Hanya di Amerika


 

barack-obama1

Pelantikan Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat menggantikan George Bush, Selasa lalu, boleh dikata sebagai pesta perayaan penobatan kepala negara termegah sepanjang sejarah. Kabarnya, di Washington saja, pesta itu menghabiskan tak kurang dari Rp 1,5 triliun rupiah. Belum di kota-kota atau di belahan dunia lain, dimana rakyat juga merayakannya. Perusahaan media pun tentu mengeluarkan biaya yang amat besar agar upacara spektakuler itu tersiar ke seluruh dunia.

 

Agak sulit sebetulnya membayangkan Pensylvania Avenue dibanjiri dua juta orang (bahkan ada yang menulis 4 juta). Kota kecil Washington, D.C hanya berpenduduk sekitar 500 ribu orang. Jutaan hadirin itu pasti rakyat yang bergembira, yang berdatangan dari seluruh penjuru negeri; atau turis dari penjuru dunia yang ingin menjadi saksi sejarah di awal abad 21 ini.

 

Ya, inilah sejarah dunia yang amat penting, karena penobatan Obama sebagai Presiden AS ke 44 amat berarti bagi seluruh dunia. Di Kenya, diadakan “pelantikan” serupa; di medan pertempuran Palestina, kedua belah pihak melakukan gencatan senjata; di Indonesia, kita merasa “seorang dari kita” berada di sana.

 

Inilah mimpi yang menjadi kenyataan. Hanya di Amerika, mimpi yang amat musykilpun bisa jadi kenyataan. Gloria Estevan, pelarian dari Kuba, menjadi penyanyi tenar di Amerika. Arnold Schwarzenegger, pendatang dari Polandia yang tak pandai berbahasa Inggris, menjadi aktor terkenal lalu menjadi Gubernur California. Rupert Murdoch, raja media asal Australia yang menguasai Inggris, India, dan HongKong, sulit masuk AS pada awalnya karena hambatan kewarganegaraan. Ketika dia mendapatkan kewarganegaraan itu, Murddoch membangun Fox TV yang menyaingi CNN, kemudian mengambil alih The Wall Street Journal .

 

Baru kemarin, sebuah film yang berlatar India, ditulis dan dimainkan oleh seniman-seniman India, terpilih menjadi film terbaik dan sutradara terbaik di ajang Golden Globe. Sekarang, seorang berkulit hitam dari kalangan minoritas (kulit hitam di AS kira-kira kurang dari 15% populasi), bernama tengah Hussein, bisa jadi presiden Amerika. Apakah ini tidak mencengangkan? Banyak orang Amerika sendiri bercanda tentang nama Obama.

“Apa, Osama?” tanya seseorang.

Atau, “Hussein? Bukan Sadam, kan?”

 

Hanya di Amerika orang seperti Obama bisa menjadi presiden. Coba kita bayangkan di negara kita sendiri, bisakah Kwik Kian Gie menjadi presiden? Atau Ram Punjabi menjadi wakil presiden? Atau Alim Sutrisno menjadi Gubernur Jawa Timur? Mari kita mulai berpikir dan menghayati secara sungguh-sungguh hakekat demokrasi, pluralisme, dan egalitarianisme.

 

Dua-tiga tahun yang lalu, kenalan-kenalan saya di Konsulat Jendral AS memberi signal pesimistis. “Obama hanya terkenal di luar negeri, terutama di Indonesia dan di Kenya. Di dalam negeri, dia tak mungkin mendapatkan cukup suara,” kata salah seorang dari mereka. September tahun lalu, di kampus MIT di Boston, setiap dosen yang saya jumpai mengaku pro Obama, termasuk Dekan Sloan Management School. Tapi mereka berusaha realistis. “Kami semua akan mencoblos Obama, tapi kami tak terlalu berharap dia akan menang,” kata mereka. Beberapa dosen MIT yang belum warga negara AS (misalnya dari Jerman), mengaku mendukung Obama dengan cara menyumbang dana kampanye, karena tak bisa mencoblos.

 

Orang-orang di Amerika yang begitu suka cita menyambut perubahan, tetap pesimistis bulan September itu. Rekan seperjalanan saya kebetulan bernama Reino Barack, dan dia mendapatkan sambutan ramah luar biasa di airport. Nama Barack dan nama Indonesia membuatnya disambut hangat. Padahal Barack Obama berwajah Afrika, sementara Barack Indonesia ini berwajah dan berkulit Jepang (maklum ibunya orang Jepang). Pendeknya, orang-orang di Amerika menjadi amat ramah pada Indonesia dan orang bernama Barack atau Hussein. Sesuatu yang terbayangkan satu atau dua tahun yang lalu.

 

Barack Obama adalah perubahan (change) itu sendiri. Tak sekadar change, dia juga hope. Simak pidatonya saat pelantikan: “Kita sadar bahwa kita berada di tengah-tengah krisis. Negara kita tengah berperang, melawan jaringan kekerasan dan rasa kebencian yang telah merambah begitu jauh. Ekonomi kita juga terpuruk, sebagai akibat kerakusan dan tindakan tak bertanggungjawab sementara orang.” Itulah pengakuan Obama secara resmi di hadapan rakyatnya. Memang berat sekali beban di pundaknya. Dia harus mencuci piring Bush di Irak. Dia harus segera menentukan sikap di Palestina, sementara banyak problem domestik juga menunggu gebrakannya.

 

Sungguh aneh dan menarik bagi saya, warga Indonesia dari suku mayoritas (Jawa). Kelapangan dada orang-orang kulit putih, juga kulit berwarna lain selain hitam, terhadap kepemimpinan seorang berkulit hitam, amat patut diteladani. Sesungguhnya saya dulu mendukung Habibie, meskipun dia bukan orang Jawa. Saya juga akan mendukung Kwik Kian Gie, kalau dia mau maju. Pada akhirnya, satu pelajaran yang kita dapat dari pelantikan Obama adalah: agama, suku, dan warna kulit tidak relevan. Yang penting adalah karakter, kepribadian, rekam jejak, visi, keteladanan, dedikasi.

 

Kemenangan Barack Obama adalah kemenangan anak-anak muda, yang berbondong-bondong mengisi kotak suara. Juga, kontribusi besar dunia media, terutama media online. Para blogger independen terus menerus membantu Obama berkampanye. Hasilnya: Obama menang dalam pemilu yang paling banyak diikuti oleh rakyat Amerika.

 

Barack Hussein Obama (saya senang menuliskan nama tengahnya), berdarah Afrika, kerabatnya masih banyak di Kenya, menghabiskan masa kecil di Indonesia, seseorang dari kalangan ‘pinggiran’, kini adalah Presiden sebuah negara superpower. Semua media atau tokoh yang pernah mengejeknya (antara lain the New Yorker yang memuat karikaturnya berpakaian Muslim di halaman depan), kini bungkam.

 

Kita semua sekarang menunggu Obama menjawab pertanyaan paling besar dalam hidupnya: Bagaimana dia menghadapi lobi zionist dan mengatasi persoalan di Timur Tengah dengan damai dan memuaskan kedua belah pihak? Kita tunggu kiprah sang Perubahan (Change) dengan penuh Harap (Hope). Seperti pidatonya: “Pada hari ini, kita berkumpul karena kita telah memilih Harapan daripada Rasa Takut”. Semoga Obama tidak takut pada lobi zionist yang selama 60 tahun membuat dunia bertekut lutut.


Sirikit Syah

22 Januari 2009

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s