Darah Mengalir dari Aceh ke Maluku
Kubaca koran pagi,
dan setetes darah mengalir di sela jari.
Mayat-mayat tak bernama
berserakan di belantara Aceh.
Para pengungsi di Halmahera
berebut minum darah sesama.
Sementara para penguasa
sibuk mendiskusikan nasib mereka
di sebuah club di hotel bintang lima.
Berita televisi dibuka dengan gambar mayat tanpa kepala
atau kepala tanpa badan, terpanggang di ujung tombak.
Seorang wartawan bercerita,
dia menyaksikan badan-badan berlari tanpa kepala
Dayak dan Madura, keduanya adalah korban
tidak meratanya kesejahteraan.
Di pelabuhan Tanjung Perak
seorang guru berwajah kusut
menuruni geladak kapal bersama ribuan pengungsi lainnya
‘Ambon tak lagi manise,’ tangisnya.
Di sana, hak asasi akan rasa aman, tak lagi dijamin.
Bayi-bayi dan perempuan dibantai,
para remaja membasahi pedang mereka dengan darah
dengan mata beringas dan hati meranggas.
Tetesan darah di sela jariku menjadi aliran.
Aliran menjadi lautan, lautan darah.
Darah telah menyeberangi samodra,
dari Aceh ke Kalimantan, Irian, berlabuh di Ambon,
bergabung dengan darah Halmahera.
Darah, darah, berdarah-darah di mana-mana
Jiwaku gelisah
Resah, gelisah, sah
Kepala tanpa badan
Badan tanpa kepala
Kepala tanpa wajah
Wajah tanpa darah
Manusia tanpa jiwa!!
Di Aceh, Kalimantan, Irian
Maluku, Mataram, Jakarta!
Gelisah jiwaku resah, sah
Luruh seluruh ruhku, ruh.
Sirikit Syah
Surabaya, April 2000