Suatu siang di Radio Suara Surabaya terdengar suara seseorang yang tinggal di kawasan YKP Rungkut. “Wah, sekarang jalan ke rumah kami di kawasan Rungkut sudah diperbaiki. Pemerintah ada perhatian juga.” Mendengar itu rasanya ingin ketawa. Dalam hati saya mengatakan, “Aduh, ge er banget sih warga Rungkut itu. Dikiranya jalan diperbaiki karena perhatian pemerintah pada kita.”
Tanggal 2 Juni lalu ada peresmian masjid Al-Muttaqien di RK IV. Itulah sebabnya. Walikota Soenarto menuju ke kawasan kita tercinta ini. Untuk itu, beberapa minggu sebelumnya kawasan ini “dibenahi”. Jalan di Rungkut Alang-alang yang setiap hari saya lewati, jadi mulus. Lobang-lobangnya yang menjebak dan beberapa kali nyaris membuat sepeda motor kami terjungkal, sudah hilang. Belokan di perempatan sebelum Yakaya (dari arah Utara) juga sudah mulus dan mengurangi kemacetan di wilayah itu.
Saya berpikir: “Bagaimana kalau Walikota Soenarto tidak ada rencana mengunjungi dan meresmikan sesuatu di kawasan Rungkut YKP?” Jawabannya: “Mungkin jalanan akan tetap lobang-lobang dan benjol-benjol.” Jadi, mengapa kita ge er amat sih, mengira segala perbaikan itu untuk kita? Itu untuk Cak Narto!
Suka atau tidak suka, begitulah kenyataannya. Berarti masih ada di antara kita ini pegawai-pegawai negeri yang bermental orde baru. Kalau ada pejabat mau lewat, jalan diperbaiki, kebersihan ditingkatkan, keamanan dijaga. Selebihnya, EGP! (emang gue pikirin … kata anak-anak muda).
Almarhum Presiden Kennedy baik sekali terus-terusan mengingatkan rakyat Amerika dengan motto “Jangan bertanya apa yang telah diperbuat negara untuk kamu. Tanyakan apa yang telah kamu perbuat untuk negara.”
Di Indonesia, rakyat harus bicara sebaliknya. “Hai pemerintah. Apa yang sudah dilakukan untuk kami?” Coba saja, semua fasilitas untuk rakyat tidak ada yang beres. Angkutan umum (bus kota dan bemo) tidak nyaman. Sesak, sempit, sumuk. Kereta api, biar semahal apapun (apalagi yang murah) banyak malingnya dan kadang karcis dijual tanpa tempat duduk. Anak-anak sekolah (SD nih!) bayar terus –katanya pendidikan dasar wajib dan dibiayai negara, kok bayar terus? Bahkan buku-buku harus beli tiga kali setahun!
Seorang doktor di BKKBN Pusat, kawan kuliah di Syracuse, New York, AS, mengeluh ketika nyopiri saya di Jakarta yang padat. “Saya ini doktor dan senior di BKKBN. Tapi saya sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Amerika. Ada tawaran menjadi sekretaris pengurus masjid di Syracuse.”
Lo, kok jadi pengurus masjid? Iya, gaji yang dijanjikan dalam dollar kira-kira setahun sama dengan Rp 180 juta. Dulu dia memang pengurus masjid tempat kami biasa kumpul di kota yang mayoritasnya orang Yahudi itu. Dia dikenal baik oleh ketua masjid (orang Mesir). Mengapa seorang pegawai negeri berpangkat dan golongan tinggi yang berkualitas ini ingin pindah ke AS? “Gaji saya tak cukup lagi membiayai sekolah anak-anak di sekolah yang baik. Segalanya terlalu mahal untuk ukuran uang rupiah. Belum les-les, buku-buku.”
Lalu dia bernostalgia. Di Amerika Serikat, anaknya sekolah tidak bayar. Ada bus sekolah antar jemput gratis. Di sekolah dari pagi sampai sore, dapat makan siang dan susu. Buku? Diberi cuma-cuma atau dipinjami oleh sekolah. Tidak satu sen pun keluar uang dari koceknya untuk sekolah anak. Di Indonesia, shock pertama yang dialaminya adalah biaya sekolah anak-anak. Terlepas apa pangkat dan golongannya, diperkirakan biaya sekolah anak sekitar 50% dari income-nya.
Itu baru sekolah. Bagaimana dengan fasilitas kesehatan? Kisah nyata lagi. Ada teman orang Indonesia yang sekolahnya tidak selesai-selesai di AS (mungkin sudah 10 tahun ini). Ternyata istrinya hobi melahirkan anak di sana (sekarang sudah empat!). Pasalnya, melahirkan di AS ditanggung semua oleh negara, termasuk bagi orang asing. Bukan hanya saat melahirkan; sampai si bayi umur 5 tahun segala keperluannya ditanggung negara. Namanya program WIC (Woman Infant Children). Perlu pampers, susu, bedak, kapas, cereal, bubur, dll untuk baby? Ambil saja di toko, tunjukkan kartu, gratis! Mempunyai anak adalah rezeki, itu di Amerika. Di Inggris juga (ini yang saya tahu lo). Di Indonesia, bisa malapetaka. Istrinya Arief Suditomo (penyiar Liputan 6 SCTV, sekarang di RCTI) juga melahirkan di London. Ketika saya sambangi di apartemennya di London tahun lalu, dia bilang, “Wah Mbak, kalau begini saya mau punya anak lagi di sini.”
Apa yang telah dilakukan negara kepada kita? Baiklah, negara sedang dalam kesulitan. Lalu subsidi BBM dicabut. Sebagai ibu rumah tangga, saya manut saja beli apa-apa naik harganya, terutama belanja kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Saya tidak akan demo atau protes, dan saya nasihati para mahasiswa untuk tidak demo pencabutan subsidi BBM. Asal janji pemerintah itu ditepati: subsidinya dialihkan ke bidang pendidian dan kesehatan.
Artinya, beli sayur dan ikan naik harganya bolehlah, kalau saya tak perlu beli buku 3 kali setahun untuk anak saya yang SD, atau tak perlu bayar biaya sekolah dan biaya pembangunan sekolah yang sebenarnya bukan tanggungjawab orang tua murid.
Tapi, benarkah subsidi akan dialihkan? Jangan-jangan malah bocor dimana-mana. Jadi, para pejabat seperti Cak Narto itu jangan cuma memperhalus jalan yang mau dilewati saja. Perbaikilah jalan-jalan yang paling sering dilewati rakyat/warga kota, meskipun engkau tak pernah melewatinya seumur hidupmu. Rakyat bijak taat bayar pajak. Pemerintah bijak mengembalikannya kepada rakyat dalam bentuk fasilitas. Itu saja.
Sirikit Syah, 2000
Bu, di Amerika dan Inggris, juga di negara maju lainnya (Jepang contohnya), kebijakan yang ramah anak kecil itu salah satu sebabnya untuk meningkatkan angka kelahiran bukan ya?
Memang enak kalau perhatian negara pada keluarga begitu besar seperti itu ya.
Saya sangat sangat setuju dengan pernyataan Ibu di baris akhir, pemerintah bijak mengembalikannya kepada rakyat dalam bentuk fasilitas.
Tidak. Layanan negara yang baik pada rakyat tidak dilandasi misi meningkatkan angka kelahiran. Kualitas layanan itu sudah ada/diberikan jauh sebelum negara maju (seperti Jepang) mengalami angka kelahiran stagnan atau turun. Itu betul-betul karena pemerintahnya ngerti tanggungjawab dan kewajibannya. Saya pertama ke Jepang tahun 1986, lalu 1988, dan saya waktu itu terkesima, berpikir: “Kapan ya Indonesia bisa seperti ini?” Rasanya kita sudah ketinggalan 50 tahun. Sekarang sudah 20 tahun sejak saya ke Jepang, dan pastilah Jepang makin maju dan Indonesia maju juga tetapi jarak perbedaannya tak lagi 50 tahun ketinggalan. Mungkin sudah 100 tahun. Ini PR yang harus dijawab sendiri oleh generasi muda Indonesia yang akan menjadi penerus bangsa.