
Seseorang mengirimi saya SMS saat deklarasi kandidat Capres-Cawapres SBY-Boediono pekan lalu. “Deklarasi Capres-Cawapres kok seperti deklarasi kemenangan. Sombong.” Belum saya jawab SMS itu, muncul lagi SMS lain: “Gila, gak ada empati pada krisis yang dialami rakyat. Mewah banget pesta deklarasinya. Padahal baru mau nyalon.” SMS terakhir: “Kok gak malu ya sebut diri sendiri ‘berbudi’?”
Saya heran oleh gencarnya SMS bernada jengkel pada pasangan SBY-Boediono. Di sebuah milis jurnalisme bahkan perdebatan tentang neolib-nya Boediono masih berlangsung panas hingga sekarang. Apakah ini mencerminkan tingkat ketidaksukaan rakyat, atau justru menunjukkan tingkat kepedulian kita pada pasangan ini? Artinya, pasangan ini memang benar-benar popular dan patut diperbincangkan? Dua pasangan yang lain tidak dikomentari sama sekali. Mungkin mereka dianggap tidak penting?
Eh, ada juga sih yang menyatakan (bukan kirim SMS) kasihan pada Megawati-Pro: “Mengapa keputusan Capres-Cawapres diumumkan ke publik lewat jam deadline? Berita keesokan harinya tidak heboh. Masak selevel Mega dan Prabowo tak punya pengetahuan tentang jam deadline koran pagi?” Dan ada juga yang berkomentar langsung (bukan SMS): “JK-Win sederhana juga ya, baik deklarasinya saat pendaftaran ke KPU, maupun saat cek kesehatan. Jalan kaki, tidak pakai baju senada atau seragam. Ini akting bukan ya?” Akting atau bukan, saya pribadi melihat Wiranto tampak paling enak dilihat: tubuhnya tampak sehat, dan senyumnya ramah.
Pertanyaan paling penting adalah: siapa yang akan membawa Indonesia bangkit dari keterpurukan? Sebagai konsumen media yang juga warga negara, kita memiliki hak untuk “ngramesi”. SBY jelas tampak keren, meyakinkan. Bahkan ada yang bilang: “Disandingkan dengan sandal jepitpun, pasti menang.” Sebuah pernyataan arogan, tapi cukup masuk akal. Kepiawaiannya mengelola negara, telah terbukti sebagian. Meskipun menurut catatan dia berkhianat tiga kali: kepada Soeharto, kepada Gus Dur, dan kepada Megawati, yang artinya kesuksesannya diperoleh melalui cara-cara pengkhianatan; kita tak bisa membantah kemajuan Indonesia di tangan pendiri Partai Demokrat ini. Kemajuan terutama di bidang pemberantasan korupsi.
Bagaimana dengan Megawati? Sebetulnya Mega adalah stok lama yang telah terbukti pernah gagal. Bahwa dia maju lagi, itu luar biasa PD. Ke-PD-an, istilah anak muda sekarang. Namun dia juga punya basis yang kuat: rakyat dalam jumlah besar masih suka mencontreng/mencoblos banteng moncong putih. Yang penting PDIP, yang penting trah Soekarno. Guruh Soekarnopoetra yang tak pernah tampak di Jawa Timur, nyaris tidak melakukan apa-apa dibanding para caleg dari Partai dan Dapil yang sama, dapat memperoleh suara terbanyak. Kita sendiri (rakyat) kadang memilih tanpa alas an rasional.
Bila Mega berjalan sendirian, SBY terlalu kuat untuk dilawan. Namun dengan dukungan dana dari Prabowo, setidaknya mereka punya enerji untuk berkampanye. Gerindra terbukti sukses, mengungguli ‘kakak’nya Hanura, dalam perolehan suara rakyat pada pileg kemarin, karena kekuatan iklan. Sebetulnya tidak adil bila melihat Prabowo hanya dari uangnya. Sebagai putra Sumitro, dia tentu mewarisi kecerdasan intelektual yang hebat. Jujur saja, janji kampanyenya paling masuk akal dan paling menarik. Bahasanya sederhana, subyeknya jelas, mudah dimengerti; berbeda dengan retorika para calon lain yang menggunakan bahasa politik tinggi dan tak membumi.
JK memang bukan sosok yang menarik. Selain tidak enak dilihat, JK juga kurang enak didengar. Bicaranya ceplas ceplos dan sering keceplosan, tak beda degan Gus Dur. Dia pernah menganjurkan peningkatan angka kunjungan wisata dengan program kawin kontrak di sebuah wilayah di Jawa Barat. Belakangan dia juga suka ‘ngundat-undat’ (mengungkit-ungkit) tentang siapa sebenarnya the decision maker di tampuk kepemimpinan. Benar atau salah klaimnya (kalau melihat sepak terjangnya, saya agak percaya dia benar), ulah semacam itu tidak etis secara politik. Politically incorrect. Untunglah ada sosok simpatik Wiranto. Terbukti loyal (tidak menggunakan mandat Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan), yang oleh musuhnya diplesetkan menjadi ‘pengecut’, Wiranto dengan tekun melewati jalan politik yang santun untuk mencapai cita-citanya. Tahun 2004 gagal capres, saat ini dia maju lagi sebagai cawapres. Langkah-langkahnya mencerminkan kepatutan berpolitik.
Bicara tentang kepatutan berpolitik, tampaknya semua kandidat memang mengabaikan yang satu ini. Negosiasi koalisi dilakukan secara banal tanpa malu-malu. Prabowo yang ngotot jadi capres, baru menyerah pada detik-detik terakhir menjelang deklarasi. Imbalan dana kampanye dan posisi kabinet diperbincangkan tanpa sungkan. Presiden dan Wapres yang sedang memerintah saling serang. Mereka malah membuat para menteri kabinet terpecah dan berpihak. Ini mengherankan. Bagaimana pemerintahan yang sedang berjalan terlibat aktif dukung mendukung, bahkan menjadi tim sukses, bagi capres-cawapres yang akan datang? Bagaimana kinerjanya dalam beberapa bulan terakhir ini?
Bagaimana memilih dengan benar nanti? Saya teringat petuah Hubert H. Humphrey, mantan wakil presiden AS yang membangun foundation yang memberikan fellowship pada para calon pemimpin dunia (saya salah seorang fellownya tahun 94-95). Ketika berpidato di Washington, DC, tahun 1977, dia berkata: “Ujian moral bagi pemerintahan adalah bagaimana pemerintah itu menangani mereka yang berada dalam fajar kehidupan, yaitu anak-anak; mereka yang berada di ambang senja, yaitu para manula; dan mereka yang berada dalam bayang-bayang kehidupan, yaitu mereka yang cacat, miskin dan papa.” Negara-negara maju sudah mengurusi penyandang cacat (dengan menyediakan fasilitas yang memudahkan mobilitas), para manula (dengan jaminan sosial), dan anak-anak (dari lahir sampai 5 tahun, negara membiayai seluruh kebutuhan dasarnya).
Berpedoman pada ujian moral ala Hubert H. Humphrey di atas, kita tahu bahwa pemerintahan kita sejak merdeka sampai sekarang belum lulus ujian itu. Kaum miskin dan papa belum terentas, anak-anak dan orangtua menjadi warga negara kelas dua, penyandang cacat terhambat dimana-mana. Pilihan kita sekarang adalah: calon yang sudah pernah menjadi presiden dan tidak lulus ujian moral; atau yang belum punya pengalaman menjadi presiden, dengan risiko lulus atau gagal. Mari kita merenung bersama-sama di pekan-pekan depan ini.
Sirikit Syah, 22 Mei 2009
Catatan: Artikel dimuat di Harian Sore Surabaya Post, 23 Mei 2009 (Kolom Malem Minggon)
waktu soeharto lengser SBY masih menjabat sebagai kassospol ABRI,dan masih menjadi anak buahnya wiranto bisa jadi langkah yang diambil wiranto itu di godok di dapurnya sospol ABRI yang di kepalai oleh sby, jadi mana mungkin SBY tidak pada posisi bisa mengundurkan diri seenaknya.
waktu gusdur di impech saya pikir yang paling berkhianat adalah PDIP karena sebagai partai yang mempunyai kursi paling banyak di dpr pada waktu itu Fraksi PDIP menurut etika kumbakarna harus tetap di belakang GUSDUR, yang kedua adalah faktor militer pada saat itu yang menjadi KSAD adalah endriartono sutaro yang tidak menyetujui adanya dekrit DAN Mabes TNI punjuga sepaham dengan mabes AD sehingga F ABRI pun pergi dari sisi gusdur dibalik semua itu kita semua tahu bahwa semua yang dialami oleh gus dur adalah akibat dari ulahnya sendiri. jadi apalah arti seorang sby sehingga bisa menhentikan impeachment dia tidak punya anak buah di parlemen. saya pikir SBY mempunyai catatan yang lengkap tentang hal ini dan suatu saat akan di bagikan kepada publik. apa benar sby sebagai orang yang paling dipercaya oelh gusdur dan megawati? ibu ada buktinya jangan-jangan ibu mendapat informasi yang salah
Salam,
1. Saya tak pernah berpikir atau mengatakan bahwa SBY berada di balik impeachment Gus Dur. Saya jelas menyebut Amien Rais (PAN). Ada di banyak tulisan saya di website http://www.sirikitsyah.wordpress.com. AR yang sangat berambisi menjadi presiden pengganti Soeharto/Habibie, karena gagal, lalu berhasil mendudukkan Gus Dur sebagai presiden, meski perolehan suara PKB jauh dibanding PDIP (pemenang Pemilu 1999). Namun AR belum puas. Setengah jalan kemudian, MPR yang diketuainya berhasil mendudukkan Megawati yang sebelumnya dipinggirkan, setelah melengserkan Gus Dur.
2. Akan halnya SBY, saya memiliki catatan berita media bahwa Gus Dur amat bangga dan percaya kepada SBY. Namun saya (pribadi) sedih sekali ketika Gus Dur dipojokkan, SBY meninggalkannya. Hanya pers dan LSM yang setia di belakang Gus Dur.
3. Yang dialami Gus Dur sekarang memang akibat ulahnya sendiri:). Semua Ketua PKB salah di matanya. Partai yang didirikan sendiri dipecah belah.
4. Tahun 2004 saya mencoblos Wiranto. Lalu dia kalah pada putaran pertama. Lalu saya mencoblos SBY. Saya pikir negara berjalan cukup lumayan lima tahun ini (dan ini karena SBY-JK). Ketika muncul lagi Wiranto, saya ingin memilihnya (saya punya insting orang ini cerdas dan bijaksana). Tapi memang saya masih terganggu dengan JK. Oke, saya suka gaya geunine JK (spontan, tulus), sementara SBY lebih seperti rehearsal (hasil latihan). tetapi agenda JK agak mengerikan: BHP diteruskan, Unas yang kacau balau, dll. SBY is not bad at all, tapi sayang karena strategi kampanye yang buruk (dan mahal sekali), pamornya turun. Bila ananda Wiwien bisa memberi masukan: mbok jangan niru Obama, jangan niru supermi, jangan ndisiki kersaning Allah dengan beriklan satu putaran (bukankah rakyat yang menentukan?), jangan mudah panik/reaktif, jangan mengecam JK yang suka nge-klaim keberhasilan wong SBY sendiri juga ngeklaim keberhasilan. Sami mawon, maksud saya. Dst ….. Eman kan kalau SBY jatuh karena kampanye yang mis (meleset).
5. Kapan pulang ke Surabaya? Diskusi bisa dilanjutkan sambil nylameti ananda dila usai sidang skripsi.
sampai saat ini saya tidak paham dengan apa yang ibu maksud dengan pengkhianatan sby terhadap soeharto, Gusdur dan Megawati. Apakah ibu sudah mendengar cerita versi sby? saya jadi teringat dengan epos ramayana apakah SBY harus menjadi kumbakarna yang setia pada rajanya meskipun raja tersebut melakukan kesalahan atau seperti saudara kimbakarna (kalo tidak salah wibisana) yang menyeberang ke pihak rama karena memegang prinsip bahwa yang benar adalah benar? saya pikir tidak ada satu orang pung yang mau di sebut sebagai pengkhianat, karena hal tersebut merupakan ciri-ciri orang munafik.
Salam,
Perumpaan Anda sangat menarik. Ya, inilah dilema yang dihadapi oleh setiap negarawan yang memiliki hati nurani (bukan Hanura lo ya). Apakah tetap setia kepada rajanya/pemimpinnya, atau pada kebenaran nuraninya. Film The Man in the Iron Mask juga menceriterakan hal yang sama. Seorang Muskeeter begitu mengabdi pada rajanya yang lalim, for the sake of being loyal. Belakangan baru dia berubah haluan.
Mari kita bicara tentang SBY. Ketika semua anak buah Soeharto meletakkan jabatan pada bulan Mei 1998 itu, itu adalah suatu kewajaran. Semua menteri mundur. Termasuk SBY. Kecuali Wiranto. Perilaku SBY bukan kejahatan (saya meralatnya), melainkan kelaziman: semua pejabat ingin menyelamatkan diri masing-masing. Maksud saya: seolah-olah yang mundur dan lari dari Soeharto itu bersih? Cuci tangan? Tapi tak apa: lazim. Yang tak lazim adalah yang dilakukan Wiranto. Bertahan sampai akhir, dengan risiko dikecam rakyat, dan dengan bernyali mengumumkan di layar televisi: “Akan tetap melindungi mantan presiden dan keluarganya, karena disyaratkan oleh Undang-undang” (bukan karena berterimakasih atas jasa-jasa Pak Harto).
Mari kita lihat ketika Gus Dur jadi presiden. Orang yang paling dipercaya Gus Dur adalah SBY (Menko Polkam kalau tak salah). Namun ketika Gus Dur diimpeach atas tuduhan yang tak terbukti sampai sekarang (skandal Bulog Rp 35 M), SBY yang diharapkan berada di samping Gus Dur malah meninggalkannya. Yang menemani Gus Dur malam itu hanya kalangan pers dan LSM. Saya kurang suka pada sepak terjang Gus Dur, tetapi pencopotannya sebagai persiden adalah perilaku tidak etis yang didorong ambisi sementara “reformis” untuk menduduki kekuasaan.
SBY malah merapat ke Megawati, dan … jreng ….. dipercaya masuk kabinet Mega. Namun di saat akhir, SBY mendirikan partai lalu mencalonkan menjadi Presiden, bersaing dengan Mega (pantas Mega dendam banget ya kelihatannya). Yang terakhir ini SBY tidak salah, dia berhak mencalonkan diri jadi presiden. Hanya, saya berempati pada Gus Dur dan Megawati: betapa kecewanya ditinggalkan orang yang paling dipercayai.
Tentang kata “pengkhianat”, maaf, that’s a very strong word. Mudah-mudahan saya tidak diperkarakan (beginilah risiko menjadi penulis, harus siap digugat). Tetapi saya mempertahankan pendapat saya bahwa SBY meninggalkan tugas. Wiranto tidak. Sekali lagi, ini bisa dimaknai positif atau negatif, terpulang kepada asipirasi politik masing-masing.
Tulisan saya yang terbaru “Laba Untuk Rakyat” membela SBY dan Demokrat karena diejek oleh seniman yang dibayar oleh pesaing. Pertunjukan tidak etis dan tidak lucu, merusak deklarasi kampanye damai.