Logos, Pathos, atau Ethos?


aristoteles_6 Sekian abad, bahkan sekian millennium yang lalu, Aristoteles telah mengajarkan kepada kita tentang persuasi. Menurut filsuf Yunani itu, seseorang senantiasa cenderung mempengaruhi orang lain untuk melakukan atau mengatakan hal-hal tertentu sesuai kehendaknya. Nah, sekarang kita tengah gencar dirayu oleh tiga kandidat presiden agar mencontreng mereka pada tanggal 8 Juli nanti. Persuasi mereka lakukan melalui berbagai cara; dari tatap muka, berita dan iklan di media massa, poster dan baliho di ruang terbuka, sampai Debat Capres.  Karena telah menjadi tugas tim sukses dan para pengamat ekonomi dan politik untuk mengulas content perdebatan, saya ingin menawarkan pandangan saya tentang potensi keberhasilan persuasi para kandidat.

Mendasari pengamatan saya pada ilmu dasar persuasi ala Aristoteles, saya melihat ketiga kandidat betul-betul mewakili apa yang disebut Aristoteles sebagai logos, pathos, dan ethos. Seseorang dapat berhasil mempengaruhi banyak orang lainnya bila dia memiliki unsur logos; sesuatu yang nalar, masuk akal. Seorang guru misalnya, dipercaya muridnya karena apa-apa yang diajarkannya masuk akal sang murid. Namun ada juga guru yang mungkin tak pandai mengajar, apalagi membuktikan secara nalar bahwa apa yang diajarkannya benar adanya. Ajarannya tak masuk akal siswanya. Namun sang guru memiliki daya tarik atau ikatan emosional, membangkitkan rasa simpati, menumbuhkan kedekatan. Sidharta Gautama, misalnya, melakukan hal-hal yang tak masuk akal. Namun banyak yang mengikuti ajarannya karena merasa ‘senasib-sepenanggungan’. Sidharta menjalani hidup seperti rakyat miskin lainnya. Dengan demikian, dia adalah bagian dari mereka. Ikatan emosional ini disebut pathos

Aristoteles sendiri mengatakan yang paling besar dan kuat pengaruhnya adalah unsur ethos, yaitu semacam track record, catatan perilaku, suri tauladan. Orang bisa saja menganggap sang guru tidak masuk akal. Atau, sang guru tak memiliki ikatan batin dengan sang murid. Namun karena sang guru ditengarai memiliki jalan hidup yang bersuri tauladan, etos itu akan diikuti oleh umat dengan latar belakang apapun.  Nabi Muhammad mungkin contoh paling tepat. Kabar tentang etos-nya tersebar ke segala penjuru dunia, dan berbagai macam bangsa dengan latar belakang etnis dan budaya yang berbeda, dari ujung timur China hingga ujung barat Eropah (Spanyol), dari utara (Rusia) hingga ke selatan (Afrika), berbondong-bondong memeluk ajarannya.

Bila kita menganalogikan kandidat presiden kita dengan teori logos, pathos, dan ethos; dengan berani saya mengatakan bahwa JK memiliki unsur logos yang amat kuat. Meskipun lemah saat presentasi dengan durasi lama, JK sigap dalam sesi tanya jawab langsung yang membutuhkan kecepatan berpikir. Jawaban-jawabannyapun jelas dan masuk akal. Kelihatan kalau JK adalah orang yang banyak akal dan cepat bertindak. Penampilannya sangat sesuai dengan slogannya “Lebih cepat lebih baik”, yang sangat penting mengingat posisi Indonesia yang sudah tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Megawati adalah sosok yang memenuhi deskripsi mengenai pathos. Seseorang bisa memilihmu atau menyetujui tindakanmu hanya karena ada kedekatan (attachment), ada ikatan batin (emosi), ada kesamaan rasa (empati dan simpati). Dalam hal ini Megawati amat pandai mengolah potensi itu. Meskipun dia tidak berasal dari rakyat tetapi dari kalangan istana (bandingkan dengan iklan SBY-Boediono yang menggambarkan asal usul kerakyatan mereka), Megawati toh berhasil mencitrakan dirinya sebagai “bagian dari rakyat kebanyakan”. Boleh saja para intelektual dan akademik mengatakan retorika Megawati hampa makna dan berputar-putar tanpa point yang jelas. Di telinga rakyat kebanyakan, Megawati berbicara membumi, menggunakan bahasa mereka tentang repotnya mengurus KTP, susahnya mendapatkan minyak tanah, dll. Bila ada yang mengatakan “Megawati tidak cerdas”, siap-siap saja patah hati melihat kemenangan Megawati karena sebagian besar rakyat Indonesia juga “belum cerdas”.

SBY adalah sosok yang mungkin oleh Aristoteles dianggap paling besar pengaruhnya, karena kuat unsur ethos-nya. Kita bisa tidak sama suku dengan SBY, tidak sama agama, tidak berasal dari Pulau Jawa; pendeknya tak memiliki ikatan emosional dan tak memiliki kesamaan sedikitpun (pathos gugur di sini). Beberapa program SBY juga agak tidak masuk akal. Misalnya, bagaimana bisa memprioritaskan pemberantasan korupsi bila UU Tipikor masih dipertimbangkan? Pengentasan pengangguran juga menjadi absurd ketika SBY mengatakan tak usah tergesa-gesa memperbaiki UU Ketenagakerjaan (logos gugur). Namun, SBY memiliki ethos yang telah terbukti. Suri tauladannya yang paling jelas adalah ketika besannya sendiri diadili. Pemberantasan korupsi dalam lima tahun belakangan ini, ditambah sepak terjangnya yang cukup lurus, membuat orang –dari Sabang sampai Merauke, apapun agama dan sukunya- percaya kepadanya.

Dua minggu lagi rakyat Indonesia menentukan masa depan bangsa. Memilih pemimpin bukan pekerjaan main-main. Sementara ulama Islam bahkan mewajibkan umatnya menggunakan hak pilih. Pendeknya, apapun latar belakang kita, tanggal 8 Juli kita memiliki andil menentukan masa depan bangsa Indonesia. Tepat juga lagu Cokelat “Lima menit untuk lima tahun”. Sulit membayangkan di moment  crucial (genting) seperti ini ada rakyat Indonesia yang ogah mencontreng, atau mencontreng pilihan tertentu karena dibayar. Bayangkan kalau pilihannya sampai keliru.

Makin hari makin sulit saja menentukan pilihan, justru karena ketiga kandidat semakin menunjukkan kebolehannya. Debat Capres memang sangat menarik, sangat mendidik dan mencerahkan, membuat rakyat memiliki bekal cukup untuk bertindak tanggal 8 Juli nanti. Bahkan AC Nielsen mencatat naiknya rating kepemirsaan berita TV di musim pilpres ini. Animo rakyat menonton berita pilpres sangat besar.

Debat Capres yang ke-2 Kamis malam kemarin tampak lebih hidup, lebih hangat, lebih spontan. Para kandidat sudah lebih relaks dibanding saat  Debat Pertama. Kita melihat kecerdasan dan selera humor Jusuf Kalla. Kita melihat ketenangan dan ‘electronic eloquence’ (kefasihan elektronik) SBY –struktur bahasa dan ketepatan durasi. Kita menyaksikan bagaimana Megawati merayu rakyat dengan bahasa ‘bumi’nya. Saya sendiri berpikir, kalau saja ketiga tokoh ini bersatu. Mungkin saja Indonesia akan melesat bagai anak panah, jauh melampaui negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara.

Sirikit Syah

Surabaya, 25 Juni 2009

Catatan: Artikel ini ditulis khusus untuk Kolom Malem Minggon, Harian Sore Surabaya Post, edisi Sabtu, 27 Juli 2009

3 comments on “Logos, Pathos, atau Ethos?

  1. Bu Sirikit, saya tdk komentari artikel ini. tapi saya komentari tampilan Blog Ibu, sangat menarik hati saya. bisa tidak bagi2 caranya untuk tampilkan Translator,dan Pengumuman spt Dialog interaktif disamping kanan atas ini. Trimakasih ya kalau sedia bagi ilmunya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s