Pesan Natal Paus: Waspadai Gerakan Homoseksualitas


           Dalam pesannya menjelang Natal, Paus Benedictus XVI menyampaikan hal yang amat penting: bahwa hutan tropis harus diselamatkan dari kepunahan, demikian pula pentingnya menyelamatkan umat manusia dari perilaku homo- dan transeksual. Paus juga mengkritik pemerintahan yang melegalkan perkawinan homoseksual (ada di beberapa negara Eropah dan negara bagian Amerika Serikat). Paus mengingatkan bahwa perkawinan itu sejatinya antara lelaki dan perempuan dengan tujuan “penciptaan”. Mengizinkan perkawinan homoseksual sama dengan “merusak ciptaan Tuhan.”

 

            Pendapat ini bukan pertamakali dilakukan oleh Gereja Katolik. Sejak Kongres Perempuan di Beijing tahun 1995, almarhum Bunda Teresia juga telah mengungkapkan hal yang sama. Pendeknya, hingga sekarang, Gereja Katolik tetap menganggap homoseksualitas adalah penyimpangan, bahkan mereka meng-haram-kan penggunaan kondom.

 

Ini tentu bertolak belakang dengan keadaan di Israel, yang sekarang dikenal sebagai “Surga Kaum Gay”. Seperti dikutip koran bergengsi Christian Science Monitor, tanah yang dijanjikan Tuhan itu (yang mana, klaim ini menjadikan perang Israel-Palestina berlangsung puluhan tahun dan belum mereda), kini tak lagi semata-mata menjadi tujuan wisata ziarah atau religi. Dalam lima tahun terakhir, Tanah yang Dijanjikan Tuhan versi bangsa Yahudi ini telah menjadi daya tarik bagi kaum gay. Hampir tiap hotel kelas atas di Israel menyediakan pantai khusus untuk kaum lelaki penyuka sesama jenis itu.Peraturan yang bagus, bukan?

            Di bagian Pantai Hassidic di Tel Aviv, misalnya, yang dikelola Hotel Hilton, dibagi dua dengan tembok lebih dari delapan meter. Di sisi dalam, setiap Ahad, Selasa, dan Kamis, pantai ini khusus bagi perempuan. Pada Senin, Rabu, dan Jumat giliran kaum lelaki. Aturan ini sesuai dengan halachic, ajaran agama Yahudi yang melarang lelaki dan perempuan belum menikah melihat lawan jenis dengan pakaian minim. 

Tapi, di luar tembok, kaum pria dan para homo bisa mandi tiap hari di pantai. Agaknya  pemerintah Israel mendukung promosi wisata kaum gay yang dikenal dengan industri “dolar merah muda”. Agaknya industri “ketakutan” tak lagi cukup membiayai gaya hidup Israel yang amat tinggi itu. Komoditas “ketakutan” ini adalah segala macam benda yang diperdagangkan yang ada kaitannya dengan “pemeliharaan rasa takut” di kalangan warga negara. Misalnya: penjualan senjata genggam, masker oxygen, masker penahan Weapon of Mass Destruction (senjata biologi dan kimia), rompi anti bom bunuh diri, jaket tahan peluru, bahkan pembangunan tembok-tembok raksasa yang mengurung warga Palestina. Itu semua dilegalkan karena alasan “ancaman” dan “ketakutan”. Makanya perang Israel-Palestina tak pernah reda. Bila mereka damai dan tak ada lagi “ketakutan” atau “ancaman”, mereka hidup dari apa?

 

            Toh, industri yang menghidupi warga negara dengan tingkat hidup yang setara dengan negara-negara Eropah itu tidak cukup. Mereka masih menggali peluang lain: dollar merah muda, wisata kaum homoseksual, di Tanah yang Dijanjikan. Surga bagi kaum gay. Jadi ingat kisah Sodom dan Gomorah. Jumlah wisatawan gay ke Israel terus melonjak. Menurut Shai Doitsh, kepala departemen wisata gay di Agudah (Perkumpulan Gay, Lesbian, Biseksual, dan Trans-seksual Israel), tahun ini saja jumlah pelancong gay sudah ribuan. Padahal lima tahun lalu masih ratusan.           Aturan negara memang kian longgar. Mahkamah Agung Israel telah menetapkan sodomi bukan kejahatan sejak dua dekade lalu. Kaum gay juga bisa masuk militer, mewarisi harta pasangannya, dan menikah. Tahun ini pasangan sesama jenis dibolehkan mengadopsi anak. Inilah antara lain yang dikritik keras oleh Paus dalam pesan Natalnya. Negara yang melegalkan perkawinan gay sama dengan menghancurkan masa depan bangsa itu sendiri. Memang mungkin Allah sudah mentakdirkan bahwa Israel tak bisa hancur oleh pasukan bom bunuh diri dari Palestina, atau embargo ekonomi dari para negara tetangga yang Muslim. Israel mungkin punah dengan sendirinya dalam satu-dua generasi lagi, bila kaum gay menjadi dominan di sana. 

            Negara-negara yang tidak mempromosikan gay saja sudah amat sangat cemas dengan merosotnya pertumbuhan jumlah penduduknya. Jepang dan Singapura adalah negara-negara yang terus merayu pemuda-pemuda kita untuk bersekolah di sana, dibiayai sepenuhnya, diberi pekerjaan setelah lulus, diberi tunjangan bila menikah. Mengapa? Karena warga mereka sendiri semakin enggan menikah (usia perkawinan semakin menua), dan bila mereka menikah, mereka enggan memiliki keturunan. Kepunahan sebuah bangsa di ambang mata. Apalagi bila perkawinan antar sesama jenis kelamin diijinkan. Paus sangat betul: Ini tanda-tanda kepunahan bangsa. 

            Oleh sebab itu, kita tak perlu meratapi 230 juta mulut menganga di Indonesia, yang perlu diberi makan, dan membutuhkan lapangan pekerjaan. Kita perlu mensyukuri bahwa jumlah manusia yang besar adalah salah satu resistensi/daya tahan terhadap ambruknya perekonomian global. 230 juta rakyat akan mampu menghidupi diri sendiri: bergeliat di sektor informal, terlatih dalam produksi (pertanian, perkebunan, pertukangan) , memiliki daya kreatif yang sulit dicari bandingannya. Indonesia adalah negara dan bangsa yang patut kita syukuri.  Mudah-mudahan tahun depan ini kita membuktikan bahwa ‘we shall survive’ dari terpaan krisis ekonomi global. Namun yang lebih penting, mudah-mudahan Tahun 2009 kita mendapatkan pemimpin yang amanah.

 

Sirikit Syah

24 Desember 2008

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s