Betapa efektifnya dialog tiga sektor untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik. Sepanjang awal pekan ini kami 29 fellow IDEAS dari tiga sektor yang berbeda (pemerintah, bisnis, civil society), bertemu di Bandung. Kami terbagi dalam beberapa kelompok kecil yang membuat prototype “membuat Indonesia lebih baik dengan sinergi tiga sektor”. Ada yang di bidang pemberdayaan ekonomi perempuan. Ada yang membangun kesadaran higienis di sebuah pedesaan di Tapanuli Selatan dengan membangun toilet umum dan pribadi.
Tim lain membangun ekonomi kerakyatan dengan membina usaha-usaha kecil, termasuk pedagang bakso Obama. Ada pula yang ingin mengatasi persoalan banjir Jakarta. Tim kami ingin membangun sekolah jurnalisme agar jurnalis masa depan benar-benar menjalankan peran dan fungsinya dengan lebih baik.
Dari presentasi masing-masing tim atas prototype mereka, menggunakan Theory-U yang kami pelajari di Sekolah Manajemen di MIT, Boston, tampak betapa efektifnya bila orang-orang dari tiga sektor berkolaborasi. Bupati Tapanuli Selatan mengaku, gagasan pembangunan karakter yang diusungnya (bukan sekadar membangun toilet) tak akan berhasil tanpa dukungan kalangan dunia usaha dan civil society. Prototype ini melibatkan fellows dari Universitas Indonesia, The Jakarta Post, Media Group, dan Andy Noya Foundation.
Tim kami (media ethics) juga tidak mungkin berjalan baik tanpa dukungan seorang anggota tim yang adalah seorang PNS di Departemen Perdagangan. Atas dorongan dan fasilitasnya di Departemen Perdagangan, kami telah membuat Dialog Tiga Sektor membahas persoalan media pertengahan Maret lalu, dihadiri para tokoh dunia usaha, pemerintah, dan civil society. Hasil dialog sedang diolah untuk langkah selanjutnya menuju pembentukan lembaga media ethics atau sekolah jurnalisme di Indonesia.
Ketika kami duduk melingkar di taman hotel Sheraton Dago, atau duduk berempat di sesi case-clinics (membahas persoalan leadership dan mencari solusinya dengan contoh nyata kisah kami masing-masing), saya melihat banyak yang dapat dilakukan, dan berdampak besar, bila kita mau menghapus segala prasangka. Prasangka bahwa orang pemerintah selalu slow motion dan stagnan buyar karena progresifnya rekan kami dari Departemen Perdagangan. Di sela-sela kesibukannya menjalin kerjasama perdagangan antar negara, dia memfasilitasi Dialog Tiga Sektor tentang persoalan media massa, termasuk mendatangkan Menteri Marie Pangestu.
Prasangka bahwa kalangan bisnis tak peduli apapun selain profit, juga bubar setelah kami berhadapan dengan para pebisnis yang amat peduli pada perbaikan lingkungan, pendidikan wartawan, dan pemberdayaan perempuan miskin perkotaan. Dan kalau kita sudah terlalu banyak mengecam kebablasan media massa, saya jadi ingat pertanyaan Nono Anwar Makarim dalam Dialog Tiga Sektor. Ahli hukum sekaligus pengamat media ini bertanya: “Berapa sih jumlah pers yang kebablasan? Apakah oplagnya signifikan?” Bergaul dengan para fellows dari media seperti Endy Bayuni, Kris Hartadi, Andy Noya, Putra Nababan, kita masih bisa berharap banyak pada pers Indonesia.
Dalam pertemuan para fellow di Bandung awal pekan ini, ada juga fenomena lucu berbau politik. Meskipun di waktu senggang sebetulnya kami lebih suka bertukar lelucon, tak bisa tidak, kami membahas masalah politik. Seorang rekan dari UI mengatakan akan pindah ke luar negeri kalau Prabowo jadi presiden. Seseorang menirukan iklan Prabowo dengan bersuara seperti Prabowo: “Saya, Prabowo Subianto. Ngeri nggak?” Dan kami semua tertawa terpingkal-pingkal.
Tak sedikit orang, saya di antaranya, yang berargumentasi bahwa people change. Lagipula, dari semua kampanye rayuan gombal belakangan ini, program Partai Gerindra termasuk yang paling jelas, terutama di point pendidikan & kesehatan. Yang paling menggembirakan adalah adanya janji pencabutan BHP (Badan Hukum Pendidikan) –yang kontroversial itu, pembagian laptop untuk mahasiswa, revolusi putih (susu untuk anak-anak sekolah di seluruh Indonesia), dll. Sementara ada partai lain yang plin-plan: semula mengecam BLT, tapi belakangan meng-klaim bahwa BLT adalah ide partainya. Sebuah strategi atau konsep kampanye yang kabur.
Kami tentu saja membahas Golkar, karena tiga fellows adalah orang-orang kepercayaan Surya Paloh di Media Indonesia Group; juga Partai Demokrat, karena ada fellow yang nyaleg dengan bendera Demokrat. Yang menjadi bahan tertawaan kami adalah poster-poster numpang beken seperti: ”Saya papanya Nia Ramadhani”, atau ”Saya papanya Cynthia Lamusu”, atau ”Saya istrinya Fadel Mohammad”, dan di Surabaya ada ”Saya anaknya Cak Narto, Mantan Walikota Surabaya”.
Fellow yang terjun ke dunia politik sempat menitikkan air mata sambil mengucapkan: ”Lega juga akhirnya bertemu orang-orang normal.” Senang juga kami disebut normal. Mungkin itu karena kami berinteraksi dengan sesama manusia tanpa memandang kelas dan golongan dan tanpa agenda apapun.
Alangkah indahnya kalau semua rakyat Indonesia memandang penuh harapan ke depan, percaya pada perubahan, dan mensinergikan semangat dan niat baik. Seperti kata seorang fellow, Yohanes Surya, pelatih fisika yang juga Rektor Universitas Multi Media, ”Kalau kau punya mimpi, dan kau melangkah untuk meraihnya, seluruh semesta akan mendukungmu.” Konsep ’Mestakung’ Prof. Surya kini menjadi pegangan bagi kami. Memperbaiki Indonesia pasti bisa. Lakukan dialog tiga sektor, hapus prasangka, maka semesta akan mendukung.
Sirikit Syah, 4 April 2009
maka jauhilah diantara kamu syak wasangka, tapi mungkin belum terbiasa Mbak…
sinergi 3 sektor pasti yang kita harapkan, hanya dari pengalaman yang menimbulkan su’uzon, masing-masing sektor berjalan sendiri2 dan mau menangnya sendiri. sangat indah Mbak kalau kita saling membantu bukan hanya saling menjatuhkan…
Ya, mari kita mulai dari lingkup terkecil.