(Komentar Sirikit Syah tentang kasus Adjie-Reza):
Melihat kasus Adjie-Reza, saya teringat film Julia Roberts “Sleeping with the Enemy”. Jadi, di dunia nyata, ada juga, mungkin banyak, peristiwa semacam ini. Istri tidak berkenan lagi melanjutkan hubungan perkawinan (apapun alasannya), suami sangat posesif dan mati-matian (sampai mati sungguhan) untuk mempertahankan.
Tentu ada alasan Reza untuk minta cerai dari Adjie, tetapi menurut saya tidak ada alasan bagi Reza atau istri manapun dan suami manapun untuk berselingkuh. Bila seseorang berselingkuh, lalu mendasarkan perselingkuhannya pada ‘karakter suami atau istri yang buruk’, ‘perkawinan yang gagal’ dan lain-lain, itu sebetulnya tidak ada hubungannya. Perselingkuhan itu bisa terjadi karena ada ketertarikan dua orang, apakah perkawinan mereka masing-masing dalam kekadaan baik atau buruk! Dan bila perkawinan dalam keadaan buruk, jelas sesungguhnya perselingkuhan bukan obat mujarab.
Tentu saja, belum tentu Reza selingkuh seperti dituduhkan suaminya. Saya bahkan percaya ada sesuatu pada diri Adjie yang begitu “mengerikan”, yang membuat Reza rela kehilangan anaknya. Reza begitu “benci”nya pada Adjie, rasa benci itu mengalahkan hasrat keibuannya untuk bertemu anak-anaknya. Menurut saya, ada sesuatu yang serius di sini. Seorang ibu yang “’terluka” seperti Reza –sampai dia rela tidak sudi bertemu Adjie lagi meskipun itu untuk kepentingan mengambil anak-anaknya- tentu karena mengalami pengalaman yang ‘traumatik” dalam perkawinannya.
Apakah Reza menghilang? Mungkin saja. Sebagai ibu, istri, perempuan karir, saya memiliki empati terhadap Reza. Saya paham bila dia ingin “off” sebentar dari dunia yang melingkunginya sehari-hari. Saya juga pernah begitu. Jengkel dengan hal-hal yang tidak sesuai keinginan, yang membuat saya stress, baik tumpukan pekerjaan kantor maupun urusan anak-anak dan rumah tangga, saya pernah juga ingin “lari” sebentar dari dunia ini (yah, misalnya nyepi di gunung seminggu dua minggu tanpa hand phone dan internet). Itu tidak jadi saya lakukan karena saya komunikasikan dengan suami dan anak-anak, dan kami sama-sama mencari solusi.
Saya berharap tidak ada hal-hal buruk terjadi pada Reza. Semoga dia baik-baik saja dan persoalan segera diselesaikan dengan elegant. Membanding kasus perceraian artis, heboh kasus Elma Theana dan Nicky Astrea jadi tak ada apa-apanya dibanding kasus Reza-Adjie. Kita juga masih ingat betapa anggun perceraian Rini S. Bono dan Akhmad Albar atau Meriam Bellina dengan suami pertamanya. Perceraian yang dibuka dalam jumpa pers, ditandai ciuman perpisahan yang menandakan persahabatan, ada airmata kesedihan, pengorbanan, penerimaan, keikhlasan. Yah, perceraian memang dibenci Tuhan. Namun bila perceraian dianggap lebih baik daripada perkawinan yang buruk (diwarnai kekerasan, kebohongan, dan perselingkuhan, misalnya), maka berceraipun ada tata kramanya.
Ada sebuah angle yang mungkin bisa dipertimbangkan di sini:
Reza memulai sebuah jalan berliku yang berujung pada perceraian dengan bergabung ke lingkaran majlis zikir aa gatot (cmiiw) yang di sana juga sudah ada beberapa ‘janda kembang’ lainnya. Apakah bergabungnya Reza ke ‘pangkuan’ aa Gatot adalah bentuk pelariannya dari sikap Adjie ataukah memang sebenarnya ada sesuatu juga pada diri Reza sehingga secara paralel mungkin Reza memilih putus hubungan dari keluarganya, Adjie dan anak-anaknya, dan memilih ‘akad’ dengan aa Gatot yang belakangan ternyata bermasalah.
Akan selalu ada sejumlah fakta yang luput dari kita yang kelak akan menjadi pertanggungjawaban si ybs di hadapan Allah, di mahkamah-Nya kelak, di mana tidak satu jumput molekul pun akan luput dari bagian penghakiman.