mahal atau kurang perlu. Wati tersenyum kecut.
Tiba-tiba Parno, satpam supermaket, meniupkan peluitnya sambil menuding-nuding perempuan itu. Parno diikuti beberapa staf supermaket. Perempuan itu berdiri kaku. Wajahnya pucat ketakutan. Badannya gemetaran.
“Pencuri!” teriak Parno sambil menunjuk muka perempuan tersebut. Perempuan itu dengan mulut komat-kamit menggeleng.
“Ayo, ngaku saja. Kami nggak apa-apa kok, kalau sampeyan mau ngaku,” kata staf yang lain. Pengunjung supermaket berkerumun, menontoni wajah udik yang dituduh maling itu. Ada yang merasa kasihan, tapi tak sedikit yang mencemoohnya.
“Kalau nggak bawa duit, jangan datang kemari dong,” kata sebuah suara.
Perempuan itu diseret ke ruang yang sebetulnya untuk gudang. Satpam Parno yang saban hari merasa tak punya kerjaan kini menunjukkan aksinya. Badannya jadi terasa lebih tegap, suaranya membesar, ketika membentak-bentak perempuan yang berdiri di hadapannya. Disaksikan beberapa staf –yang sedang menganggur– Satpam Parno meraba-raba sekujur tubuh perempuan itu, sambil tak henti memaki-maki. Inilah saat yang tepat untuk menunjukkan siapa berkuasa.
Kurang puas meraba-raba, Parno memerintahkan perempuan itu buka baju. Beberapa staf yang merasa risih segera pergi meninggalkannya.
“Biarin, itu kan urusan satpam. Suka-suka dialah, gimana cara menangani persoalannya,” mungkin begitu pikir mereka.
Wati marah. Harga dirinya sebagai sesama perempuan merasa dilecehkan ketika dilihatnya perempuan itu mulai melucuti blusnya, rok dan behanya. Dia merasa ditampar rasa kecewa ketika di sela-sela celana dalam perempuan itu tersumpal sebuah handuk kecil yang sebetulnya cuma lap dapur. Dia berharap perempuan itu tidak mencuri sehingga Satpam Parno akan merasa kecele. Tapi harapannya pudar. Wati amat kecewa pada perempuan itu, yang dalam bayangannya akan mewakili golongan orang-orang seperti dirinya.
Tapi dia tetap marah pada ulah Satpam Parno yang keterlaluan dn kurang ajar. Melihat gelagat amoral rekan kerjanya untuk ngerjain perempuan lugu itu lebih jauh, Wati mengingatkannya.
“Mas, apa tidak sebaiknya dia diserahkan ke polisi saja.”
“Sudahlah, ini urusanku, sebaiknya Mbak Wati kembali ke tempat kerja. Biar kutangani dulu di sini. Sesudah kuinterogasi baru nanti kubawa dia ke pos,” demikian jawab Satpam Parno. Interogasi? Wah, rupa-rupanya dia mau unjuk gigi sebagai satuan pengaman supermaket. Dari mana dia kenal kata-kata itu?
“Tapi Mas, nggak baik terus meraba-raba tubuhnya seperti itu,” protesnya sebagai sesama perempuan.
“Kalau Mbak Wati ikut campur, saya akan lapor kepada pimpinan bahwa Mbak Wati berkomplot dengan perempuan ini,” kata Parno dengan nada sok wibawa.
Wati tidak mundur.
“Begini saja, Mas, handuk itu biar saya yang bayar.”
“Hei, memangnya dia saudara kamu?”
Wati termenung sejenak. Kalau dia bilang bukan, sumbangannya untuk menyelesaikan persoalan tidak akan diterima dan perempuan itu akan lebih menderita. Akhirnya dia mengambil keputusan.
“Terus terang dia memang saudara jauhku. Baru datang dari Lamongan kemarin dan ingin jalan-jalan. Mohon dimaklumi dan dimaafkan saja Mas, aku bisa bayar uang damai.”
Dua jam kemudian, dari supermaket itu keluar Wati dan perempuan itu. Wati harus membayar handuk yang dicuri perempuan itu dan uang damai untuk satpam yang jumlahnya lumayan besar (agar persoalan itu tidak diperpanjang ke polisi). Wati juga dicemooh rekan-rekan sekerjanya dan di-PHK oleh majikannya. Wati tidak hanya kehilangan uang dua puluh ribu rupiah, tapi juga pekerjaannya. Dan itu dilakukannya untuk perempuan yang asing baginya.
Dengan sedikit uring-uringan, diseberangkannya perempuan itu ke halte bis. Dia sudah cukup heran pada kelakuannya sendiri yang dirasanya sok pahlawan itu. Dia sudah kehilangan semangat untuk bertanya lebih jauh tentang siapa perempuan tersebut. Apakah pekerjaannya yang sesungguhnya, apakah dia memang pencuri, ataukah cuma karena kepepet, atau dia kurang waras, dan di mana dia tinggal?
Tidak ada cukup waktu dan energi untuk menyibukkan diri dengan informasi itu. Sekarang dia harus berpikir bagaimana caranya mendapat pekerjaan baru dengan segera dan bertahan hidup di Surabaya.
1993-2005