CERMIN


 

 

CERMIN

 

 

Mari kita bercermin, Saudara

Dan kita lihat apakah cermin retak

Atau wajah kita memang bopeng dan bengkak-bengkak

 

Partai banteng baru tengah berkuasa

Maka boleh saja dia lupa pada pemberi suara

Ekonomi maju, tapi untuk siapa?

Mobil mewah bertambah

Begitu pula jumlah anak tak sekolah.

 

“Memang enak jadi penonton.

Berteriak, memaki kalau perlu”,

kata orang dekat Istana.

 

Lihat saja para kritikus dan pengamat

Duduk di kursi goyang, menulis kolom di media massa

yang tak memberi solusi apa-apa.

Para akademisi semakin laris di mimbar seminar

Asal bisa berteriak ‘koruptor!’,

Wajahnya akan nongol di halaman depan surat kabar.

 

Para pejuang ekonomi bernama pengusaha

Lebih banyak melakukan meeting di hotel bintang lima

Makan siang seorang sama dengan upah dua buruh sebulan.

 

Sementara itu, para buruh tak mau kalah

Daftar tuntutan semakin panjang

Untuk menyusunnya, mereka bolos kerja tiga hari,

rapat gabungan dikoordinir tokoh masyarakat,

lalu mereka demonstrasi sambil memaksa yang lain,

merusak pabrik, memacetkan jalan raya.

 

Mari kita bercermin Saudara,

Apakah wajah kita ada di sana, di antara mereka

 

Para wakil rakyat semakin asyik sendiri,

mengkritik pemerintah menjadi pekerjaan sehari-hari

apalagi di depan kamera televisi,

suara semakin berapi-api.

Jangan salah, sambil mengecam sana sini,

mobil dan rumah mereka terus bertambah

yang kemarin jalan kaki, sekarang pakai mercy,

yang kemarin indekos, kini punya vila.

Tidak penting benar,

Apakah mereka menyuarakan suara rakyat

atau cuma agar tampak sebagai orang kuat.

 

Memang asyik jadi penonton, seperti kita

Megawati dulu menjadi penonton,

kini di panggung permainan, dia menjadi sasaran serangan,

baik yang relevan atau yang sekadar unjuk kepintaran.

 

Para ahli politik dan ekonomi

sibuk bicara federasi dan otonomi

membuat rakyat berharap dalam ketidakjelasan.

“Otonomi adalah bagi-bagi rejeki di tanah sendiri,”

pikir rakyat yang salah mengerti.

Sementara itu, mereka menuntut kemakmuran dan pembangunan,

sambil demonstrasi menolak bayar pajak.

 

Para alim ulama dan tokoh gereja,

bicara di tempat-tempat ibadah atas nama agama

namun pertikaian semakin merajalela.

 

Mari kita lihat Saudara,

Apakah cermin retak, atau jiwa kita memang sudah rusak

 

Wartawan tenggelam dalam kenikmatan kemerdekaan pers

Provokasi adalah headlines sehari-hari

demonstran yang membakar pabrik adalah tokoh

Para pembisik presiden, orang dekat istana, kalangan terpercaya,

menjadi nara sumber siluman,

dalam berita yang semakin membingungkan.

Mereka menjadi corong para kritikus

yang berteriak “Koruptor harus digantung.”

Sementara mereka melakukan korupsi dengan cara sendiri:

Barter amplop dan foto sang tokoh di halaman depan.

 

Para penyairpun sibuk menulis sindiran-sindiran,

Semakin kacau balau negara,

Semakin banyak tanggapan.

 

Para dosen mengkorupsi jam kuliah,

untuk sejuta dua juta berbicara di lokakarya

sementara di luar kampus,

para mahasiswa melempari penjaga keamanan.

 

Indonesia, cintaku

Aku telah bercermin,

Dan aku malu.

 

 

Sirikit Syah

2002

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s