Sebagai orang Surabaya yang cukup sibuk, saya sering sekali pergi ke Jakarta. Tetapi di antara berbagai pengalaman berada di Jakarta itu, kurun waktu bulan September-Oktober 2001 merupakan yang paling mengesankan. Bagaimana tidak? Setiap hari saya menjadi penumpang bus kota, dan banyak peristiwa menarik dengan menjadi salah satu dari penduduk Jakarta penumpang bus kota.
Akhir minggu kelima di Jakarta, saya bersemangat lebih dari biasanya, karena ini hari terakhir. Setelah ini, saya akan pulang kembali ke Surabaya. Selama lima minggu, setiap hari dari pukul 8 pagi sampai 3 sore, saya harus ikut kursus bahasa Inggris di British Council di Widjojo Centre bersama 7 orang lainnya dalam satu kelas (belum pernah dalam sejarah pendidikan saya di perguruan tinggi, saya berkuliah serajin itu). Apa boleh buat, itu salah satu persyaratan menerima beasiswa British Chevening Awards untuk studi di Inggris tahun berikutnya. Setiap hari saya nyaris datang terlambat, atau datang dengan tergopoh-gopoh dengan baju sudah kusut dan badan penuh keringat.
Hari terakhir itu, saya tidak tampil demikian. Saya datang beberapa saat sebelum waktu kursus dimulai, dengan penampilan segar, tidak kusut dan tidak penuh keringat. Kepada kawan-kawan sekelas, dengan bangga saya katakan, “Untuk pertamakalinya selama lima minggu, akhirnya aku mendapat tempat duduk dalam perjalanan kemari tadi pagi.” Seketika kawan-kawan berseru lega dan kegirangan. Mereka maklum, setiap pagi selama 5 minggu sebelumnya, jangankan mendapat tempat duduk di bus kota, saya harus berjuang agar bisa ‘nggandhol’ bus yang tak pernah berhenti cukup waktu di tempat saya menghadang. “Selamat.” “Bravo.” “Berangkat jam berapa, Mbak?” “Pasti subuh berangkatnya.” Dan seterusnya …
Dengan nada tanpa rasa bersalah aku menjawab, “Berangkat seperti biasa, tetapi bukannya naik bis kota, tadi pagi aku naik taksi.” Kali ini seruan mereka berbeda nada. Keki, jengkel, dan … sebagian malah tertawa terbahak-bahak. Sebelum ada yang sempat memukul, aku berlari keluar kelas.
Memang naik bis kota di Jakarta merupakan sebuah perjuangan tersendiri. Sebagai orang Surabaya yang harus berada di Jakarta selama 5 minggu, tempat tinggal dan transport merupakan faktor crucial. Apalagi kalau harus membayar sendiri. Ketika masih bekerja di SCTV-RCTI (1990-1996), saya sering bertugas di Jakarta. Tentu, semua fasilitas ditanggung perusahaan, termasuk hotel dan ongkos taksi kalau hendak pergi kemana-mana. Kini saya berada di Jakarta, untuk jangka waktu yang cukup lama, atas biaya sendiri. Saya tidak tinggal di hotel, tetapi di rumah saudara di kawasan Cawang. Naik taksi setiap hari selama 5 minggu dari Cawang ke Widjojo Centre di Jl. Sudirman sangat tidak mungkin. Satu-satunya pilihan adalah bis kota. Jadi, meskipun di Surabaya saya tidak pernah naik bis kota, di Jakarta saya tak punya pilihan lain.
Memburu Bis Kota
Tinggal di kawasan Cawang, setiap pukul 6.30 pagi saya sudah harus berdiri di Jalan Otista Raya bersama belasan atau puluhan calon penumpang lainnya untuk naik bis jurusan Kampung Melayu – Blok M yang lewat Jl. Sudirman. Pada hari pertama saya berdesakan, saya berpikir, “Mungkin besok saya mendapat tempat duduk.” Besoknya, dan sampai saat-saat terakhir saya di Jakarta, angan-angan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Pada hari kedua, saya terlambat beberapa menit di Otista Raya dari kebiasaan pukul 06.30, maka saya mendapati bis yang lebih padat penumpang. Saya berdesakan di wilayah pintu. Kepala saya menempel di perut gendut seseorang yang berada satu anak tangga di atas saya. Bahkan untuk menoleh, saya mengalami kesulitan. Saya berada di anak tangga kedua. Di bawah saya, saya hitung ada sekitar 7 kepala. Satu kepala berada di luar pintu bis, lengkap dengan badannya, tangannya bersusah payah berpegangan pada lobang jendela yang paling dekat dengan pintu. Betapa mirisnya saya, melihat orang bergelantungan tetapi bis tetap melaju dengan kecepatan tinggi di jalan tol Cawang.
Pada hari berikutnya sayalah yang berada di bibir pintu. Tidak mungkin lagi naik ke atas. Tas saya melambai-lambai keluar pintu dan kalau ada pengendara sepeda motor iseng, pasti mudah menariknya begitu saja. Tangan saya menggapai-gapai mencari pegangan, dan seorang gadis berpenampilan pegawai kantoran dengan busana rapi dan aroma wangi memegangi tangan saya kuat-kuat agar saya tidak jatuh. Kenyataan bahwa saya perempuan yang tak lagi muda, tidak memberi saya harapan akan adanya lelaki muda yang memberikan tempat duduknya kepada saya. Dan itu memang bukan lagi persoalan. Emansipasi benar-benar diterapkan di bis kota. Kadang-kadang saya heran dan jengkel juga, bagaimana kondektur terus menampung penumpang dan berhasil menembus kepadatan penumpang untuk menarik ongkos dari ujung belakang ke ujung depan dan sebaliknya. Dia menyibakkan orang dengan enak saja, sementara para penumpang yang beradu punggung meliuk-liukkan tubuhnya memberi ruang bergerak/melangkah baginya.
Ketika belum terbiasa, saya sempat mengeluh pada kawan-kawan sekelas yang semuanya asli Jakarta (kecuali Harto dari Bali). “Mengapa bis tidak mau berhenti di tempat saya berdiri menghadang?” Mereka tertawa terbahak-bahak, “Mbak, Mbak. Bis kota di sini memang tidak berhenti ngambil penumpang, tapi harus dikejar.” Yah, pelajaran pertama: untuk naik bus kota, kita harus berlari mengejarnya.
Perjalanan pagi menuju ke tempat kursus selalu merupakan awal perjuangan yang menegangkan bagi saya. Ibaratnya, baru berangkat sudah lelah. Mula-mula saya harus berjalan kaki ke jalan Otista Raya kira-kira 5 menit. Setelah berdiri kira-kira 5-10 menit, saya harus berdiri berdesakan di bis selama kira-kira 15-20 menit. Sampai di Widjojo Centre saya sudah lecek, pakaian basah karena keringat seperti habis berolah raga. Dan baunya ….. .Rasanya ingin sekali mandi lagi.
Penyair dan Pengamen
Saat perjalanan pulang, bila saya pulang tepat waktu, sekitar pukul 3 sore, memang agak leluasa. Itu adalah saat yang nanggung, bukan saat pelajar, mahasiswa, atau pegawai pulang. Tidak jarang saya mendapatkan tempat duduk. Pada saat-saat inilah saya dapat menikmati berbagai perilaku kaum urban agar dapat survive/bertahan hidup di belantara metropolitan. Seseorang berjualan peniti dan jarum jahit di atas bis kota dengan kefasihan yang mengagumkan, sehingga ada saja yang membeli dagangannya. Ada yang berjualan bolpoin yang tintanya dapat dihapus. Paling banyak memang jualan permen dan buku-buku. Tak mau ketinggalan, para peminta sumbangan yang mengatasnamakan organisasi keagamaan. Mereka meminta sumbangan pada para penumpang setelah memberikan ceramah agama singkat, yang dari nada, intonasi, ritme, dan volume, kentara kalau pengkotbah itu tak peduli ceramahnya didengar orang atau tidak.
Tetapi yang paling menarik adalah semakin banyaknya penyair jalanan di atas bis kota. Ada yang begitu meyakinkan, seperti para penyair yang sering saya saksikan penampilannya di Surabaya. Ada yang puisinya bagus, cukup menyentuh, dengan pembawaan yang “serius”. Tetapi tak jarang ada yang “asal-asalan”, seperti orang menggerutu atau mengomel, dengan penampilan yang tidak menarik. Bagaimanapun, mungkin hanya di Jakarta –di antara kota-kota besar berpenduduk terpadat di dunia- ada penyair “ngamen” di bis kota.
Kelompok pengamen juga demikian. Ada yang enak didengar, ada yang menyakitkan telinga. Pernah pada suatu ketika saya duduk di sebelah Pak Sopir. Lalu dari belakang terdengar kelompok pengamen yang melagukan lagu-lagu yang sangat enak didengar. Lagunya enak, pemain musiknya trampil, paduan vokalnya –ada backing vocalsnya juga lo- bagus. Setelah beberapa lagu, saya menyiapkan selembar uang ribuan. Saya tunggu-tunggu, kok belum ada yang menagih saya dengan kantung uang mereka? Ternyata mereka hanya meminta pada penumpang yang duduk di bagian belakang dan tengah. Saya yang duduk sendirian di samping sopir tidak dihampiri. Saya kecewa. Saya benar-benar ingin memberi mereka penghargaan saya. Saya jadi berpikir, mungkin karena di belakang dan tengah tidak banyak yang menyumbang, mereka berprasangka bahwa seorang perempuan berjilbab yang duduk sendirian itu pasti juga enggan menyumbang.
Seringkali, pengamen lebih mengganggu daripada menghibur. Ada yang menyanyi sambil berteriak, ada yang tidak jelas apa liriknya, ada pula yang vokal dan musiknya tidak match. Untuk mereka-mereka ini, saya sediakan uang recehan Rp 100.
Aman dan Murah
Saya sempat was-was juga mengenai banyaknya kriminalitas di bis kota, seperti yang sering saya baca di koran sebelum berangkat ke Jakarta. Tetapi Alhamdulillah, sampai saat terakhir saya menggunakan jasa bis kota, saya tidak mengalami pencopetan, perampokan, pemalakan oleh pelajar, tawuran, dan berbagai hal buruk lainnya. Bahkan selama bulan September-Oktober itu, hanya sekali dalam perjalanan pulang bis agak terhambat kemacetan karena ada demonstrasi. Melihat para mahasiswa dan orang-orang yang tidak bertampang mahasiswa berjalan seenaknya begitu, sempat miris juga saya, kuatir kalau-kalau mereka menghentikan bis kami, menyuruh turun seluruh penumpangnya agar mereka dapat naik, atau melakukan hal-hal buruk lainnya. Tetapi kekuatiran saya tidak terjadi.
Tarip bis di Jakarta menurut saya cukup murah. Bayangkan, hanya dengan Rp 500, kita dapat menuju ke hampir seluruh tujuan di Jakarta, sejauh apapun. Bagusnya lagi, jaringan bis kota di Jakarta sangat kaya, menjangkau hampir seluruh wilayah dan pelosok, sangat memudahkan bagi rakyat kebanyakan. Tak jarang pula saya naik bis Patas AC, yang ongkosnya lebih mahal, yaitu Rp 2500. Tetapi untuk jarak yang begitu jauh dan kenyamanan AC, bolehlah. Tetapi itu kalau kita mendapat tempat duduk. Sebab tak jarang, sudah bayar Rp 2500, masih harus berdiri karena bis mengangkut penumpang melebihi kapasitas tempat duduknya. Jengkel juga. Kalau sama-sama berdiri kan lebih baik yang bayar Rp 500. Apalagi, pernah saya bayar Rp 2500 sambil berdiri, lalu ada seorang laki-laki muda yang duduk di dekat saya membayar Rp 500. Wah, sudah duduk, bayar cuma Rp 500. Ketika didesak kondektur, dia mengaku “mahasiswa”. Kondektur tak dapat lagi mendesaknya. Nah, itu kan tidak adil. Kalau mahasiswa dan uang pas-pasan, ya sebaiknya jangan naik bis Patas AC. Kan ada bis yang lebih murah. Mudah-mudahan tidak banyak mahasiswa yang berkarakter demikian. Mau enaknya saja, merampas hak orang lain yang membayar sesuai tarip.
Lama-lama saya menikmati saat-saat memburu bis kota. Saya menjadi trampil naik atau turun pada saat bis masih berjalan, berdesakan di tengah-tengah bis, bergelantungan di pintu. Saya juga asyik mendengarkan para pedagang mempromosikan dagangannya, menikmati lagu-lagu dari pengamen, mengamati anak-anak jalanan yang menjadi penyair dadakan. Wah, pantas, banyak orang daerah berduyun-duyun ke Jakarta. Wong, membacakan puisi di bis kota saja bisa hidup kok. “Asal mau bekerja apa saja, orang pasti bisa hidup di Jakarta,” kata salah seorang penumpang yang sempat mengobrol dengan saya pada suatu perjalanan pulang.
Saya jadi mahir melempar joke-joke Jakartaan. Seperti misalnya: Saya ngomel pada kondektur kok bis sudah penuh, masih diisi penumpang terus. Kondektur membalas omelan saya, “Kalau mau kosong, naik ambulan saja, Mbak!”
Meningkatkan Fasilitas
Seandainya pemerintah lebih memperhatikan perbaikan fasilitas bis kota, saya membayangkan, penumpang tak lagi berdesakan, semua mendapat tempat duduk. Saya kira membayar Rp 2500 hingga Rp 5000 pun tidak keberatan untuk jarak yang bila ditempuh dengan taksi akan memakan biaya Rp 15-20 ribu rupiah. Ada yang bilang, “Itu kan kemampuan kelas menengah, bagaimana dengan kelas bawah yang adalah pengguna utama bis kota?” Ketika saya perhatikan, banyak juga para pengguna bis kota adalah para pegawai, pekerja, yang komponen gaji/upahnya mungkin cukup masuk akal bila dipotong Rp 150-200 ribu sebulan untuk ongkos transport rumah-kantor pulang pergi. Itu juga jauh lebih murah daripada membawa kendaraan sendiri. Dengan mobil pribadi, orang harus membayar bahan bakar, tol, parkir, upah 3 in 1, dll. Di Jakarta, dari rumah ke kantor, seseorang mungkin perlu Rp 10 ribu untuk ongkos tol pulang pergi, dan parkir di kantor Rp 100 – Rp 150 ribu sebulan. Di Widjojo Centre di kawasan Sudirman misalnya, parkir sehari Rp 10 ribu. Ada juga yang menggunakan tarip per jam. Berlangganan setiap bulan tergolong lebih murah.
Para pengendara mobil pribadi pasti akan dengan senang hati memarkir mobilnya di rumah dan naik bis (yang nyaman). Selain hemat biaya, berapa kehematan yang dapat diperhitungkan dengan kondisi relax tanpa stress dari para pekerja yang mengemudi? Untuk skala yang lebih besar daripada pribadi dan perusahaan, kenyamanan bis kota jelas akan mengurangi kemacetan lalu lintas.
Subway
Pada tahun 1986 dan 1988 (14-12 tahun yang lalu), saya berada di Tokyo, dan semua orang mengeluhkan parkir yang mahal dan lalu lintas yang macet. Banyak orang memarkir mobilnya di rumah dan ke memilih ke kantor dengan subway (jaringan KA bawah tanah), termasuk para manajer dan direktur tinggi perusahaan besar. Di Tokyo saya paling senang duduk di depan Stasiun Shinjuku pada siang hari –lunch break- atau sore hari. Jutaan pegawai muncul seperti semut dari lobang-lobang bawah tanah. Dengan baju-baju mereka yang berwarna putih dan kepala-kepala yang berambut hitam, mereka menyemut menuju tempat-tempat makan di daratan permukaan (meskipun di subway juga banyak restoran) atau hendak pulang ke rumah. Waktu itu (tahun 1986-1988) konon, 3 juta orang setiap hari menggunakan jasa subway di stasiun Shinjuku.
Pengalaman di London lain lagi. Kereta subway dan bus pada umumnya tepat waktu seperti tertulis di jadual yang dipasang. Pernah ada kereta terlambat sekitar 3 menit, langsung menjadi berita besar di koran-koran, mengecam pemerintah yang mengurusi jasa pelayanan kereta subway itu. Belum lagi, banyaknya orang ngomel karena terlambat 3 menit. Saya tercengang: mereka belum pernah tinggal di Indonesia, belum betul-betul paham apa arti kata terlambat. Terlambat di Indonesia artinya: terlambatnya lama sampai jam-jaman, dan sering.
Jakarta mungkin satu-satunya kota berpenduduk di atas 7 juta orang yang kotanya tidak dilengkapi jaringan subway. Paris yang tampaknya tak terlalu padat, memiliki sistem KA bawah tanah yang disebut Metro. Bahkan Washington, D.C. yang penduduknya tak sampai 1 juta jiwa juga punya layanan subway. Para pegawai hanya mengendarai mobil pribadi mereka pada akhir pekan. Semua tingkatan pegawai, pemerintah atau swasta, di kota-kota tersebut, lebih suka menggunakan jasa subway atau metro. Singapore, yang penduduknya kurang lebih sama dengan penduduk sebuah kecamatan di Jakarta, juga memiliki sistem subway. Dengan subway, kepadatan lalu lintas manusia di permukaan dapat terkurangi. Oleh sebab itu, saya berpikir, Jakarta ini menunggu apa? Bila tidak dimulai sekarang, kapan? Bukankah membangun jaringan bawah tanah itu memerlukan pekerjaan berat dan memakan waktu puluhan tahun? Yang kita mulai sekarang, hasilnya mungkin dapat dilihat 25 tahun lagi. Bayangkan bila kita tidak memulai.
Dari perjalanan saya ke beberapa kota besar di dunia, saya selalu menghitung-hitung, ketinggalan Indonesia ini semakin lama bukannya seakin menyempit tetapi semakin jauh. Indonesia memang semakin maju, tetapi negara lain majunya lebih jauh lagi.
Hikmahnya: Fitness Gratis
Kembali pada pengalaman naik bis kota di Jakarta, ada hikmah yang saya peroleh selama “menikmati” jasa bis. Saya menjadi lebih langsing, lebih sehat, dan saya tak perlu mengeluarkan biaya fitness atau mencari waktu khusus untuk berjogging. Namun pada saat terakhir seperti yang saya ceritakan di bagian awal, ada kalanya saya ingin “menikmati” perjalanan pagi saya di Jakarta. Dengan bis, pengalaman itu mustahil saya dapatkan. Saya hanya melihat perut orang, ketiak orang, paling lumayan kepala orang yang sama-sama berdesakan. Saya ingin duduk manis dan memandang keluar jendela, menikmati pagi di Jakarta. Tak apalah, kali ini acting sebagai orang berpunya. Saya naik taksi, bayar tol Cawang Rp 3000, ditambah ongkos taksi Rp 9000, total saya membayar Rp 12.000. Benar, asyik juga menikmati pagi di Jakarta dari balik kaca jendela taksi.
Saya teringat teman saya Bintang Aritonang yang setiap hari bermobil dari Cipinang Indah ke Sudirman. “Kadang-kadang saya kasihan sama ratusan orang yang menunggu bis di jalan-jalan itu. Kadang-kadang saya berhenti dan menawari mereka untuk menumpang.mobil saya.” “Kalau saya kaya dan punya mobil, saya juga akan melakukan itu. Sebab saya tahu betul rasanya menunggu bis seperti itu,” kata Qodari, yang seperti saya, setiap hari harus berburu bis dari Bekasi ke Sudirman. Wah, kalau semua pemilik mobil sebaik Bintang dan Qodari, enak juga hidup di Jakarta. Qodari sekarang sudah punya mobil, apakah dia sudah menawari orang-orang menumpang mobilnya?
(Sirikit Syah, Nopember 2001)
hahaha…
lucu banget ya pengalamannya. saya malah lebih sering naik bis daripada taxi.