Hati Lelaki


hati-lelakiDua lelaki itu mengangkat cangkir dan menghirup kopi secara hampir bersamaan. Asap mengepul dari cangkir-cangkir mereka, menebarkan aroma kopi yang segar dan menggugah selera. Keduanya berada di sebuah warung kopi di sebuah mall yang dipenuhi para pembelanja menjelang Ramadhan. Warung kopi ini pun nyaris penuh, berisik. Sebetulnya Ilham enggan kongkow di mall dan mengeluarkan Rp 25.000 untuk secangkir kopi, tapi demi pertemanan, hal itu dilakukannya juga. Maklum, dia dan Farid lama sekali tak jumpa. Ketika Farid kemarin menelepon, dia senang sekali, dan antusias bertukar kabar dengan mantan sahabatnya semasa muda itu. “Sulit dipercaya kalau kita sudah hampir lima tahun tak bertemu,” ujar Farid mengawali percakapan. Dia kemudian menggigit croissant sambil menatap wajah kawan lamanya.

“Aneh jua, padahal kita masih tinggal sekota,” sambut Ilham, mencomot udang tempura dan mengunyahnya.

“Aku cuma baca-baca di koran. Kau baru pulang dari studi di Inggris, lalu jadi dekan, terakhir kira-kira lima bulan lalu ya, ada kabar kau jadi staf ahli menteri. Wawancaramu bertebaran di media massa. Sukses kau, aku ikut senang.”

“Pekerjaan yang cukup melelahkan. Aku nyaris kehilangan waktu untuk keluarga,” kata Ilham. “Bagaimana denganmu, ceritakan tentang kegiatanmu,” sambungnya.

Setelah menarik nafas panjang, Farid mulai berkisah. Sudah tiga tahun ini istrinya menjadi staf ahli menteri dan harus lebih sering berada di Jakarta. Pada saat karir sang istri melesat demikian pesat, Farid malah terkena rasionalisasi –alias ter-PHK- dari pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta kecil di Surabaya.

“Aku tidak bisa menggugat atau menuntut pesangon. Perusahaan itu memang hampir bangkrut. Rasionalisasi yang dilakukan juga masuk akal, saya paham, tetapi terpukul juga,” keluh Farid.

Nina, istri Farid, dapat menerima hal itu dengan baik. Cuma Farid saja yang pada bulan-bulan pertama sering uring-uringan. Merasa “gak kanggo”. Mencari pekerjaan lagi sulit, karena faktor usia dan kompetisi yang makin ketat. Alhasil, Farid cuma menjadi bapak rumah tangga: menjaga rumah dan mendidik anak-anak. Pada tahun ketiga, dia mulai frustrasi. Apalagi, istrinya makin jarang pulang. Ketika masih awal-awal tahun pertama, hari Sabtu Minggu Nina selalu pulang. Pada tahun kedua, Sabtu Minggunya semakin kerap diisi pekerjaan lembur, karena Pak Menteri baru sempat berkonsulatsi dengan staf ahlinya di luar hari kerja. Pak Menteri sangat mengandalkannya. Nina adalah ahli dalam persoalan politik luar negeri, khususnya Asia Tenggara. Keahliannya sangat dibutuhkan oleh kementrian luar negeri. Kementrian ini memiliki Dewan Pakar dengan keahlian masing-masing. Nina adalah ahli Asia Tenggara.

“Enam bulan belakangan ini Nina mengusulkan agar saya menikah lagi. Katanya, dia ikhlas, karena merasa tak dapat memenuhi kewajibannya sebagai istri,” kata Farid.

Ilham terkejut. “Mengapa ini kau sampaikan padaku? Ini urusan rumah tangga yang mestinya kau simpan sendiri, dan kau atasi sendiri.”

“Sudah enam bulan ini hal ini kusimpan sendiri. Aku tidak punya saudara atau teman untuk membahas dan mempertimbangkannya. Aku ingat kamu, sahabatku sejak SMA dan di universitas. Dan aku mengenalmu lebih dari cukup, meskipun belakangan jarang bertemu. Saya pikir kau orang yang tepat. Beri aku nasehat.”

Ilham tercenung. Betapa besar kepercayaan Farid kepadanya. Dia masih menganggapnya sahabat. Padahal mereka sudah hampir lima tahun tak bertemu, karena kesibukan masing-masing. Kini dia disodori persoalan sangat pribadi itu. Ilham jadi teringat persoalannya sendiri. Istrinya tengah minta cerai! Orang akan sulit percaya bahwa istrinya minta cerai. Tapi inilah kenyataannya. Dia sendiri merasa terpukul. Selama ini dia lakukan semuanya untuk keluarga, seorang istri pilihannya sendiri dan empat anak yang manis dan pintar. Alasan istrinya: dia terlalu sibuk, terlalu sering pergi. Wati merasa makin ketinggalan.

“Mas makin banyak bergaul dengan wanita pintar, menarik. Kelihatan kalau mereka memuja Mas. Memang Mas dikaruniai wajah tampan dan kecerdasan dan sikap yang ramah. Saya bukan apa-apa dibandingkan dengan perempuan-perempuan kolega atau kawan bergaul Mas. Saya tak tahan lagi. Saya ingin pulang ke bapak ibu di desa,” demikian Wati menyampaikan padanya baru seminggu yang lalu. Seperti halilintar di siang bolong.

Ilham sulit mengerti. Dia tak pernah berselingkuh. Dia sangat setia pada istrinya. Tapi istrinya memang pecemburu. Ada inferiority-complex pada dirinya: merasa tidak cantik, merasa bodoh, merasa mempermalukan suami, merasa tak sebanding. Dan perasaan seperti itu sangat sensitif. Ilham tak boleh salah. Salah sedikit saja, misalnya pulang telat satu hari, atau satu jam, istrinya akan menangis. Atau, dia bercerita dengan penuh semangat di meja makan tentang pertemuannya dengan seorang tokoh perempuan yang pintar dan dikaguminya, istrinya akan berdiam diri dua hari. Ilham harus super hati-hati, seperti memegang gelas kristal di tangannya.

Dan sekarang Farid mengadu padanya, istrinya mengizinkannya menikah lagi? Betapa ringannya persoalan itu dibanding persoalannya sendiri.

“Mungkin istrimu merasa bersalah kau tak ada yang mengusuri selama dia tak ada.”

“Ya, tapi apakah itu buka menyindir? Bagaimana aku menikah lagi, memiliki dua istri, padahal aku tidak bekerja, dan hidup dari pendapatannya?”

Yah, itu menjadi pelik juga.

“Apakah kau benar-benar tak memiliki income sendiri?” tanya Ilham.

“Sejak di-PHK dan kesulitan cari kerja, saya hidup numpang istri. Tapi setahun belakangan ini Nina membuat satu aturan, bahwa saya akan menerima 20% dari pendapatannya. Alasannya, karena akulah yang menyiapkan semua berkas dan dokumen yang diperlukannya, menyiapkan buku-buku, mengetik bila perlu, bahkan menyiapkan presentasi power point, mencarikan data, menata perpustakaannya.”

“Tiba-tiba pada suatu hari dia bilang,” Farid melanjutkan, “Dia bilang “Pak, mestinya kau dapat gaji sebagai asistenku. Aduh, maaf ya, selama ini aku take it for granted aja. Tanpa bapak, aku akau kacau sekali.” Begitulah, sejak itu dia beri aku langsung 20% dari pendapatannya, termasuk kalau dia mendapatkan honor berbicara di seminar.”

“Pastilah cukup banyak, mengingat kedudukan dan reputasi Nina. Kau gunakan apa uang itu?” tanya Ilham.

“Mula-mula aku bingung kupakai apa uang itu, karena semua kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak-anak sudah dipenuhi Nina sendiri. Juga bayar rekening air, listrik, sudah otomatis didebet dari rekeningnya. Namun belakangan aku menemukan penyalurannya: kalau anak-anak minta beli buku atau sepatu, akulah yang membelikannya. Aku bahkan bisa membelikan Nina kalung ketika dia ulang tahun kemarin. Dia terkejut, dan …. Kau bisa rasakan, surprise sederhana itu membuatnya menitikkan airmata dan memelukku erat sekali. Aku semakin mencintainya. Memang kadang jengkel juga, jarang ada kesempatan bermesraan, tapi aku masih mencintainya,” Farid menyampaikan hal itu dengan sungguh-sungguh. Ilham menatap matanya dan mata Farid tak bisa berbohong.

“Kalu begitu, jawabannya gampang: jangan menikah lagi.”

“Meskipun aku mampu membiayai istri kedua dan Nina mengizinkan?”

“Pikirkan lagi, renungkan. Saya kira Nina menganjurkan demikian karena melihat wajahmu yang “misserable”. Dia kasihan padamu, dan guilty feeling, oleh sebab itu dia punya ide gila menyuruhmu menikah lagi. Padahal kau kan tak pernah berpikir tentang itu? Atau iya? Sudah ada calon?”

“Betul kau. Selama ini aku tak dekat dengan perempuan manapun, tak ingin menikah lagi, cukup bahagia dengan mengasuh anak-anak dan menunggu kebersamaan dengan Nina yang semakin langa. Hanya kecewa bila saatnya dia pulang, dia ternyata tidak pulang karena harus ke Vietnam, Thailand, atau apapun.”

“Yah, kalau begitu, hilangkan pikiran itu dari benakmu. Sambut istrimu dengan senyum, pelukan mesra. Jangan langsung kau tuntut dia memenuhi hasrat kelaki-lakianmu begitu masuk rumah. Aku tahu kau kangen berat, tapi dia juga capek berat. Mengertilah. Beri dia waktu, sampai dia menginginkannya sendiri. Sampai dia memintamu untuk melakukannya. Jangan menuntut hakmu, just be there when she needs you.”

“Ya, mungkin itu persoalannya. Aku terlalu menuntut agar dia melayaniku dan memenuhi kewajibannya sebagai istri.Padahal, aku juga tidak memenuhi kewajibanku sebagai suami,” Farid tertunduk sedih. Nadanya mengandung rasa malu. Hanya persahabatan kental masa muda yang dapat mencairkan rasa malu dan kekakuan antara dua laki-laki dewasa ini. Lama mereka berdua terdiam. Tenggelam dalam lamunan masing-masing. Farid menghisap rokok dalam-dalam dan mengepulkan asapnya perlahan-lahan.

“Bila kalian telah sepakat pada jalan hidup ini, jangan merasa berdosa karena tidak menafkahi dia. Dia ikhlas, itu yang penting. Sebaliknya, jangan buat dia merasa berdosa juga karena tak memenuhi kewajibannya, sampai-sampai dia mengizinkanmu menikah lagi. Cobalah mengerti dia, kau juga harus ikhlas beristrikan perempuan aktif seperti dia,” kata Ilham.

Ilham memandangi wajah Farid. Laki-laki yang dulu jago basket di SMA, favorit mahasiswi di kampus, sangat populer, sampai-sampai Nina si bintang kampus itu teraih olehnya. Kini Farid bukan apa-apa, hanya seorang lelaki yang tak memiliki pekerjaan dan tak dapat menafkahi keluarganya. Namun dia memiliki cinta dan keikhlasan istrinya. Mudah-mudahan Allah memaafkannya. Apalagi kini Farid punya pekerjaan resmi sebagai “asisten staf ahli menteri” dan mendapatkan income, yang dikembalikannya lagi pada keluarga. Sebuah hubungan yang tidak lazim, tetapi sangat kreatif dan solutif. Mestinya Farid mensyukuri apa yang dimilikinya. Tak perlu berpikir mencari kebahagiaan di tempat lain. Toh sebentar lagi masa tuags istrinya berakhir, seiring bertakhirnya tugas pak menteri.

Ilham justru tak tahu bagaimana mengatasi persoalan rumah tangganya. Istrinya sulit diajak bicara. Wati tak memiliki kecerdasan dan kearifan seorang Nina. Wati adalah mahasiswi baru ketika Ilham hendak lulus. Dan ketika Ilham lulus, lalu mendapatkan pekerjaan, Ilham menikahinya. Ilham sendiri yang meminta Wati berhenti kuliah dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Ilham membentuk Wati menjadi begitu: sekolah tidak selesai, punya empat anak, tak punya karir, tak punya pekerjaan sampingan. Bahkan tak punya pergaulan. Ilham sangat membatasi pergaulan Wati. Untuk itu semua, Ilham mengucurkan seluruh pendapatannya pada Wati. Mereka hidup baik secara ekonomi, dan Ilham mengira istrinya bahagia dengan itu, dan bangga bersuamikan lelaki terhormat seperti dia.

Kini Ilham menyadari, dia menbuat istrinya tidak bahagia. Dia teringat seorang rekan perempuan yang kerap bekerja bersamanya di proyek-proyek khusus. “Istri Anda adalah istri yang paling bahagia di dunia.” Sebagai laki-laki, dia tahu apa maksud kalimat itu. Perempuan itu mengaguminya, dan membayangkan dirinya berada di posisi sang istri. Ilham tersenyum kecut. Istrinya adalah perempuan yang tidak bahagia. “Sekeras apapun aku berusaha membahagiakannya, keliru, salah terima. Wati tidak bahagia, dia ingin bercerai dan pulang ke orangtuanya.”

Ilham menghabiskan sisa kopinya.

“Nina pulang malam ini, aku akan menjemputnya di bandara. Senin dia dapat off. Lumayan. Ada waktu dua hari,” kata Farid.

“Yakin, tidak kepikiran lagi menerima tawaran Nina untuk kawin lagi?” Ilham menggoda.

“Kau benar Ham. Kau selalu benar. Kau laki-laki yang baik. Aku iri juga padamu, punya istri yang 100% berdiam di rumah, menunggumu setiap waktu, melayanimu 24 jam sehari, wow. Seperti mimpi bagiku.”

Ilham tak berkomentar. Perempuan lain iri pada istrinya, yang dikira bahagia. Kini sahabat lelakinya iri padanya, karena istrinya selalu ada 24 jam sehari. Betapa berbeda persepsi orang dengan kenyataan.

“Aku pergi dulu ya. Salam buat Wati. Keep in touch. Dan, terimakasih nasehatnya. Aku tahu aku pergi ke orang yang tepat,” Farid menjabat tangannya dan berdiri.

Ketika Farid akan memanggil pelayan, Ilham mencegah, “Biar aku yang bayar. Simpan income-mu untuk menyenangkan keluarga.”

“Oke, thanks,” Farid berlalu. Meninggalkan Ilham yang sibuk dengan pikiran tentang nasibnya sendiri. Istri yang dicintainya minta cerai darinya. Itu sangat menyinggung perasaan, dan menyedihkan. Semua dia lakukan untuk perempuan itu dan dia tetap tidak terima. Bagaimana kalau dia bersuamikan seperti Farid, yang tidak menafkahinya? Ilham sulit mendapatkan solusi. Kepada siapa dia akan mengadukan halnya?

Sirikit Syah

September 2006

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s