Perempuan yang Merajut Memori
Tanpa Masa Lalu
Perempuan itu duduk di ujung senja
berusaha merajut memori dari untaian kata-kata
yang seolah tak bermakna
(“I wish I was there”, diingatnya lelaki itu pernah berkata,
ketika dia kecewa akan ketidakhadirannya. Kata-kata itu dibiarkannya
tinggal dan melekat, di dalam jiwa).
Perempuan itu menelusuri jejak perjalanannya:
diterpa butiran salju di Sapporo
terpesona lampu-lampu Natal di Champ d’Elysse
terhadang kabut di Glasgow
menikmati gemerisik daun kering musim gugur terinjak kaki
di Central Park, New York,
tak juga ditemukannya apa yang dia cari.
Seolah membeku darahnya
menatap kehadiran lelaki.
Waktu seperti berhenti
dan dunia mendadak berubah sunyi
“Tuhan, izinkan aku merasa,
semalam saja,” jeritnya.
“Tapi aku harus segera pergi melaut,
karena di sanalah hatiku telah berpaut,” kata lelaki
sebelum hilang bayang
tenggelam di kedalaman samudra
cintanya sendiri.
Kembali perempuan dalam dunianya yang hiruk pikuk,
mencoba merajut kenangan
kendati tak sedikitpun mereka memiliki masa lalu.
Sirikit Syah
Desember 2004