Israel mengebom masjid dan rumah-rumah penduduk di Gaza, sudah biasa. Kali ini Israel mengebom rumah sakit, sekolah, dan kantor media. Barbagai tindakan keji di luar nilai-nilai kemanusiaan terpampang di depan mata dunia, dan dunia diam saja. Bila para politikus dan negarawan bernegosiasi di Sidang PBB tanpa hasil apa-apa, demikian pula para wartawan peliput perang. Mereka mengalami frustrasi yang belum pernah mereka alami sebelumnya. ”Saya telah meliput berbagai perang dan konflik, tetapi saya belum pernah sefrustrasi ini,” kata Hesna al-Ghaoui, koresponden televisi Hongaria, yang berulang kali mengajukan permohonan masuk ke Gaza, dan gagal.
Pemerintah Israel memang melarang media massa memasuki medan konflik. Agendanya jelas: menyembunyikan fakta kekejian. Lebih dari itu, Israel membohongi warga dunia dengan propagandanya di media massa: bahwa Hamas adalah teroris, bahwa warga Israel terancam, bahwa Israel hanya membalas serangan roket Hamas, bahwa Israel berhak mempertahankan diri.
Israel tak hanya melanggar Konvensi Jenewa tentang Aturan Perang serta Resolusi Gencatan Senjata PBB, tetapi juga mengabaikan Pasal 19 Deklarasi HAM Internasional tentang hak mendapatkan informasi. Media dunia dibungkam, sementara mesin-mesin propaganda bergerak di media siaran maupun dunia maya. Namun upaya Israel membungkam media dunia agaknya mengalami kendala. Para wartawan asing menuliskan kekesalan mereka dengan berbagai cara.
Menurut catatan harian Jeremy Bowen, wartawan BBC, sejak hari pertama serangan (27 Desember 2008), ratusan wartawan asing telah memohon ijin pemerintah Israel untuk dapat masuk/meliput ke wilayah Gaza, namun hingga sekarang ijin itu tak didapatkan. Asosiasi Pers Asing yang berkedudukan di Jerusalem telah melayangkan permohonan resmi pada Mahkamah Agung Israel, hasilnya hanya janji-janji, yang dibatalkan dengan mudah oleh militer Israel. Saat ini ada kira-kira 350 wartawan asing yang setiap hari berada di bukit tertinggi di perbatasan Israel-Gaza, dengan berbagai piranti teknologinya, meliput dari kejauhan. Karena tak mendapatkan apa-apa, para jurnalis mengungkap pengalamannya, yang memperburuk citra Israel sendiri.
”Pelarangan lembaga berita dalam meliput situasi Jalur Gaza menghalangi aliran informasi yang tidak bias kepada seluruh dunia,” kata John Daniszweski, Redaktur Pelaksana Associated Press. ”Israel tidak pernah melarang akses media seperti ini. Ini memalukan. Ini pengkhianatan prinsip yang diagungkan Israel sendiri,” ujar Ethan Bronner, Kepala Biro The New York Times di Jerusalem.
Media massa yang dikenal pro-Israel seperti The New York Times-pun mulai mengubah arah pemberitaannya. Demikian pula Wall Street Journal, yang secara tradisional amat pro-Israel. Kali ini koran bergengsi itu memuat opini yang menyatakan bahwa assault (perhatikan pilihan katanya: pen) yang dilakukan Isarel ini tak dapat dijustifikasi. Memang ada roket-roket Hamas ditembakkan sebelumnya, tetapi itu biasanya karena Israel menahan atau membunuh anggota Hamas. Lagipula, tulis koran itu, selama 6 bulan menembakkan roket, tak ada satu warga Israelpun yang tewas. Serangan yang dilakukan Israel dalam skala sebesar ini, tak dapat dibenarkan. Sikap anti-Israel juga ditunjukkan Larry Derfner, wartawan Jerusalem Post, yang menuduh Israel ”gila” karena berhalusinasi seolah-olah masih dikejar-kejar Nazi Jerman atau bala tentara Firaun.
Di luar wilayah media, simpati atas penderitaan rakyat Palestina juga ditunjukkan pemain sepak bola asal Mali yang tengah bermain di Spanyol. Dia mengenakan kaus bertuliskan ”Palestine” dalam lima bahasa saat berada di tengah lapangan permainan, sehingga mendapatkan kartu kuning. Banyak artis Hollywood minta gambar dan nama mereka diturunkan dari promosi perusahaan perhiasan milik Yahudi, yang ditengarai mensponsori migrasi warga Yahudi AS ke Palestina (wilayah pemukiman yang menjarah kebun dan pekarangan warga Arab Palestina).
Musisi Inggris Brian Eno menggambarkan kegilaan Israel dengan sarkasme yang telak: ”Gaza adalah sebuah uji coba provokasi. Taruhlah 1,5 juta orang di tempat yang sesak, putus akses air, listrik, pangan, dan obat-obatan, hancurkan kehidupan mereka, hinakan mereka setiap hari, dan …… surprise! … mereka lalu memusuhimu.”
Demi mendapatkan berita atau gambar, para fotografer asing terpaksa main kucing-kucingan dengan tentara Israel. Mereka yang ketahuan ditangkap, kamera disita, dan foto mereka dihapus. Ini mirip yang digambarkan oleh Robert Fisk dari pengalamannya di Irak, dengan istilah Mouse Journalism (meliput dengan cara mengendus seperti tikus, lalu buru-buru kabur dari area liputan sebelum ditangkap). Di Palestina, fenomena jurnalisme ini bernama cat-and-mouse journalism: jurnalisme kucing-kucingan.
Para fotografer itu akan merayapi semak belukar, berhenti beberapa ratus meter dari persenjataan berat Israel. Mereka menunggu momen yang tepat untuk memotret saat meriam itu menembakkan roket ke Gaza. ”Ini permainan kucing dan tikus. Polisi militer di mana-mana. Mustahil bekerja seperti ini,” ujar seorang fotografer.
Bagaimana dampak pelarangan wartawan meliput perang? Dari sudut pandang konsumen media (warga dunia), ini berarti menyembunyikan fakta sebenarnya. Fakta yang dipelintir atau dikelirukan, berdampak pada opini, sikap, dan tindakan masyarakat yang keliru pula: Kongres AS mendukung agresi Israel, banyak orang percaya bahwa Israel adalah Daud dan Hamas adalah Goliath, bahkan ada gerakan Moslems against Hamas di Timur Tengah. Seperti saya ungkapkan saat mendirikan Lembaga Konsumen Media tahun 1999: ”Racun pada makanan hanya akan merusak perutmu. Namun racun informasi dapat membunuh, membunuh secara massal, membunuh sebuah bangsa.”
Meskipun demikian, ada akibat yang kurang diperhitungakn oleh Israel. Pelarangannya meliput bukannya membuat media asing kekurangan berita. Mereka malah berlomba-lomba melaporkan catatan harian wartawan, uneg-uneg fotografer, laporan yang sarat opini, one-sided (berpihak). Citra dan kredibilitas Israel hancur karena strateginya sendiri.
Sirikit Syah 11 Januari 2009