Mencoba Menilai Dari Satu Sisi Saja, Kekompakan Pemimpin.
1. Mega – Prabowo adalah dua karakter yang amat berbeda dan amat kuat. Bagai minyak dengan air, ini sulit disatukan. Saya melihat kekompakan mereka saat ini palsu dan akting saja. Saya cemas kalau mereka jadi, di tengah jalan akan terjadi perpecahan yang genting di tingkat pemimpin bangsa.
2. SBY – Boediono adalah karakter yang bersifat subordinasi, yang satu adalah bawahan satunya, ada loyalitas, ketertundukan. Bisa saja ini akan baik bagi bangsa karena keputusan di tangan satu orang.
3. JK – Wiranto adalah dua orang yang secara politik berasal dari rumah yang sama, kesamaan visi dan misinya tak diragukan. Dari segi pluralitas juga ini pasangan yang multi-etnis. Melihat kesantunan Wiranto, dia akan bisa menjadi Wapres yang baik, meski tidak sepatuh Boediono pada SBY, tetapi tidak sebandel Prabowo pada Megawati.
Beberapa waktu lalu ada perdebatan tentang Boediono, dan ada statement “Kita melihat karakter orang, bukan produk rezim”. Saya ingin melihat sosok Wiranto sebagai pribadi, bukan rezim Orba (seperti SBY dan Prabowo).
Ini catatan positif saya:
1. Wiranto tidak melakukan kudeta ketika dia berpeluang.
2. Wiranto melakukan hal sulit saat Soeharto lengser, yaitu bicara di depan rakyat Indonesia akan mengamankan mantan presiden dan keluarga presiden (sangat tidak poluler), sementara para reformis melakukan hal yang paling gampang: MENCACI MAKI SOEHARTO.
3. Di era Habibie, Wiranto datang ke Aceh dan membubarkan DOM, sambil menangis di sebuah masjid.
4. Saat dituduh dan diperiksa atas pelanggaran HAM di Timtim, Wiranto selalu datang (sementara semua pejabat Orba dan penilep dana negara pada berlarian ke LN). Dia selalu memenuhi panggilan Kejaksaan dan selalu menjawab pertanyaan wartawan. Tidak pernah no comment atau menghindar.
5. Dia tak pernah meninggalkan tugasnya sekalipun di masa sulit (bandingkan dengan SBY yang meninggalkan Soeharto, Gus Dur, dan Mega di saat mereka really count on and trust in him).
6. Wiranto ingin menjadi persiden dan melakukannya dengan politically correct: menjalani konvesi Golkar (saya tidak ingat dia sampai bermusuhan dengan rekan-rekannya di Golkar, tidak terlalu kuat kesan ini), kalah, mendirikan Hanura, nyalon lagi, ikhlas jadi cawapres. Bandingan dengan AR yang 1999 memimpin penolakan pertanggungjawaban Habibie (presiden favoritku), lalu menolak partai pemenang (PDIP) karena isu presiden perempuan, menduduk-paksakan Gus Dur dari PKB, lalu 2 tahun kemudian melengserkannya pula, dst dst … what an act to reach his ambition.
Eh, kok jadi promosi Wiranto ya. Saya bukan promosi dan bukan tim sukses. Tapi tahun 2004 saya memang nyoblos Wiranto, karena kesan baik saya seperti di atas. It’s about personality. Senyum Wiranto, di antara semua kandidat, adalah yang paling spontan dan genuine (tidak jaim atau akting).
Surabaya, 05 Juni 2009
1. sby mendamaikan aceh bukan hanya menanggis di masjid
2. sby tidak mencari peluang untuk kudeta
3. sby tidak berkhianat dengan cara meninggalkan tugas,yang dilakukan sby menurut saya adalah sama seperti hal yang pernah ibu lakukan ketika masih duduk di KPID.
4. kalo wiranto membela soeharto itu sudah sewajarnya karena jasa soeharto sangat besar terhadap wiranto, saya pikir keenpat bintang dipundak wiranto itu semua atas belas kasihan soeharto
5. masalah pelanggaran HAM wiranto menurut saya belum tuntas karena diduga ada deal2 politik dengan rezim yang lalu (kayak ibu tidak tau bobroknya peradilan di negeri kita aja)
6.sby juga memjadi presiden dengan jalan mendirikan partai, menggikuti pemilu dan menang sesuai dengan aturan, senyumnya wiranto itu menurut perasaan saya seperti mengatakan ku tipu kalian semua
Salam ananda Wiwien nun jauh di Bandung,
1. SBY dan JK sama-sama meng-klaim sebagai inisiator pendamai Aceh, tetapi kampanye JK mengatakan bahwa di dokumen perjanjian damai, yang ada ttd JK. Tentu ini bisa dimaknai sebagai “JK-lah tokoh damai Aceh sesungguhnya”, atau “JK diperintahkan oleh Presiden untuk menandatangani. Itu hanya sebagian kecil tugas-tugas yang didelegasikan. Bila presidennya bukan SBY belum tentu JK mendapat peran sebesar itu.” Terserah kita percaya makna yang mana.
2. SBY tak punya peluang untuk kudeta. Wiranto punya, tetapi tidak digunakan. Ini bisa dan sudah diartikan sebagai “pengecut, lemah, goblog”. Tapi ada juga yang seperti saya: “Dia santun, tidak menyalahgunakan kesempatan.”
3. Ya, saya mengkhianati amanat/kepercayaan rakyat. Alasan saya: karena saya dikhianati kolega sesama komisioner dan anggota Dewan. Saya belum paham alasan SBY meninggalkan Soeharto, Gus Dur, dan Megawati, kecuali mencari peluang bagi dirinya sendiri.
4. No comment. Tapi saya melihat SBY menjadi presiden bukan karena faktor kecerdasan atau kepemimpinan melainkan karena keberuntungan.
5. Pengadilan era runtuhnya Soeharto sedang ganas-ganasnya (semangat membalas dendam pada rezim Orba). Wiranto dipanggil DPR, Kejaksaan, Komnas HAM, dll, selalu hadir. Ini cukup untuk mengapresiasinya, setelah melihat banyak mantan pejabat Orba lari dari Indonesia. Wiranto tak pernah sampai ke pengadilan karena tak pernah menjadi tersangka, apalagi terdakwa. Saya percaya Wiranto seperti saya percaya Eurico Guteres BUKAN pengkhianat negara. Guteres adalah wakil dari suara rakyat Timtim yang pro integrasi, yang oleh pihak asing dianggap tidak ada.
6. Kritik saya thd SBY memang cuma pada sikap “meninggalkan tugas untuk mencari peluang bagi dirinya”. Selebihnya, oke-oke saja. SBY cukup santun dalam berpolitik, membangun partai dari kecil sampai signifikan (belum besar). Saya nyaris memilihnya, hanya terkendala beberapa hal: menunjuk para kepala daerah, menteri, dan pejabat BUMN menjadi tim sukses, citra diri yang mirip Indomie, meniru gaya Obama dalam segala hal, membuat sebuah Yayasan yatim Piatu menyumbang tim suksesnya (agak tidak masuk akal menurut saya). Calon lain tak kalah meragukan. Saya juga nyaris memilih JK-Win, tapi terkendala adanya orang-orang seperti Nurdin Halid di situ (kita semua tahu track recordnya), dan kuatir aset negara diperdagangkan (tapi kita pernah dipimpin trah politikus dan nasionalis, aset-aset negara dijual juga). Mega-Pro, saya cemas karena dua orang ini seperti bumi dengan langit yang musykil untuk kompak. Jadi, semoga diskusi ini menjadi inspirasi bagi rakyat Indonesia untuk memilih yang benar. yang penting: gunakan hak pilihmu. jangan jadi Golput.