Salah satu santapan informasi kita sehari-hari adalah berita internasional. Di televisi maupun suratkabar, selalu tersedia halaman dan durasi khusus untuk berita internasional. Namun bila kita perhatikan, sebagian besar pilihan berita internasional di media kita ber”selera barat”.
Lihat saja kasus Sudan. Selama ini rakyat Indonesia mendapat asupan informasi bahwa di Sudan terjadi penindasan pusat kepada daerah, kekejaman pemimpin negara kepada rakyatnya sendiri, bahkan dugaan genocide terhadap penduduk non-Muslim yang minoritas. Presiden Sudan, Umar Basyir, kini dalam status ditarget untuk ditangkap bila bepergian ke luar negeri.
Sekitar tahun 1994-1995 ketika saya berkuliah di AS, saya berinteraksi dengan banyak fellow dari Afrika. Seorang teman dari Rwanda harus buru-buru pulang sebelum fellowshipnya selesai karena terjadi pembantaian antar suku (Huttu dan Tutsi) di tanah airnya. Kelak kisah lengkapnya lebih saya pahami dari film Hotel Rwanda dan Sometimes in April. Memang lebih satu juta orang tewas saat itu, dan salah satu provokatornya adalah seorang penyiar radio.
Tahun itu memang tahun penuh pergolakan. Teman dari Bosnia tidak tenang belajar karena harus sering menelepon putranya. Kadang-kadang putranya menelepon di sela-sela desingan peluru. Seorang fellow dari Palestina hilang sebelah penglihatannya, oleh-oleh dari penjara Israel. Fellow dari Aljazair yang gaya berpakaiannya sangat Eropah, menulis surat segera setelah kembali ke tanah airnya, bahwa kaum fundamentalis memenangkan Pemilu dan dia akan terpaksa hidup dengan pakaian serba tertutup.
Fellow dari Sudan, seorang perempuan berpakaian tertutup rapat, tinggi besar, dan teguh dalam setiap perdebatan. Pada masa itu, sosoknya dan argumen-argumennya mengesankan sebuah negara Islam yang kuat dan penuh percaya diri di Afrika. Yang kami semua tidak menyadari, pada saat itu Sudan sudah menjadi ’incaran’ pihak-pihak yang tak menginginkan perdamaian, atau kejayaan Islam, di tanah Afrika. Sebagai sebuah negara Islam yang kuat, Sudan dianggap ancaman. Pada tahun 1994 itu, ada misi asing yang bermaksud melemahkan kekuatan Sudan. Konspirasi yang terungkap pada Muktamar Afrika VII di Kampala, Uganda, ini menyebutkan adanya ’rencana asing’ memecah Sudan menjadi empat negara kecil, yaitu Darfur, Elija, Sudan Selatan, dan negara kecil di bagian Selatan Arab.
Saat ini, propaganda barat terus menyiarkan terjadinya pertumpahan darah di Sudan. PBB mengatakan ada 300 ribu orang tewas, versi pemerintah (Khartoum) yang dikutip www.eramuslim.com menyebutkan hanya 10 ribu. Versi pers barat mengatakan, itu karena upaya genocida pemerintah pusat pada kaum pemberontak mayoritas nasrani yang ingin memerdekakan diri; pemerintah mengatakan itu karena konflik antar suku.
Menurut sumber www.eramuslim.com, ada banyak kepentingan asing di Sudan, mulai dari misi agama (misionaris kristen), penjarahan kekayaan sumber daya alam (minyak, emas, uranium), pemecah-belahan bangsa (karena banyak suku dan bahasa, seperti di Indonesia), bahkan semata-mata misi dagang (perdagangan senjata di kawasan Afrika). Saat ini sudah berdiri sebuah gereja di Darfur dan terdapat tak kurang dari 258 LSM asing, serta beberapa kelompok bersenjata yang saling serang.
Sumber-sumber barat tentu menunjukkan data-data adanya milisi Janjaweed dukungan pemerintah yang terus menekan rakyat di Sudan Selatan. Namun ada data lain yang luput dari ekspos media kita, yaitu latar belakang mengapa dimunculkan Janjaweed. Menurut versi yang berbeda, Janjaweed sengaja diterjunkan untuk melawan pemberontakan bersenjata dukungan asing, seperti SLA (The Sudan Liberation Army) dan JEM (The Justice and Equality Movement). Justru Janjaweed melindungi rakyat yang jauh dari jangkauan pusat dari kekejaman para pemberontak bersenjata itu.
Saat ini ICC (International Criminal Court) sedang mentarget Baasyir. Bagi kalangan Islam, ini tindakan tebang pilih, karena ICC tidak berbuat apa-apa pada para pemimpin Israel ketika mereka membantai warga sipil termasuk anak-anak di Jalur Gaza. Saya jadi teringat film Richard Gere yang terakhir, The Hunting Party. Film itu sangat bagus menggambarkan wajah buruk semua badan internasional (PBB, NATO) dalam perang di Bosnia. Tokoh dalam film, seorang wartawan, berhasil menemukan pembantai Muslim Bosnia yang bersembunyi di Serbia, hanya dalam 5 hari. Para badan dunia itu sudah lebih dari 10 tahun tidak berhasil menangkapnya. Ini amat mirip realitanya. Baru belakangan ini saja (setelah film itu beredar), seorang penjahat perang Serbia yang dicari-cari, ditemukan dan diadili. Kesengajaan untuk tidak menemukan sang penjahat perang, seperti digambarkan film Richard Gere, boleh jadi nyata adanya.
Terlalu jauh bagi kita di Indonesia untuk tahu kebenaran dari setiap peristiwa internasional. Kadang-kadang bahkan kita dapat lebih percaya kepada fiksi daripada catatan sejarah atau pemberitaan media. Tentang potret pemegang kekuasaan di Afghanistan yang berganti-ganti, paling mudah saya pahami dari penggambaran jujur di novel The Kite Runner. Bagaimana kaum Mujahidin/Pejuang yang berhasil mengusir Rusia disambut bak pahlawan, lalu diberi kekuasaan, ternyata belakangan amat mengecewakan. Disusul munculnya kaum Taliban/Terpelajar yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi Afghanistan yang porak poranda, juga lebih semena-mena dengan kekuasaannya.
Fiksi memang selalu melangkah lebih maju dan lebih jauh daripada politik. Beberapa tahun yang lalu kita semua menyaksikan Morgan Freeman menjadi Presiden di film Deep Impact, dan kita mentertawakan “kegilaan” sineas AS berangan-angan memiliki presiden berkulit hitam. Sekarang kita malu pada ‘kedunguan’ kita sendiri.
Kembali pada realita non-fiksi, kita berharap media massa lebih jujur dalam memberitakan peristiwa internasional. Mungkin sulit disajikan kebenarannya, namun menyajikan sumber-sumber yang berbeda setidaknya dapat membantu kita memahami kasusnya dengan lebih baik.
Sirikit Syah, 14 Maret 2009
Salam.
Saya khawatir bu, kata atau bahasa menjadi sebuah tirani untuk menindas bangsa-bangsa lemah. Pakar linguistic dari MIT AS, Prof Noam Chomsky pernah gusar akan hal ini, terutama terhadap bangsanya sendiri yang turut andil dalam menggunakan bahasa sebagai alat menindas.Ia lebih berbahaya daripada pada atom
. Oh ya Bu sirikit, saya add blog ibu di tautan blog saya. tks.he,he…
Ya, saya banyak mengutip para pemikir yang concern terhadap pemakaian atau penyalahgunaan bahasa, seperti Kong Hu Cu dan Chomsky. Coba lihat tulisan saya di Rubrik Selamat Sore yang judulnya mengandung kata ‘bahasa’. Banyak wawasan ttg penyalahgunaan bahasa oleh media sehingga menyesatkan publik, di tulisan-tulisan saya itu. Mungkin ada gunanya. Trims sudah mampir dan mentautkan ke blog Anda.
Mereka berjuang memperburuk citra denngan berbagai cara… salah satunya melalui pesan-pesan email yang bersifat personal ke pemuda-pemuda di negara muslim -agar jadi pacar mereka-(mereka biasanya seolah-olah gadis afrika yang menjadi korban janjaweed. lengkap dengan cerita tragis dramatis. Tapi photo yang ditampilkan, gadis afrikaan berbaju binal dalam perlindungan LSM Asing.. Mungkin yang lain juga pernah mendapatkan modus seperti ini. Sehingga yakin ada kekejaman Janjaweed…) semoga tak tertipu..
Itulah gunanya gerakan media watch, pemberdayaan konsumen media. Sebagai pembaca/pemirsa/pendengar, kita mesti berdaya agar tak mudah hanyut oleh penyesatan opini media. Silakan tengok website http://www.lkm-mediawatch.org.
Salam kenal Mba Sirikit.
Wah, blog Mbak aku liat masuk golongan tercepat menanjak di statistik wordpress. Tapi, memang wajarlah karena memang isinya bagus2. Sang empunya juga dah beken.
Namun, yang lebih penting adalah sikap keberimbangan (adil) Mba Sirikit yang selama ini konsisten (sejauh beberapa kali yang sempat kubaca; antara lain mungkin di milis jurnalisme) ditampilkan Mba. Postingan ini pun menurutku begitu. Lah, memang benar Mba, Barat itu kok ya terus begitu ya. Dari soal Palestina hingga nuklir, kok ya Israel terus yang dibiarkan semau-maunya, tapi sebaliknya Palestina dirugikan terus, Iran juga, lalu Korea Utara (soal nuklir).
Wis, klo gak inget ma akhlak Nabi Muhammad mah mending kita perang terus aja ma Barat. Makanya, dari segi tertentu, kadang terorisme vs Barat itu bisa juga menimbulkan sikap “heroik”.
Dah, gak taulah, absurd nih dunia (barat).
Eh, Mba aku taut jadi sumber rujukan ya.
Ya, harus ada seseorang yang mengawasi ketidakadilan media barat (atau Indonesia) terhadap Islam. Saya hanya salah satu di antaranya, yang jumlahnya juga mungkin masih amat sedikit. Mau bergabung? Silakan ditaut sebagai rujukan dan semoga memberi manfaat bagi banyak orang.
karena itu dibutuhkan semacam LKM-MediaWatch Mbak, setidaknya saya jadi tahu adanya pemberitaan yang tidak seimbang. Walaupun memang sangat sulit untuk itu, karena media tidak bebas nilai.
Maaf mbak, ada postingan yang dihilangkan ya?
Mohon do’a dan dukungannya agar LKM-MediaWatch tetap eksis. Media punya agenda seting, dan media memang berpihak, nah… keberpihakannya itu ke siapa….? Betul, Artikel/makalah tersebut untuk konsumsi seminar, setelah saya perhalus akan saya publis ulang, untuk menghindari ada pihak yang tersinggung, mohon maaf……@masjaliteng.