Beranjak Tua


 

 

Beranjak Tua

 

untuk Pak Amang

 

Aku baru makan udang dan menanggung dosa

bengkak dan gatal seluruh tubuh karena alergi

(aku sudah tahu tapi aku selalu nekad makan udang,

yah, beginilah kalau sudah tua)

Sendiri di sebuah kamar hotel di Jakarta

kudengar kabar: seorang sahabat, guru, telah tiada

 

Kita semua memang beranjak tua

dan akan menjadi tiada

Semua orang memang akan mati

tetapi betapa pentingnya memiliki hidup yang punya arti

 

Terakhir kali kita bertemu, aku baru turun dari panggung

membaca puisi

Kau salami aku dengan gaya orang tua-tua:

sejuk, damai, santun, bijaksana

Namun ada yang tak pernah hilang darimu:

kejenakaan dan kehangatan orang Surabaya

 

Bagaimana aku dapat melupakan sosokmu

Sejak aku di SMA kamu telah menjadi kawanku

Kau pergoki aku bolos sekolah untuk berpacaran di bawah pohon di Aksera

Beberapa kawan yang dikhianati kekasih

membasahi sarungmu dengan airmata

 

Ingatkah kau ketika Mbak Hermin dan Mas Bawong bertengkar,

atau ketika Pak Bas melempar sandal

pada kita yang berlatih drama sambil cekikikan?

 

Lebih dari separuh umurku

kudapati kau selalu ada di sana

saat anak-anak bermain drama, berdebat, atau bercinta

mencapai prestasi, gagal, atau putus asa

Beberapa anak muda seperti Yus dan Gombloh telah lama tiada

dan kamu masih setia di sana

menghangatkan kebekuan hati,

menyejukkan panasnya jiwa

 

Akhir-akhir ini aku merasa mulai tua

Mungkin seperti kamu di tahun-tahun belakangan,

setelah kamu mengantar Pak Basuki dan Pak Ali,

lalu kembali melukis seperti biasa

 

Waktu seperti berada di pihakmu

tapi engkau tentu sudah lama kesepian

dan menunggu saat kembali ke haribaan

seperti yang terus menerus kau goreskan dalam kanvasmu

 

Seperti kamu

aku mulai menyaksikan generasi-generasi baru para penyair,

pelukis, pemusik dan pemain drama

dengan penuh suka cita

sekaligus gundah gulana

Karena tidak sepertimu

aku terlalu cepat lelah

kurang telaten mendampingi kawan, yang berhasil maupun yang gagal

dan tak cukup mahir memelihara persahabatan

 

Tak dapat dipungkiri

aku sudah beranjak tua

Tanganku sudah gemetaran ketika menulis puisi

hatiku tak lagi peka

dan jiwaku mulai hampa

 

Semua orang memang akan mati, 

tetapi lebih penting adalah

bagaimana mengisi hidup ini agar punya arti,

Seperti yang kau teladankan

kepada kami

 

 

Sirikit Syah

2001

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s