Selamat Ulang Tahun, Surabaya


 

surabaya-logoTak terasa, usia kota kita sudah 716 tahun. Jauh lebih tua dari ibukota Indonesia, Jakarta, bahkan mungkin tertua di antara kota-kota yang ada di Indonesia. Akan menarik sekali bila kita menyediakan sedikit waktu untuk merenungkan hari ulang tahun kota kita tercinta ini. Misalnya, bagaimana ketika ia dilahirkan dulu; juga, bagaimana ia hidup kelak?

Tak seperti manusia yang bila berulangtahun, artinya usianya semakin pendek; sebuah kota yang berulangtahun sebaliknya. Dia semakin kuat dan semakin siap menghadapi masa depan. Kota tak memiliki batas umur. Kota Jerusalem yang menjadi akar sengketa berkepanjangan dua agama, makin tua semakin seksi saja, dan digadang-gadang menjadi ibu kota Israel dan ibukota Palestina (kedua negara sekarang memiliki ibukota yang berbeda yaitu Tel Aviv dan Jericho).

Seorang fellow Eisenhower asal Meksiko, yang juga ahli perkotaan, mengatakan dalam sebuah seminar internasional di Singapura tahun 2005 bahwa “Kota adalah temuan terbesar peradaban manusia”. Paparannya yang disertai visual tentang bagaimana manusia membangun kota memang membuktikan hal itu. Mempersiapkan semua infrastruktur kota bukan perkara mudah: gedung-gedung yang elegan untuk para pemimpin dan pengelola kota/negara, benteng yang kokoh yang dapat melindungi rakyat dari serangan luar,  instalasi penerangan (jaman sekarang: listrik), saluran air bersih, sarana jalan, bahkan gorong-gorong di seluruh penjuru kota, semua disiapkan dengan perhitungan yang cermat oleh para arsitek jaman dulu.

Mantan rektor Unair, Prof. DR. Puruhito, pernah menceriterakan masa kecilnya di hadapan para anggota Surabaya Academy. “Waktu masih kecil, mungkin sampai SMP, saya bermain-main di sepanjang jalan Ijen, Malang, tetapi di bawah tanah, di gorong-gorongnya. Gorong-gorongnya besar, cukup setinggi anak usia remaja.” Kisahnya itu menunjukkan betapa seriusnya bangsa Belanda ketika membangun Indonesia: gorong-gorongpun dibuat sangat serius, setinggi anak manusia.  Apakah para insinyur kita jaman sekarang juga membangun gorong-gorong setinggi anak manusia?

Kita sebagai penduduk Surabaya pernah mengalami banjir setiap kali musim hujan tiba. Tahun 60 dan 70an, semua jalan yang bernama sungai, benar-benar menjadi sungai. Jl. Indragiri, Jl. Ciliwung, Jl. Cisedane, Jl. Sambas, Jl. Opak, semua tenggelam hingga lutut. Surabaya mulai terentas dari kondisi banjir rutin sejak Purnomo Kasidi  menjadi Walikota di awal tahun 80an. Dokter angkatan darat yang kemudian menjadi punggawa kota ini tak segan-segan dijuluki  “ walikota got”, dan tak peduli dikritik kanan kiri karena orientasi pembangunannya terpusat pada urusan gorong-gorong. Dia bukan salah satu walikota yang populer, masih kalah populer dengan walikota Sukotjo atau Muhaji Wijaya. Hasil kerjanya tak dapat dinikmati pada masanya.

Namun yang tinggal di Surabaya di masa sesudahnya memetik hasil kerjanya. Jalan-jalan bernama sungai tak lagi banjir bila hujan. Bukan berarti Surabaya bebas banjir, mungkin saja banjirnya pindah, antara lain ke jalan Mayjen Sungkono. Di  jalan penghubung ke wilayah barat Surabaya itu, banjir bisa mencapai tinggi setang sepeda motor di tahun 90an. Pengguna jalan Raya Rungkut Kidul (depan pabrik kue Jacobs, pabrik peralatan Kedawung, dan supermarket Alfa), pasti pernah mengalami banjir di tahun 90-an. Namun sekarang daerah-daerah  itu sudah tidak banjir lagi Gorong-gorong sudah dibenahi.

Tak banyak warisan walikota Soenarto kepada Surabaya yang dapat saya catat. Sekarang Bambang DH tampak akan meninggalkan sesuatu yang memorable. Kota Surabaya menjadi lebih indah. Taman-tamannya, yang dulu pernah kering terbengkalai, menjadi hijau dan subur. Seorang mahasiswa UK Petra asal kota Pontianak mengaku kepada saya, “Setelah menjajagi Jakarta dan Surabaya pada masa libur lulus SMA, saya memutuskan kuliah di Surabaya. Saya sangat tertarik oleh taman-taman kotanya yang asri, dan di Surabaya tak ada kemacetan seperti di Jakarta.” Bagi kaum urban, jalur dan jaringan angkutan kota di Surabaya juga amat menolong: lengkap semua jurusan, dan rapi (saya bandingkan dengan sistem angkot di Jakarta, bandung, Bogor yang kelihatan semrawut).

Belakangan ini pemerintahan Bambang DH menggebrag lagi dengan program bersih-bersih hunian liar di bantaran sungai Wonokromo (jl. Jagir) dan di Jl. Nias. Bagi warga kota yang tak pernah menggunakan jalan itu memang akan mudah terpengaruh pada provokasi bahwa pemerintah kota kejam, tak peduli wong cilik. Namun sesungguhnya, Jl. Nias memang nyaris beralih fungsi, karena para penghuni liar yang memiliki usaha di wilayah itu telah merambah badan jalan. Bengkel  mobil dan motor beroperasi di tengah jalan! Sungguh menyulitkan pengguna jalan yang harus melewati jalan itu.

Penggusuran hunian liar di Jl. Jagir juga menyisakan kritik tajam ke Pemkot Surabaya. Sebagai pengguna setia Jl. Jagir (hampir setiap hari saya lewati sejak 1990), saya tahu betapa rawan kecelakannya Jl. Jagir itu, karena jalan ber-arus padat dan cepat, dua arah, dan kanan kirinya perkampungan, dimana masyarakatnya masih berjalan atau menyeberang jalan seenaknya, tanpa peduli pada keselamatan sendiri dan keselamatan orang lain.

Selain persoalan lalu lintas, kita juga pasti melihat bahwa perkampungan di sisi utara Jl. Jagir sangat rawan kebakaran, karena tiang-tiang listrik yang ada sebelumnya, telah dilingkungi oleh bangunan yang mengitarinya. Rumah-rumah telah maju melampaui tiang listrik, persis berbatasan dengan badan jalan raya yang padat itu. Tiang listrik muncul dari atap genting, yang artinya tiang berada di tengah-tengah toko atau rumah. Betapa berbahayanya.

Sekarang kita melihat puing-puing di Jl. Jagir. Beberapa bagian –mungkin kamar mandi- dibangun dengan keramik. Puing-puing ini setidaknya menunjukkan bahwa para penghuni di Jl. Jagir ini bukan masyarakat miskin. Kita juga pernah melihat di sepanjang jalan ada begitu banyak toko dan usaha dagang, dan semua rumah memiliki sepeda motor, dan pesawat televisi.

Pertanyaannya bukan “Mengapa Pemkot tega menggusur mereka?”, melainkan “Bagaimana mereka bisa menempati lahan yang tak boleh dihuni penduduk itu itu selama puluhan tahun?”, dan “Apa yang dilakukan oleh penegak hukum kepada para penjual lahan dan pemungut jasa di wilayah itu selama bertahun-tahun?” Tidak adil bila para penghuni liar digusur, namun para pemeras –di antaranya oknum di Dinas Perairan dan pemerintahan Kota sendiri-  lolos dari kejaran hukum.

Surabaya berulangtahun. Surabaya bersolek. Semakin cantik dan seksi.  Semakin banyak pendatang, semakin banyak cobaan dan godaan. Semoga Surabaya selamat menjalani hidupnya dan sukses dalam mengayomi penduduknya. Panjang umur Surabaya kotaku tercinta.

Surabaya, 30 Mei 2009

Catatan: Artikel ini ditulis khusus untuk Harian sore “Surabaya Post” Kolom “Malem Minggon”, hari Sabtu, 30 Mei 2009

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s