Akhir pekan lalu saya melakukan pelatihan public speaking untuk kalangan CEO di Trawas, Mojokerto. Yang paling mengesankan bagi saya adalah, adanya peserta yang setiap kali hendak berbicara (memperkenalkan diri, mengomentari sesuatu dalam diskusi) mengawali pembicaraannya dengan pantun. Ini ternyata disukai peserta lain. Bahkan dalam dua hari, ada peserta lain yang sudah “tertulari”, merangkai syair dan melantunkan pantun sebelum menyampaikan kesan-kesan di sesi akhir.
Pantun atau puisi memang amat menghibur. Tetapi tak hanya menghibur, pantun juga mengandung pesan dan ajaran yang baik. Efeknya, membersihkan hati nurani. Dalam pelantikannya menjadi presiden di tahun 60an, JF Kennedy mengundang penyair sahabatnya Robert Frost, yang kemudian berpantun: “Politik mengotori dunia, puisi membersihkannya”.
Memang betapa kotornya permainan politik belakangan ini. Kampanye dilakukan dengan menghambur-hamburkan dana besar dan diwarnai saling ejek dan kecam. Menjelang penentuan capres-cawapres, para kandidat sibuk tawar menawar posisi kekuasaan. Pidato-pidato atau pernyataan-pernyataan para tokoh jauh dari pembicaraan visi misi yang penting, apalagi puisi yang tidak penting. Suasana menjadi panas, kering.
Dalam budaya Surabaya ada juga ‘parikan’. Ini semacam pantun yang diberi sentuhan humor. Meskipun seringkali membuat orang tertawa terbahak-bahak, ‘parikan’ juga mengandung pesan/nasehat yang penting. Pantun dan ‘parikan’ mungkin salah satu cara yang indah dalam menyampaikan pesan-pesan kepada rakyat. Sayang, tak banyak pemimpin kita yang memiliki minat pada budaya pantun dan ‘parikan’ ini. Mereka lebih memilih melempar kecaman dan celaan dengan bahasa-bahasa yang telanjang.
Bangsa kita boleh dibilang bangsa yang paling “illiterate” di dunia. Sastrawan Taufik Ismail pernah mengadakan penelitian di banyak negara tentang berapa banyak buku telah dibaca seorang lulusan SMA? Tak usah terkejut bila para siswa Indonesia adalah yang paling kurang membaca dibanding siswa di negara lain termasuk para tetangga di Asia tenggara.
Meskipun tampaknya banyak buku baru di toko-toko buku, jumlah penerbitan di Indonesia juga masih jauh di bawah negara tetangga. Kaum muda juga lebih banyak membaca novel pop sejenis “Kambing Jantan”, “Jangan Bilang Aku Monyet” dan sejenisnya. Bila ingin membaca non-fiksi, yang dibuka adalah buku “Jakarta Undercover”. Buku “Laskar Pelangi” memang mencapai penjualan tertinggi, tetapi tak banyak buku semacam itu. Yang disediakan para penerbit adalah novel-novel pop chicklit yang menokohkan cewek kosmopolitan dalam gaya hidup yang amat hedonis.
Bila kita bandingkan masyarakat kita dengan Jepang dalam hal membaca koran saja, akan tampak betapa tertinggalnya kita. Di Jepang rata-rata seorang membaca 4 koran setiap hari, perbadingannya 4 koran: 1 orang. Di Indonesia, perbandingannya satu Koran dibaca 50 orang, 1:50. Dengan oplag koran keseluruhan berjumlah sekitar 4 juta eksemplar, bila satu koran secara riil dibaca 4 orang, hanya 16 juta orang Indonesia membaca koran. Darimana penduduk Indonesia lainnya memperoleh informasinya? Jangan kuatir, ada sekitar 100 stasiun televisi dan 5000 stasiun radio bersiaran, akibat longgarnya aturan penyiaran local.
Bila jumlah oplag koran begitu kecilnya (hanya 4-5 juta untuk 200 juta penduduk) karena mahalnya biaya penerbitan, lain lagi di ranah televisi. Saat ini terdapat 50 juta rumah yang memiliki pesawat televisi. Bahkan rumah-rumah di pinggir Kali Jagir/Wonokromo yang baru digusur, semua memiliki pesawat televisi. Bila satu rumah dihuni 4 orang, hampir seluruh rakyat Indonesia menonton televisi. Rakyat juga sulit dibilang miskin. Saat ini 70 juta orang lebih memiliki pesawat hand phone. Bukankah HP bukan kebutuhan primer? Apakah seorang miskin akan membeli kebutuhan sekunder bahkan tertier?
Persoalannya dengan televisi adalah informasinya yang tidak lengkap dan mendalam, yang berpotensi menyesatkan khalayaknya. Apalagi, banyak program televisi yang lebih menghibur daripada yang mendidik dan member informasi. Program yang dipandu Thukul misalnya, dapat mempengaruhi masyarakat untuk berkata-kata dan berperilaku jorok. Jorok adalah keren. Kebanci-bancian (seperti Olga dan Robin) adalah trend.
Belakangan ini ada program talkshow berjudul Curhat, dimana suami istri bertengkar atau selingkuhan saling serang dengan istri resmi. Hal-hal yang dulu tabu, bahkan sakral, privat, kini digelar di depan umum (televisi adalah ranah publik). Inilah yang kini dianut masyarakat kita: membuka aib adalah gaya hidup, rasa malu adalah jadul (jaman dulu). Pantas saja, banyak orang tertangkap basah berselingkuh, menerima atau memberi suap, bahkan berzina, tidak malu. Mereka baru malu kalau ketahuan. Rasanya bangsa kita benar-benar telah kehilangan rasa malunya.
Bicara tentang rasa malu, orang Jepang akan bunuh diri, atau minimal mundur dari jabatan, bila merasa malu. Rasa malunya tumbuh dari kesadaran, pengakuan, dan penyesalan telah melakukan hal-hal yang salah. Ketika sebuah pesawat kecelakaan atau kapal tenggelam, menteri perhubungan merasa malu karena tak becus mengurus departemennya, lalu dia mengundurkan diri. Di Indonesia, rasa malu bukan muncul dari kesadaran dan penyesalan, melainkan malu karena “ketahuan”. Bila tidak ketahuan, mereka tidak malu korupsi, anak buah bekerja tanpa kendali, departemennya amburadul, atau lebih sering main golf daripada melayani masyarakat. Mereka baru merasa malu kalau sudah ketahuan atau ketangkap basah. Itupun tak akan membuat mereka bunuh diri atau mengundurkan diri dari jabatan. Kalau bisa, jabatan akan terus dipertahankan, kecuali vonis hakim menghendakinya masuk penjara.
Mengasah hati nurani, memperhalus budi pekerti, tak lagi dilakukan oleh bangsa kita. Kita lebih banyak menonton gosip di televisi daripada membaca karya sastra yang mengandung nilai-nilai budaya dan spiritual. Tayangan televisi juga membuat masyarakat malas belajar, malas membaca, malas berdiskusi. Semua sudah disajikan secara instan di layar televisi.
Budaya membaca yang nyaris punah ini tentu mencemaskan dalam jangka panjang. Generasi muda tak cukup memiliki pengetahuan untuk bersaing di pasar dunia. Sudah waktunya para guru mendorong anak didiknya untuk banyak membaca: membaca koran, biografi, buku sejarah, karya sastra. Tentu saja sang guru harus memberi contoh, mendahului gemar membaca. Guru mesti berpikir lebih jauh dari sekadar berburu sertifikat seminar untuk keperluan portofolio yang ujung-ujungnya cuma duit. Lebih penting dari kesejahteraan guru adalah “apakah Anda sudah mengajar dengan baik?”.
Sirikit Syah, 18 Mei 2009
kebetulan saya sdg mengikuti diklat tim penilai jabfung Pustakawan Mbak, dimana peran para pustakawan sangat penting selain kesadaran membaca tentunya, dimana orang agar lebih tertarik ke perpustakaan supaya budaya membaca menjadi virus yang terus menyebar…
Kalau begitu, pustakawan dan perpustakaan harus mengadakan kegiatan-kegiatan yang menarik agar masyarakat datang ke perpustakaan. Misalnya: diskusi buku, ibu mendongeng, anak menulis, jumpa pengarang, dll. Kalau di Surabaya atau Jatim, saya siap membantu.