Menjelang pilpres ini rakyat ‘dihibur’ oleh kampanye para pasangan capres-cawapres. ‘Dihibur’ saya beri tanda petik karena kadang-kadang efek kampanye justru tidak menghibur, melainkan malah ‘mengganggu’, bahkan ‘memuakkan’.
Bagaimanapun, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya para pembaca majalah Peduli, untuk menggunakan hak pilihnya. Jangan sia-siakan hakmu. Juga, menggunakan hak pilih menuntut Anda untuk bertanggungjawab. Engkau memilih, maka engkau bertanggungjawab atas pilihanmu. Kebanyakan orang yang tidak memilih akan dengan gampang mengecam para pemimpin terpilih. Orang yang memilih dan kalah lebih berhak mengkritik pemimpin terpilih, dibanding mereka yang Golput, apatis, tidak menggunakan hak, takut bertanggungjawab. Bahasa gaulnya: “Gak melok pilpres dilarang protes!”
Menarik sekali mencermati ‘jualan’ para kandidat. SBY tampak gagah perkasa dengan slogan “Lanjutkan!” Meskipun agak diplesetkan ke dalam ranah tabu (lelaki perkasa tidak selesai cepat, tetapi terus melanjutkan), slogan ini amat tepat bagi SBY. Kosa kata “Lanjutkan” memberi makna percaya diri, tangguh, sense of success, dan keberlanjutan/continuity. Rakyat sudah lelah gonta-ganti kebijakan. Sudah waktunya untuk melanjutkan. Sebagai kandidat incumbent (sedang menjabat), tak ada slogan yang lebih baik daripada ini.
Itu sebabnya agak aneh ketika tiba-tiba, pada saat kampanye di Pekan Raya Jakarta dan disiarkan langsung oleh Metro TV, SBY menyelipkan slogan “Change” alias “Perubahan”. Ini sagat tidak tepat untuk kandidat incumbent. Slogan “Change” hanya tepat untuk kandidat pendatang baru yang mengusung perubahan. Contoh jelasnya adalah Gus Dur terhadap Rezim Orba, dan Obama terhadap kebijakan George W.Bush. Bila SBY mengusung slogan “Change”, rakyat akan bertanya: “Hendak mengubah apa? Mengubah siapa? Apa ada yang salah lima tahun kemarin?”
Di lain pihak, JK-Win juga tampak kesulitan menentukan slogan. “Lebih cepat lebih baik” terlanjur menjadi bahan ejekan (pantas ibu-ibu lebih suka memilih SBY ….). Slogan Wiranto agak menyelamatkan: “Lebih cepat lebih baik, dengan hati nurani.” Meskipun demikian, slogan JK-Win ini masih kalah kuat dibanding slogan “Lanjutkan!”
Mengikuti stament-statement JK di iklan-iklan politiknya, saya menangkap sebuah kata yang amat ‘bertuah’, terutama di saat sekarang, yaitu “Menjadi bangsa yang mandiri”. Dengan penuh keyakinan JK bercerita hendak menolong pemerintahan AS yang baru (yang tidak mungkin bohong karena amat riskan bila bohong). JK juga menceriterakan penggunaan tenaga pribumi untuk pembangunan beberapa bandara, dan pemulihan swa-sembada pangan. Slogan ini menjadi ‘serangan terselubung’ bagi isu neo-lib pasangan SBY-Budiono yang dependen pada bantuan asing.
Terutama pada saat-saat seperti ini, ketika perempuan-perempuan Indonesia disiksa di Malaysia, dan Malaysia memprovokasi secara terang-terangan di Ambalat, slogan “Menjadi bangsa mandiri” ini amat ampuh. Kata-kata ini menyentuh kesadaran kebangsaan kita yang paling dalam, menggugah martabat dan harga diri bangsa.
Agak sulit menemukan esensi kampanye Mega-Pro. Prabowo sendiri memang berhasil menggugah optimisme dan rasa percaya diri bangsa. Namun Megawati/PDIP tidak memiliki ‘strong-point’ yang bisa dijual. Pada dasarnya kampanye PDIP lebih tentang ‘serangan atas kelemahan pihak lain’ daripada tentang ‘kekuatan kami’. Namun tak dapat diabaikan bahwa rakyat masih cukup fanatik terhadap PDIP. Megawati akan dengan mudah memperoleh jumlah suara yang signifikan, meskipun rakyat tak paham apa programnya.
Sebagai rakyat, kita harus memilih yang benar, sesuai bisikan nurani kita. Tak jarang intuisi dan insting lebih tepat daripada kalkulasi kasat mata. Ahmadinejad, mantan aktivis mahasiswa yang kemudian menjadi walikota Teheran, tidak diperhitungkan dalam kampanye presiden Iran. Orangnya kecil, tak tampak berwibawa, tampilannya super sederhana; istilah Jawanya “gak mawaki”. Namun begitu dia buka suara, orang terkesima. Retorikanya hebat, substansi pemahamannya tentang persoalan bangsa luar biasa, dan tawaran programnya masuk akal. Bahkan saat ini, ketika dia berkampanye untuk dipilih lagi, dia tidak memerlukan biaya kampanye. Kalau kita melihat banyak baliho, spanduk, poster, selebaran tentang Ahmadinejad, itu sumbangan rakyat pendukungnya.
Bila Ahmadinejad tidak mengeluarkan biaya kampanye, kabarnya Partai Demokrat mengeluarkan biaya lebih dari Rp 200 M untuk menyewa FOX, lembaga yang dipercayai menaikkan citra SBY-Budiono. Mungkin semua kandidat juga mengeluarkan biaya ratusan milyar rupiah. Namun sayang juga kalau biaya semahal itu hanya menghasilkan citra peniru (segala sesuatu tentang kampanye SB amat mirip Obama dengan Partai Demokratnya). Selain efek “meniru”, juga dirasakan efek “ketergantungan pada asing”. Inilah yang mestinya diwaspadai oleh tim sukses SBY-Budiono. Apakah citra yang dibangun –dengan biaya milyaran rupiah- efektif untuk meraih simpati publik? Kita akan menjawabnya di saat pencontrengan nanti.
Sirikit Syah, 11 Juni 2009
Catatan: Artikel ini ditulis untuk Majalah Peduli Edisi Juni 2009
memang, tidak bisa dipungkiri peningkatan popularitas terpaksa jadi objekan besar tim sukses. bisnis yang tinggi marjinnya..dari kaos dan spanduk saja saya tahu benar ketika berkesempatan mengurus kaus untuk sekelompok orang, belumbaliho, spanduk dan billboard yang ijinnya saja sudah sangat memakan biaya..Fox sebagai konsultan melambangkan apa yang dipakai dunia modern, yang tidak bisa di pungkiri lagi akan berdampak besar…
karena saya pendukung mega-pro, saya mengajak untuk voting apakah mega-pro mampu membawa perubahan, salah satunya dalam menghapus uu bhp. di
http://romailprincipe.wordpress.com/2009/06/14/mari-voting-untuk-kebijakan-bhp-mega-pro/
Ya, satu hal yang saya tertarik pada Prabowo (bukan Mega) adalah konsep hapus badan hukum perguruan tinggi. tapi, ya, masih pikir-pikir nih:).