
Kartini Sang Legenda
Islam mengajarkan, seorang ibu harus pintar, karena ibulah yang mendidik anak-anak, membangun generasi. Itu sebabnya perempuan dalam Islam diperbolehkan, bahkan dianjurkan bersekolah. Banyak warga Indonesia keturunan Arab di Indonesia yang putrinya bersekolah hingga S1-S2, meskipun kelak hanya menjadi ibu rumah tangga (di antaranya teman-teman saya sendiri). Bagi kalangan keluarga Arab ini, menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan main-main. Engkau harus pintar.
Mungkin prinsip inilah yang juga mendasari gerakan pendidikan perempuan yang dicetuskan Kartini di penghujung abad 19 memasuki abad 20. Ketika Kartini berjuang mengadakan pendidikan bagi kaum perempuan, cita-citanya tentu bukan untuk mencapai kesetaraan di segala bidang dengan laki-laki, atau menjadi wanita karir yang sukses. Tujuan Kartini jelas seperti suratnya kepada Tuan dan Nyonya Anton, 4 Oktober 1902:
”Pekerjaan memajukan peradaban manusia haruslah diserahkan kepada perempuan. Dengan demikian maka peradaban itu akan meluas dengan cepat dalam kalangan bangsa Jawa. Ciptakan ibu-ibu yang cakap serta berpikiran, maka tanah Jawa pasti akan mendapat pekerja yang cakap. Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkannya kepada anak-anaknya. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula, sedangkan anak laki-laki akan menjaga kepentingan bangsanya.”
Sebagai seorang putri Jawa yang dibesarkan di lingkungan feodal, dia melihat betapa penting bekal pengetahuan perempuan bagi kehidupan yang lebih luas. Membangun sebuah generasi bangsa memang harus dimulai dari lingkup terkecil: rumah, lingkungan tempat tinggal, masyarakat terdekat. Bukankah saat ini kita telah melihat banyak ironi di sekitar kita? Istri berkarir, suami kehilangan pekerjaan. Ibu mengajar di sekolah A, anak dikirim ke sekolah B. Ibu mendidik anak orang lain, anak sendiri diasuh pembantu. Ibu makan siang dengan relasi, anak menonton televisi sesuka hati. What’s the point? Mengenang Kartini saat ini, kita patut mengajukan pertanyaan kritis itu pada diri kita sendiri: ”What’s the point of us getting high education? What for?”
Sejak SD kita belajar tentang Ibu Kita Kartini sebagai pejuang kaumnya. Habis Gelap Terbitlah Terang kita maknai sebagai ”habis kebodohan terbitlah pencerahan”. Kartini percaya bahwa ”Hidup itu indah bila dalam kegelapan kita melihat cahaya terang.” Dalam persepsi saya, ”cahaya terang” itu bukan persahabatannya dengan orang-orang Eropah, atau ilmu yang didapatnya, melainkan perkawinannya dan perkenalannya dengan Islam.
Memang tak sedikit tulisan yang mengusik perkawinan Kartini dengan pemikiran-pemikiran anti-poligami. Kartini dianggap mulai melemah dan akan membunuh perjuangannya sendiri. Bila kita simak surat-suratnya, Kartini tampak sibuk dan gencar membantah atau menolak ’sebuah ajakan/ajaran’ yang berlawanan dengan kemauannya. Memang benar bahwa gairah belajar Kartini menurun ketika guru agamanya mengecam bahkan melarang perempuan menggunakan otaknya dalam memahami AlQuran. Namun skeptisismenya terhadap Islam itu terjadi pada saat dia remaja. Dan semua anak remaja pasti mengalami masa ’pemberontakan’ terhadap segala sesuatu. Untuk Kartini, pemberontakan itu bukan hanya pada otokrasi para ulama, tetapi juga pada feodalisme, perkawinan poligami ayahnya, penjajahan Belanda, dll. Menjadi kurang adil bila surat-surat Kartini yang dianggap sebagai ”jalan pikiran Kartini” itu diseleksi dari surat-suratnya di masa dia remaja dan penuh pergolakan jiwa.
Ada kebenaran yang lain yang tersembunyi, yaitu kebenaran yang muncul ketika Kartini beranjak dewasa. Ketika semakin memahami Al-Quran, Kartini kemudian mendorong penterjemahan dan penyebarluasannya. Keputusannya menikahi bupati yang telah beristri juga bukan keputusan membabi-buta atau karena dipaksa. Kartini memiliki waktu yang cukup untuk mengenali calon suami dan mempertimbangkan keputusannya. Selain mengagumi dan mencintai calon suaminya, Kartini menikah juga dilandasi cita-cita besarnya: agar memiliki resources lebih besar untuk mendidik anak-anak perempuan dan menyebarluaskan Islam.
Salah satu cuplikan suratnya tentang suaminya cukup menggambarkan bagaimana sosok sang suami: ”Saya merasa mendapat hak istimewa di atas ribuan orang untuk mengarungi hidup di samping seorang pria yang demikian luhur.” Di surat yang lain, Kartini menyebut calon suaminya sebagai ”permata” yang ditemukannya. Surat-surat bernada seperti ini banyak dilayangkan pada para sahabatnya, seolah-olah Kartini berjuang meluruskan opini para sahabat yang keliru memahami.
Ada surat lain yang seolah menjelaskan pilihan hidupnya: ”Ibu tahu, saya merencanakan pergi ke Betawi untuk belajar guna mencapai ijasah sebagai guru bantu di sana. Tetapi jalan saya tak akan menuju ke Barat, jalan saya menuju ke Timur, di samping seorang laki-laki terpelajar yang menaruh perhatian pada peradaban Barat. Saya menuju ke perwujudan cita-cita bangsa kami secara langsung dan melalui jalan terpendek.”
Surat-surat semacam ini bisa jadi merupakan jawaban Kartini atas ’ajakan entah apa’. Kartini secara tegas memutuskan untuk menikah, bukannya terus bersekolah (atas beasiswa yang diusahakan oleh teman-teman Belandanya). Bila perwujudan impiannya bisa diperoleh melalui jalan pernikahan atau jalan mendapat beasiswa ke Betawi, dia ternyata memilih jalan pernikahan. Surat-suratnya menyiratkan betapa besar perjuangan Kartini justru untuk berargumentasi dengan para sahabat korespondennya.
Inilah salah satu argumen kerasnya dalam masalah perkawinannya: ”Pengaruh istri Bupati akan lebih besar daripada pengaruh anak perempuan Bupati. Insya Allah, saya tak hanya dapat mendidik anak-anak, tetapi juga berpengaruh pada ibu-ibu mereka.”
Sebagai bangsa pewaris cita-cita Kartini, kita mesti lebih cerdas dalam membaca surat-surat Kartini. Surat Kartini kepada Ny. Van Kohl, 21 Juli 1902, secara halus menolak ’ajakan’ untuk mengikuti kepercayaan si penulis surat: ”Yakinlah nyonya, bahwa kami akan selalu memeluk agama kami yang sekarang”. Kepada Ny. Abendanon Mandri, 12 Oktober 1902, Kartini juga menulis: ”Kami ingin mengabdi kepada Tuhan dan bukan kepada orang.”
Sayang surat ’para sahabat’ yang menimbulkan jawaban-jawaban tegas Kartini itu tak pernah ditampilkan; dan ini tentu politik pembentukan opini publik. Surat-surat yang diterbitkan hanya surat-surat Kartini, bukan surat sahabatnya, dan telah diseleksi sesuai agenda setting bangsa Belanda pada waktu itu (antara lain kristenisasi, dll). Bila kita membaca surat-surat Kartini, bahkan yang telah diseleksi dengan ketat sekalipun, tersirat betapa para sahabatnya gencar mempengaruhinya untuk meninggalkan Islam, dan mencegahnya menikahi Bupati Rembang. Salah satu ‘iming-iming’nya: beasiswa bersekolah di Betawi. Kartini memilihi menikah.
Bagaimanapun, Kartini memang teladan kita. Dia mengajari bangsa ini tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan, dan mengajari kita bagaimana tetap teguh memegang prinsip di tengah derasnya politik strategis penjajah Belanda agar orang-orang cerdas seperti Kartini meninggalkan jati diri Indonesianya. Kartini ternyata memiliki perjuangan lain yang tersembunyi, yang tak kalah beratnya. Kita patut menghormatinya.
Sirikit Syah, 20 April 2009
mohon ijin tuk share di fb..makasih.
aslm,,,ibu salam kenal ya,,,oh ia ibu sebenarnya pada acara kemaren di pondok ana mau tanya tapi malu,,,,sayakan anggota API stail (asosiasi penulis islam) tapi dalam bulan bulan ini semangat menulis saya menurun bahkan hilang padahal sebelumnya saya sudah banyak buat artikel,,,jadi bagaimana cara mengembalikan semangat menulis saya? mohon solusinya…!!!
boleh ga bu kasih saran kalo boleh lebih mudah jika pasang shutbox atau buku tamu biar yang kunjungi mudah memberi comment
Jadikan menulis sebuah kebiasaan. Tulisan pendek-pendek tidak apa-apa. Bila tiba saatnya, buka lagi tulisan-tulisan itu, kalau perlu dirangkum, menjadi tulisan panjang yang layak dikirim ke media untuk artikel opini, atau ke jurnal sebagai karya ilmiah, atau bisa juga jadi bahan karya fiksi. Menulis itu membebaskan. Kita bebas berekspresi. Bila batin kita bebas, kita menjadi manusia yang sehat.
thanks tulisannya mbak… suatu saat saya ikut pengajian, diceritakan kalo Kartini menunjukkan keteguhannya dalam memegang ajaran Al Quran dan sunnah, dalam surat suratnya. sy msh penasaran.. apa iya… sampai saya baca tulisan mbak. sekali lagi tks… lebih cerah sekarang.
Syukurlah. Kita tetap harus menaruh hormat pada beliau dan jangan mudah terhasut upaya penggembosan atas jasa dan kepahlawanannya hanya karena dia pernah mempertanyakan/mengkritik feodalisme Jawa dan kekakuan Islam. Juga, jangan percaya bahwa perjuangannya “gembos” karena menikah dalam perkawinan poligami. Dia tetap berjuang dalam pendidikan sampai akhir hayatnya. Sayang, dia meninggal muda. Kita harus meneruskannya.
berarti Kartini tidak bersifat primordialisme jawa seperti yg selama ini digugat ya mbak, tapi sdh berwawasan kebangsaan, atau karena ada nuansa islamnya hingga terus digugat kepahlawanannya?
Benar. Kalau Kartini primordial, itu hal yang lazim pada masa itu. Ingat, belum ada Sumpah Pemuda, belum ada tekad kesatuan. Semua pahlawan daerah, bila berlaku primordial, memang begitulah sikonnya saat itu. Toh, di beberapa suratnya, Kartini tak jarang berpikir/berbicara tentang “bangsa”, bukan “orang Jawa” saja. Dia juga gencar “ditarik” menjauhi Islam, ini tersirat dari jawaban surat-suratnya yang berisi pertahanan diri terhadap Islam atau pembelaan terhadap ajaran Islam yang benar.
Salam kenal.
Mohon ijin untuk menampilkan secara utuh artikel ini untuk MerdekaNews.com
Dino Musida, redaktur
MerdekaNews.com
handphone 08111103147
Dipersilahkan dan sebelumnya saya sampaikan terimakasih, Salam kenal kembali, juga untuk seluruh awak redaksi MERDEKANews.
Salam merdeka!!!
Ping-balik: Perjuangan Kartini Mendebat Para Sahabatnya « Sirikit Syah