Open Mind, Open Heart, Open Will


Ongku Hasibuan

Ongku Hasibuan paling kanan

Ongku Hasibuan adalah Bupati Tapanuli Selatan. Sebelumnya, dia CEO di sebuah perusahaan minyak mulit-nasional. Hidupnya berkeliling dunia, pindah-pindah base. Pada suatu hari ketika menghadiri perkawinan kerabatnya di Tapanuli Selatan, dia mengalami perjalanan darat yang panjang. Sepanjang perjalanan dia melihat kemiskinan. “Ada orang luka kakinya sampai membusuk, saya tanya mengapa tidak diobati, dia bilang Puskesmas jauh dan mahal,” kenang Pak Ongku.

Seketika Pak Ongku bertekad untuk membangun daerahnya. Dia mengumpulkan semua orang top di Jakarta yang berasal dari Tapanuli Selatan. Semua teman masa kecil dan teman sekolahnya setuju, harus ada yang pulang untuk membangun daerah. Celakanya, Pak Ongku ditunjuk sebagai wakil. Pak Ongku harus –dan didukung- untuk mencalonkan diri menjadi bupati. Pak Ongku kemudian rembugan dengan keluarganya. Inilah hal terberat. Dia mengajak keluarganya meninggalkan zona aman. Ijin dan restu tak didapat dengan mudah.

Singkat cerita, Pak Ongku menjadi bupati. Betapa berat menjadi bupati, bila engkau pernah menjadi CEO sebuah perusahaan multi nasional. Semangat dan enerjimu untuk maju tak menemukan salurannya. DPR selalu mengganjal dan menjegal. Staf pemerintahan merasa pimpinan terlalu kencang berlari dan membuat mereka terseok-seok. Anak buah merasa tidak nyaman.

Di sebuah sesi di MIT Boston, Pak Ongku bercerita di kelas sambil menangis, dan itu membuat kami semua juga menitikkan airmata. “Mungkin saya terlalu ambisius. Saya salah tempat. Saya mengorbankan istri dan anak-anak saya, mereka saya tinggalkan di Jakarta. Untuk apa? Saya mencari apa? Semua gagasan kemajuan tidak berjalan. Mungkin saya akan mundur saja sebagai bupati.”

Namun itu pekan pertama kami menjadi fellow. Dukungan para fellow  membuatnya bangkit. Juga Teori U dari Otto Scharmer membuatnya membuka pikiran, hati, dan niat. Dalam setahun, pandangan Pak Ongku berubah. “Ternyata selama ini saya egois. Saya memaksakan kehendak, tanpa mendengar kebutuhan rakyat sebenarnya. Dengan lebih banyak mendengar, berdialog, sensing, saya menjadi terlibat dan lebih mudah melibatkan mereka.” Itulah Teori-U yang kami pelajari selama setahun: berkomunikasi non-literal. Dengan lebih banyak mendengar anggota DPR, Pak Ongku juga lebih banyak didengar.

Pak Ongku dan beberapa kawan membuat prototipe sanitasi di Desa Panobasan, salah satu desa yang tertinggal di kabupatennya. Dengan dukungan fellow lain dari Jakarta Post, UI, dan Media Group (termasuk Andy Noya), mereka membangun toilet umum sebagai ganti kebiasaan buang hajat ke sungai yang juga digunakan untuk mencuci dan mandi. Inilah cerita Pak Ongku, setelah kami semua diwisuda kemarin: “Toliet sudah jadi, sudah digunakan. Saya suruh staf memotret. Wow, jorok sekali. Mereka lupa atau enggan menyiram. Padahal air berlimpah. Ternyata ini persoalan mengubah mental. Bangunan toilet bisa selesai dalam beberapa bulan, tetapi membangun mental dan budaya kebersihan, perlu waktu lebih lama lagi. Tetapi tak apa, kami akan terus bekerja.”

Pak Ongku juga tidak menyerah ketika niatnya untuk mengirimkan anak-anak berbakat ke Institut Surya –agar menjadi juara-juara dunia ilmu fisika- ditentang oleh DPR karena terlalu memboroskan APBD. “Bukan hanya DPR yang menentang, orangtua anak-anak itu juga tidak setuju saya kirim anak-anaknya ke Jakarta. Mereka takut anaknya tidak pulang,” kata Pak Ongku. Sekarang, setahun setelah peristiwa di Boston, dimana Pak Ongku nyaris putus asa, dia kelihatan lebih tegar menghadapi tantangan.

Hari Selasa lalu kami diwisuda oleh Dekan MIT Sloan Management School di Jakarta. Di antara yang diwisuda ada yang sudah profesor, yaitu profesor Yohanes Surya dari Surya Institut (yang juga Rektor Universitas Multi Media Nasional), serta profesor Gumilar Sumantri, Rektor UI yang dikabarkan akan menjadi calon Mendiknas. Kabarnya Gumilar sudah didekati oleh ketiga kandidat.

Prototipe kelompok saya adalah membangun masa depan pers Indonesia yang lebih baik dengan membangun sekolah jurnalisme. Kelompok kami yang terdiri dari praktisi media (Pemred Sinar Harapan Kristanto Hartadi), pemilik korporasi media (Reino Barack dari Global Media Com), pemerintah (Sondang Anggraini dari Departemen Perdagangan), saya sendiri dari NGO/Media Watch, mendapatkan banyak dukungan. Rosano Barack (ayah Reino Barack yang juga salah seorang pemilik Global Media Com-MNC) telah menyumbang $50,000 sebagai awal pelaksanaan proyek. Cherie Salim (putri Nursalim) akan membawa proposal kami ke Columbia School of Journalism (Cherie adalah salah satu Dewan Penyantun di Columbia University). Dia memandang pendidikan jurnalistik, terutama etika, amat penting bagi peningkatan kualitas jurnalisme di Indonesia.

Ada prototipe pemberdayaan perempuan (dengan memberi peluang kerja dan kemandirian ekonomi). Ini juga sudah berjalan dengan ditampungnya hasil karya dari bahan daur ulang di Alun-Alun Indonesia, yang kebetulan dimiliki/dikelola oleh seorang fellow, Catherine Wijaya. Jadi, bila Anda masuk Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia, dan melihat barang-barang dari bahan daur ulang yang harganya di atas Rp 100 ribu rupiah, jangan heran. Itulah kejelian pengusaha mengubah “barang gak kanggo” menjadi sesuatu yang artistik dan trendy. Mereka mendapat bantuan disain cuma-cuma dari disainer Esmod.

Kelompok lain membangun ekonomi kerakyatan/usaha kecil –memandirikan pedagang bakso, misalnya. Ada juga yang hendak mencari solusi banjir Jakarta dengan memberi perhatian di hulu sungai Ciliwung, alih-alih di hilir sungai.

Teori U dari sekolah tehnologi terkemuka dunia ini membuat kami semua melupakan sekat-sekat sektoral, gender, ras, agama. Ketika ditanya, apa yang saya dapatkan dari fellowship ini, dengan tegas saya katakan: program ini menghapus prasangka antar sektor, dan membuktikan bahwa segala sesuatu bisa dikerjakan dengan berkolaborasi. Melihat cara kerja Sondang (dari Departemen Perdagangan) dan Pak Ongku (bupati), keduanya orang pemerintah, saya percaya bahwa banyak pegawai negeri yang baik. Bergaul dengan pengusaha papan atas seperti Catherine Wijaya dan teman-teman dari Media Group, prasangka saya tentang pengusaha menjadi gugur. Mungkin pula melihat saya, pandangan mereka terhadap LSM juga berubah. Kami semua dapat bekerjasama dengan sangat produktif dan efektif. Bila 25 orang di antara kami bisa, Indonesia pasti lebih bisa.

Sirikit Syah, 4 Juni 2009

Catatan: Artikel ini ditulis khusus untuk Harian Sore Surabaya Post dalam kolom  Malem Minggon, edisi Sabtu, 4 Juni 2009

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s