Mencoba Memahami Yahudi


 

 

TalmudSaya tak begitu banyak mengenal Yahudi, belum pernah ke Israel. Yang saya tahu tentang Yahudi Cuma dari film-film. Di film The Passion karya Mel Gibson, Yahudi digambarkan amat buruk: culas, pengkhianat Kristus. Pantas saja film ini diboikot oleh bioskop mainstream milik para juragan Yahudi di Amerika Serikat. Toh, The Passion termasuk film paling laris –bersama Fahrenheit  911 karya Michael Moore yang menghubungkan koneksi keluarga Bush dengan keluarga Osama Bin Laden- tahun 2004 itu di AS.

 

Saya juga menyaksikan keculasan sodagar Yahudi di film The Merchant of Venice, yang dibintangi Al Pacino dengan sangat mengagumkan. Film Kingdom of Heaven yang disutradarai orang Inggris, Ridley Scott, mengungkapkan sejarah perebutan Jerusalem di abad 12, dan dia malah memotret Muslim dengan sangat positif, dan memotret kaum Nasrani dan Yahudi sebaliknya.

 

Tapi saya punya teman baik perempuan Yahudi, Silvia Hunter, usianya kira-kira 80 tahun, tinggal di Manhattan, New York. Perempuan yang hidup sendiri ini, tanpa mengenal saya lebih dulu, dengan tanpa prasangka menampung saya di rumahnya selama tiga hari tiga malam. Tahun 1994 itu saya seorang mahasiswa di Syracuse yang ingin mencicipi New York di saat liburan. Tak cuma member akomodasi gratis, Silvia juga memperkenalkan saya pada high culture di Kennedy Centre (kami menonton balet yang pasti mahal sekali tiketnya). Dia juga mengajak saya bertamu ke teman-teman Yahudinya, mengajak makan di restoran Afrika bersama teman yang lain. Kami ngobrol tak ada habisnya, dari ruang makan ke tempat tidurnya. Dia banyak bertanya tentang perempuan Indonesia, Islam, dll. Dia sendiri bercerita: lari dari Rusia di tahun 1920an bersama orangtuanya, orangtuanya meninggal di perjalanan, hidup sendiri di AS, menikah, ditinggal suami. Kami seperti anak dan ibu yang amat dekat.

 

Tahun 2004 ketika saya ke AS lagi, dia mencari saya dan kami bertemu meskipun hanya sekadar makan siang. Lagi-lagi dia yang traktir (pecahlah mitos saya tentang Yahudi yang pelit). Akhir tahun 2004 ketika Tsunami melanda Aceh, dia menelepon saya dari New York dengan suara risau. Dikiranya Aceh dekat dengan Surabaya dan saya mengalami kesulitan.

 

Itulah seorang Yahudi yang menjadi teman saya. Dosen saya di Syracuse University juga Yahudi bernama John Hottenstein. Saya kuliah tahun 1994-1995, namun ketika saya kembali tahun 2004, dia dan istrinya mengundang saya makan di rumahnya. Seorang teman lagi adalah tentara Israel. Kami tak pernah bertemu muka, tetapi kami kerap berkirim email. Seharusnya dia menjadi fellow di fellowship yang sama dengan saya tahun 2004, namun dia batal hadir. Saya kontak dia lewat email, dia membalas dengan ramah, lalu kami berkorespondensi hingga sekarang.

 

Steven Spielberg, sutradara favorit saya, adalah Yahudi yang memiliki perhatian lintas agama. Trilogi Indiana Jones-nya menceriterakan kisah agama Yahudi, Hindu, dan Nasrani. Di filmnya yang relatif baru, Munich, dia menggambarkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri intelijen Israel yang ditugaskan menghabisi para pejuang Palestina.

 

Dalam diskusi dan perdebatan tentang peristiwa keji di Gaza, Palestina, ada kecenderungan besar orang menggebyah-uyah bahwa semua Yahudi patut dikutuk dan dimusuhi. Saya ingin menyampaikan beberapa informasi yang mungkin dapat memperluas wawasan kita. Di dalam negeri Israel sendiri, parlemen terpecah. Artinya, ada kalangan petinggi Israel yang menentang tindakan keji itu. Lalu, ada banyak sekali LSM yang aktivitasnya adalah menentang kekejaman Israel. Di antaranya para ibu yang menamakan dirinya Women in Black.

 

Dalam buku Dina Y. Sulaeman “Ahmadinejad on Palestine”, digambarkan, ibu-ibu ini selalu mengenakan pakaian hitam, berdiri di seluruh penjuru kota, di sudut-sudut jalan, memprotes agresi militer Israel dan pemukiman liar di tanah Palestina. Meskipun panas atau hujan, diejek dan dihina warga Isarel lainnya, mereka tetap tegak berdiri. Kadang-kadang mereka berkumpul di sebuah arena, lalu seseorang berpidato. “Wahai para ibu bangsa Israel, lihatlah anak-anak kalian yang gagah perkasa, cantik rupawan, cerdas dan tangkas. Anak-anak yang kalian bangga-banggakan itu adalah pembunuh perempuan dan anak-anak. Mereka diajari dan diperintah oleh komandan mereka untuk menjadi mesin pembunuh. Wahai ibu-ibu, hentikan kekejaman ini. Cegahlah anak-anak Anda menjadi monster pembunuh warga tak berdosa.” Begitu antara lain bunyi pidato mereka.

 

Beberapa wartawan dan penulis Israel juga mulai mengkritik militer dan pemerintahan mereka sendiri. Kelompok yang menamakan diri Jews in New York juga memprotes agresi Israel. Para Yahudi ini berkeyakinan bahwa “Bukan ini yang dicita-citakan oleh nenek moyang kami tentang negara bagi bangsa Yahudi.” Sejumlah besar seniman dan ilmuwan di Inggris, sebagian di antaranya Yahudi, malah lebih tegas: “Kita harus berpihak, yaitu pada Palestina. Israel tak dapat dibenarkan.”

 

Jadi, agak sulit bagi saya untuk mengutuk semua Yahudi. Yang harus dikutuk adalah paham zionisme yang berambisi memusnahkan etnis/ras lain selain Yahudi di tanah Palestina. Dari dulu Yahudi, Islam, dan Nasrasni tinggal bersama di wilayah ini. Ini menjadi kacau sejak Zionist mendapatkan “hadiah” dari Inggris berupa tanah Palestina sebagai negara mereka. Zionist kemudian mengusir semua orang Arab. Pada agresi terakhir, mereka membunuhi perempuan dan anak-anak. Mereka mematikan pertumbuhan/populasi ras Arab. Mereka melakukan genocide.

 

Bagaimanapun, saya yakin Israel akan runtuh. Bila tidak secara fisik,  martabat mereka telah berada di tingkat terendah di mata dunia. Buruknya citra Israel saat ini hanya merupakan satu pertanda bahwa Zionist telah berada di ambang kehancuran.

 

Sirikit Syah

Surabaya, 20 Januari 2009

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s