Reuni


               Ini pertamakalinya aku ikut reuni sebuah fellowship internasional. Maklum, aku baru jadi anggota tahun lalu. Aku nekad mengeluarkan separuh dari tabungan tahunanku untuk bisa datang ke Mesir. Pertama, aku belum pernah mengunjungi Mesir, negeri yang eksotik dan menjadi impianku sejak remaja. Kedua, aku ingin bertemu teman-teman yang tahun lalu selama dua bulan mengalami kebersamaan di Amerika Serikat. Dan ketiga, mungkin ini yang terpenting, aku sudah janjian dengan Mahmoud, fellow dari Palestina, yang selama setahun ini menjadi sahabat internetku. Wajahnya yang dihiasi kumis tebal hitam dan mata hijau kebiruan (konon, dia keturunan Syria) terus terbayang di benakku sejak kami berpisah setahun yang lalu. Ya, sesungguhnya, dialah alasan utamaku datang jauh-jauh ke Mesir.

 

Namun konferensinya menarik juga. Ada perbedaan pendapat yang cukup sengit antara kalangan pro-development yang dimotori Alfonso dari Spanyol dan Khairani dari India yang pro-preservation. Menurut Alfonso, “Kota harus dibangun. Kota adalah ‘the best creation of humankind’, dan kota adalah ‘the best place to live’.” Lalu perempuan India yang cantik dan cerdas itu mempresentasikan perlunya pelestarian warisan budaya, memelihara alam dan lingkungan, dan kembali berorientasi hidup di desa atau pinggir kota, karena kota bukan tempat yang baik untuk tinggal. Kedua argumen sama kuat dan data yang ditampilkan valid dan akurat.

 

Namun yang menarik perhatianku selama konferensi tiga hari di Kairo ini bukan diskusi-diskusi ilmiah itu, melainkan kehadiran orang tua-tua dari segala belahan dunia. Orang tua-tua yang adalah alumni tahun 50-an atau 60-an dari fellowships ini. Di antara mereka ada dua orang lelaki dan perempuan yang betul-betul menarik perhatianku. Yang satu adalah Mr. Xiau Ming dari China, satunya Ms. Paula Kankaapa dari Finlandia. Di tengah kekecewaanku karena Mahmoud tidak jadi datang, aku mencurahkan perhatianku pada Mr. Xiau Ming dan Ms. Paula Kankaapa. Kutengarai mereka selalu bersama-sama sepanjang acara, baik resmi maupun yang tidak resmi.

 

“Kami fellows dari tahun 1968,” kata Mr. Xiau Ming membuka percakapan.

“Kami begitu cocok satu sama lain sehingga kami terus memelihara persahabatan selama 36 tahun ini,” tuturnya. Mr. Xiau Ming menjadi fellow ketika berprofesi sebagai staf ahli kementrian keuangan di China, sedangkan Ms. Paula adalah seorang dokter yang aktif dalam program-program pencegahan wabah penyakit di negara-negara Afrika. Kini Mr. Xiau Ming sudah pensiun dan meluangkan waktunya mengajar di unversitas. Ms. Paula sudah berhenti berkeliling Afrika dan mendedikasikan waktunya di sebuah klinik lokal.

 

Ketika mereka berkata-kata, aku memperhatikan gesture dan mimik kedua orang itu. Sesekali mereka saling memandang dengan mesra. Lalu, menyentuh tangan atau lengan. Aku berani bertaruh bahwa kedua orang ini sedang jatuh cinta.

 

“Saya sudah jatuh cinta pada Paula pada saat kami berdua menjadi fellow tahun 1968. Namun waktu itu kami datang bersama istri dan suami. Saya tidak tahu bagaimana perasaan dia waktu itu. Ketika kami berpisah, saya menerima email-emailnya, ternyata kami memiliki perasaan yang sama,” Mr. Xiau Ming ternyata dapat membaca pertanyaan dalam benakku dan dengan senang hati membuka dirinya.

 

“Boleh dikata kami berpacaran melalui email. Fully platonic,” kata Ms. Paula yang berkulit pucat dan berbadan langsing itu. Mr. Xiau Ming, tak seperti layaknya pria China, agak lebih tinggi dari ukuran rata-rata orang sebangsanya.

No darling, it was not fully platonic. Kami bertemu setiap sekian tahun sekali.”

“Oh ya? Bagaimana itu bisa terjadi? Negara Anda berdua begitu berjauhan?” tanya saya. Percakapan ini lebih menarik daripada pertunjukan tari perut yang disuguhkan di panggung kapal pesiar. Ya, teman-teman dari Mesir dengan kreatif mengajak kami makan malam di sebuah kapal pesiar yang mengarungi Sungai Nil. Dan suguhannya  … tari perut dari penari-penari yang eksotik.

“Ya, negara kami jaraknya setengah dunia. Musykil rasanya kalau kami mengunjungi satu sama lain. Selain biayanya mahal, tidak ada alasan yang baik. Kami sama-sama berstatus menikah. Maka, kami dengan setia menunggu reuni fellowships ini –dan itu terjadi sekitar 4-6 tahun sekali- dan kami selalu datang untuk bernostalgia,” tutur Mr. Xiau Ming sambil tersenyum. Jari-jarinya kemudian menyentuh rambut Ms. Paula yang berwarna pirang yang tergerai menutupi matanya.

“Dan itu berarti kami sudah bertemu sebanyak kurang lebih 6 atau 8 kali, di kota-kota di seluruh dunia,” tambah Ms. Paula dengan wajah menyiratkan kebahagiaan.

 

“Darling, ingatkah kau ketika kita bertemu kedua kali tahun 1979? Kalau tidak salah, itu di Mexico City ya?”

“Tentu saja. Saya tak dapat melupakan peristiwa itu. Engkau mengabarkan bahwa istrimu meninggal dunia.”

Aku terpaku sejenak mendengar bagian ini. Merinding rasanya bulu-bulu di lenganku. Apa yang terjadi setelah itu?

“Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya masih sangat sedih, tapi pada saat bersamaan, ingin sekali melamar Paula dan membawanya ke China.”

“Saya juga sangat sedih. Ketika dia ada istri, saya merasa tenang setiap kali kami berjauhan, karena ada yang menjaga dan merawatnya. Ketika istrinya tiada, saya menjadi kalut. Membayangkan dia hidup sendiri, sulit buat saya. Saya tak tahu harus bagaimana. Itu pertemuan yang sangat menggelisahkan bagi kami berdua.”

 

Ms. Paula pernah mencoba minta cerai dari suaminya dan pergi ke China. Namun tentu saja itu tidak mungkin terjadi karena mereka menikah secara Katolik, suaminya masih sangat mencintainya, dan anak-anaknya memberatinya.

“Hi Nina, there you are,” tiba-tiba Carlos dari Argentina menepuk bahuku. “Kucari kau kemana-mana, ternyata asyik benar dengan dua senior kita ini ya? By the way, presentasimu tentang ‘Aceh, 6 bulan pasca Tsunami’ tadi pagi sangat impressive. Terutama bagian yang mengkritik inefficiency dan korupsi di kalangan NGO internasional.”  Carlos adalah teman baru, karena dia alumnus tahun 2002, sebelum aku. Bidangnya ekonomi dan kemiskinan rakyat dunia ketiga. Orangnya luar biasa tampan dan ramah, khas pria Latin.

“Saya sedang mendengarkan sebuah kisah cinta yang hebat,” kata saya.

“Boleh saya bergabung? Mendengarkan kisah cinta antar negara di tengah Sungai Nil begini benar-benar inspiring,” katanya, sambil menggeret kursi lalu duduk bersama kami.

“Saya tahu Nina masih single, tapi sayang saya sudah menikah,” lanjutnya, setengah bercanda. Tak lama kemudian, Mark dari European Union, asalnya sebetulnya Belgia, juga bergabung. Tanpa disadari meja kami jadi melebar dan ada sekitar 8-9 orang di situ.

 

“Ya, saya tidak bisa bercerai dari Sven, suami saya, dan tak dapat meninggalkan Finlandia. Tapi kami bertemu beberapa kali lagi hingga ……” Ms. Paula berhenti dan menarik nafas panjang. Matanya berkaca-kaca.

“Itu terjadi pada pertemuan sebelum ini. Pertemuan di Seoul tahun 2000,” Mr. Xiau Ming mengingatkan.

“Ya. Saya membawa kabar, suami saya meninggal dunia.”

 

Semua pendengar seperti berhenti bernafas. Mr. Xiau Ming menyentuh tangan Ms. Paula, lalu tangan mereka bergenggaman. Musik dari tari perut sudah lama hilang. Sayup-sayup ada suara riak sungai, binatang malam, dan pekerja di kapal. Kami semua menatap dua alumni fellowships dengan penuh keingintahuan.

“Tidak, saya tidak melamarnya pada waktu itu. Saya pikir, itu sangat tidak beradab. Dia sedang berduka.”

“Ada alasan lain. Dia menjadi gamang. Kami sudah sama-sama tua. 5 tahun yang lalu, ketika kami bertemu terakhir kali di Seoul, kami sudah 64 dan 66. Dia gamang, apakah bisa membahagiakan saya. Dia ingin berpikir beberapa tahun lagi.”

 

Tiba-tiba Mr. Xiau Ming mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya, dibukanya, dan di situ terdapat cincin bermata safir yang sangat indah. Disodorkannya itu pada Ms. Paula.

“Kita telah menunggu dan bersabar berpuluh-puluh tahun, Paula. Saya berkeputusan, malam inilah saatnya, di hadapan rekan-rekan muda kita ini. Marry me, please……..”

Ms. Paula tak dapat menahan airmatanya. Matanya menjadi basah. Dia langsung mengenakan cincin itu ke jarinya dan memandanginya dengan kagum.

“Yes, of course Xiau Ming,” bibirnya berdesah. Wajahnya bersinar, meski dihiasi airmata. Dia tampak bahagia. Benar-benar membuatku iri, dan jauh di lubuk hati, aku merasa sedikit rasa sakit. Mengapa aku tak seberuntung perempuan tua ini?

 

Benar-benar sebuah kisah romantis antar benua. Saya jadi semakin jengkel dengan Mahmoud, sampai kubilang dalam hati “bullshit!” Email-emailnya selalu mesra, penuh dorongan, memberikan inspirasi. Kami bahkan tenah merancang proyek bersama, yang sangat mungkin dibiayai organisasi fellowships kami. Kami sangat mendambakan pertemuan Mesir ini. Kami menghitung bulan demi bulan, minggu demi minggu, hari demi hari. Hanya 5 hari sebelum keberangkatan, kuterima emailnya: “I can’t wait to look into your eyes again, as we always did when we had very passionate discussions on the Middle East issues last spring.” Namun, tak kulihat batang hidungnya di sini. Kesetiaan pria China ternyata lebih bisa diandalkan, keluhku.

                                                                                                                    

Malam itu kami menyelenggarakan pesta pertunangan Mr. Xiau Ming dan Ms. Paula. Para alumni ternyata bukan saja bekerjasama dalam banyak proyek berskala internasional, namun kisah Mr. Xiau Ming dan Ms. Paula ini membuktikan bahwa cintapun dapat terjadi antara dua fellow yang dipisahkan oleh jarak geografis, perbedaan budaya, status perkawinan, dan oleh waktu.

 

Keesokan paginya, di BBC dan Al-Jazirah kusaksikan lagi dengan ogah-ogahan berita serangan militer Israel di beberapa wilayah Palestina, dan kupikir itu cuma menu media massa sehari-hari. Serangan itu terjadi 3-4 hari yang lalu. Namun berita ini menjadi continuing news karena ada beberapa aktivis HAM terlindas buldozer atau tertembak senapan.  Tiba-tiba Hala, fellow dari Mesir yanh menjadi sobat kental tahun lalu, dan sekarang panitia tuan rumah, menggedor-gedor kamar pada saat aku packing dan bersiap-siap menuju bandara.

 

“Nina. Kuatkan hatimu.”

“Apa yang bisa membuatku merasa lebih buruk dari sekarang? Mahmoud tidak datang. Dia melanggar janjinya padaku. I will hate him for the rest of my life.”

Hala mengajakku duduk di tempat tidur. Lalu menunjukkan selembar fax yang ditujukan ke panitia reuni di hotel ini. Sebuah fax dari lembaga tempat Mahmoud bekerja.

“Nina, Mahmoud adalah salah sau korban serangan tentara Israel. Dia tewas. Stafnya menceriterakan, Mahmoud akan datang dengan jalan darat kemari, mengendarai sendiri mobilnya, namun kendaraannya terjebak insiden bersenjata itu. Tabahkan hatimu, Nina. Saya tahu bagaimana perasaanmu.”

 

Aku terpaku memegang selembar fax itu. Tidak, Hala tak mungkin tahu bagaimana hancurnya perasaanku saat ini. Kueja huruf-huruf pada nama di kertas itu, memang Mahmoud. Rekan cinta platonikku selama setahun ini. Orang yang sangat kukagumi karena kecerdasannya dan kehangatannya. Setiap kali kami berdiskusi tentang Middle East, Mahmoud dan aku akan berbicara dengan kadar passion yang sama. Mungkin karena kami sama-sama muslim? Kami sama-sama merasakan ketidakadilan itu? Kuingat malam terakhir tahun lalu, saat perpisahan, dia menjabat tanganku.

“Saya ingin memeluk dan mencium Anda, tetapi …”

“Saya tahu, sebagai sesama muslim kita tak boleh berbuat begitu, kita bukan Muhrim. Dan, saya pakai jilbab lagi,” kataku.

“Bukan, bukan karena jilbab Anda, atau bahwa karena kita muslim. Tetapi karena saya sangat menghormati Anda. Anda membuat saya dan umat Islam di seluruh dunia bangga. Di forum ini, Anda mempertontonkan wajah Muslim yang memporakporandakan stereotype mereka mengenai kita.” Aku tersenyum. Aku teringat beberapa malam sebelumnya Mahmoud bertanya padaku, “Nina, apakah waktu kuliah dulu Anda suka bolos?”

“Tidak, mengapa?”

“Saya pikir Anda pasti mahasiswa bandel yang suka bolos dan menghabiskan waktu dengan menghafalkan lagu-lagu John Denver dan Bob Dylan. Anda membuat orang-orang terheran-heran. You are really something.”

 

Waktu itu, aku tidak tahu maksudnya. Namun dalam email-emailnya kemudian, kami membuka diri dan menerima kenyataan bahwa kami saling menyukai. Pada malam farewell itu, meskipun aku ingin sekali dipeluknya untuk sekedar say goodbye –toh semua fellow lelaki dan perempuan melakukannya padaku- aku tak bisa memintanya berbuat begitu. Paling jauh yang kuingat, dia pernah memegang tanganku ketika kami berada di sebuah taman di Washington, D.C.

 

Airmataku menetes di lembar fax itu. Hatiku seperti hilang separuh. Aku telah begitu berharap. Aku single. Dia juga single. Mestinya kami berdua bisa melakukan sesuatu bersama-sama untuk Islam, untuk rakyat Palestina, untuk dunia. Aku bahkan sudah siap mental bila dia mengajakku pindah ke Palestina. Tapi Mahmoud telah pergi. Kami semua berduka dan mengadakan doa khusus baginya pagi itu sebelum menuju bandara. Di pesawat menuju Indonesia, aku memaksa diri menghaapi kenyataan bahwa impian indah itu sudah hilang. Namun selamanya Mahmoud akan menjadi cinta platonikku.

 

Singapura, 2005

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s