Malam Minggu ini agak sedih rasanya. Di sela-sela hiruk pikuk peringatan Hari Kartini yang diwarnai perdebatan tentang perannya dalam sejarah, kita disuguhi penderitaan seorang perempuan muda Indonesia. Berita dari negeri tetangga biasanya TKW disiksa majikan. Sekarang ini: seorang model cantik kelas atas dianiaya seorang pangeran Kelantan.
Sedih juga mendengar berita perjuangan ibunda Manohara mendapatkan kabar tentang anaknya. Lebih sedih lagi karena pemerintah kita seperti buta tuli. Para negarawan dan politisi sibuk tawar menawar, koalisi dan kolusi, menghitung untung rugi. Nasib seorang Manohara sangat tidak penting, bahkan mengganjal, dalam proyek ambisius mereka. Sementara itu, pihak Polri mengatakan ”bukan wilayah kerja kami”, jubir Deplu mengatakan ”itu wilayah privasi”. Bahkan mengetahu ibunda Manohara dicekal di Kuala Lumpur, sang jubir mengatakan ”setiap negara memiliki hak mencekal orang tertentu memasuki negaranya”. Oh Allah, beginilah nasib warga negara Indonesia.
Berkaitan dengan peringatan Hari Kartini, saya ingin mengemukakan beberapa ironi di antara dua kisah tentang perempuan. Pada abad 21, Manohara menikah (dipaksa oleh situasi dan kondisi setempat) dalam usia 16 tahun. Yang menikahinya adalah pangeran yang tega menyakiti istrinya sendiri. Seabad sebelumnya, Kartini menikah dalam usia 23 tahun. Kartini nyaris tak percaya ada orang, bupati pula, melamarnya. Menurut Kartini, dia jelek, gemuk, tidak menarik, cerewet, ketuaan pula (untuk masa itu, usia 23 tahun betapa kadaluarsanya). Mungkin (ini asumsi saya pribadi), Kartini bersedia mempertimbangkan lamaran itu karena penasaran, ”Kok ada ya yang mau kawin sama saya. Orang ini pasti sama gilanya dengan saya.”
Benar juga. Bupati Rembang, duda yang telah memiliki beberapa garwo ampil ini memang agak nyeleneh. Dia menyetujui semua syarat Kartini untuk menikah: boleh terus sekolah (akhirnya Kartini membatalkannya sendiri), boleh terus mengajar, boleh mendirikan sekolah, dan banyak lagi. Dan, tahukah Anda, bahwa Kartini melanggar adat perkawinan Jawa di awal abad 20 itu? Bayangkan pada masa itu, adat istiadat Jawa sangat dijunjung tinggi. Ibunda Kartini sendiri harus merunduk di hadapan putrinya (karena ibunya cuma garwa ampil), dan Kartini harus nglesot kalau menghadap ayahanda atau kangmasnya. Namun saat menikah, Kartini minta ritual mencium kaki pengantin laki-laki harus dihapus, dan sang calon suami (sang bupati) menyetujui. Apa tidak edan laki-laki itu?
Itulah ironi dari kisah dua perempuan kita. Yang satu hidup di abad 21; satunya di awal abad 20, sebelum masa pergerakan nasional, sebelum ada negara Indonesia. Yang hidup di alam modern lebih apes, mendapatkan pangeran manja yang tak punya tata krama; yang hidup di jaman dulu beruntung bersuamikan bangsawan yang berpikiran terbuka terhadap perubahan.Tujuan perkawinan merekapun berbeda. Manohara mungkin menikah untuk keamanan finansial dan -menurut ibunya- ”supaya tidak berzinah”. Kartini memilih memutuskan menikah, dengan membatalkan beasiswa sekolah ke Batavia untuk menjadi guru, dengan tujuan: memajukan bangsanya. Kartini, perempuan jadul (istilah anak muda sekarang) itu, sudah pandai berhitung: bahwa perkawinan bisa saja justru memberimu lebih banyak kesempatan. Maka, lebih baik menikah daripada sekolah.
Kartini kepada sahabatnya mengakui, bahwa ketika dia masih lajang (perawan) masih ada orangtua ragu-ragu menitipkan pendidikan anak-anaknya kepadanya. ”Namun kalau aku adalah istri Bupati, pasti orang lebih percaya, dan aku bisa mendidik lebih banyak anak-anak bangsa,” tulisnya.
Begitulah perbandingan nasib perempuan-perempuan kita. Memang mungkin kurang sebanding membandingkan Kartini dengan Manohara. Namun kita perlu merefleksi diri: untuk apa kita (kaum perempuan) bersekolah tinggi-tinggi, bila bukan untuk memajukan bangsa ini? Perempuan berpendidikan tinggi bisa saja tetap berstatus ibu rumah tangga, dan dia akan menjadi ibu rumah tangga yang menghasilkan anak-anak hebat penerus bangsa. Tetapi bagaimana nasib perempuan yang tidak sekolah? Mungkin akan mencari jalan pintas seperti Manohara, atau almarhumah Alda sang penyanyi.
Kita juga mesti bertanya pada kaum ibu: apa yang kau inginkan untuk anak gadismu? Bukankah ibunda Alda sudah menerima SMS yang menceriterakan penderitaan Alda? Mengapa penderitaan itu dibiarkan? Mengapa SMS baru dibuka setelah Alda tewas? Ibunda Manoharapun sama saja: ketika anaknya menelepon dengan sesenggukan, dia malah menasehati anaknya ”Jangan menangis, nanti Tuhan marah.” Manohara sudah lari pulang dan bersumpah tak akan kembali pada suaminya. Namun ketika keluarga ditraktir umroh, ibundanya manut saja dan malah mendorong Manohara kembali pada suami. Ibu-ibu semacam ini bisa jadi merupakan salah satu elemen woman trafficking lintas negara. Bukan hanya di kalangan mafia perdagangan perempuan, tetapi di kalangan ’pengguna’ kelas atas yang tampak terhormat: pengusaha kaya (seperti dia yang pernah ’memelihara’ Alda) atau pangeran yang ’menyamar’ menjadi suami Manohara. Dengan menyebut istri sebagai ’properti’, bukankah ini perdagangan perempuan?
Semoga anak-anak gadis kita dan para ibu belajar dari kasus Alda dan Manohara. Tahun 2007 di Malaysia, seorang model berkebangsaan Mongolia juga tewas dibom di tengah hutan. Serpihan tubuhnya ditemukan setelah kabar keberadaannya hilang beberapa saat. Terakhir diketahui sang model ini diduga ’dipelihara’ oleh Najib Tun Razak, sekarang PM Malaysia. Beberapa saksi melihatnya terakhir kali di rumah sang pejabat. Pembunuhnya, dua orang polisi, sudah diadili dan dihukum, tetapi entah, hukum tak menjangkau Najib Razak.
Bila hukum atau HAM negara dan lintas negara tak dapat menjangkau keluarga kasultanan Kelantan, nasib Manohara memang benar-benar di ujung tanduk. Saya kira pemerintah mesti memperhatikan kasus ini.
Sirikit Syah, 25 April 2009