Sebulan belakangan ini kita bangsa Indonesia mengalami saat-saat yang belum pernah kita alami sebelumnya. Gegap gempita pemilihan calon anggota legislatif, disusul pilpres dengan kampanye yang intensif, serasa membuat kita ‘hidup’ sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Kita tak pernah mengalaminya hingga runtuhnya Orde Baru tahun 1978. Kita juga tak mengalaminya saat Pemilu 1999 dan 2004.
Sebagai konsumen media, kita sangat terbantu oleh aktivitas dan intensitas media massa memberitakan gerak politik para kandidat pemimpin bangsa. Bila ditanya ‘Bagaimana peran media dalam Pilpres 2009 ini?’, dengan tegas saya akan menjawab “Sangat positif!” Yang paling hakiki, media massa meringankan beban KPU dan Panwaslu dalam mensosialisasikan cara-cara memberikan suara, termasuk pengenalan pada gambar dan logo partai-partai. Tanpa media massa, rakyat tidak hafal gambar/logo 38 partai peserta pemilu, dan rakyat akan banyak melakukan kesalahan dalam memberikan suara. Mencoblos atau mencontreng? Media massa mendidik kita semua.
Memang terkadang ada perasaan iri atau curiga melihat iklan-iklan berseliweran di media cetak dan media siaran. Di media cetak, iklan kandidat menyita space berhalaman-halaman, di media siaran iklan mereka muncul hampir setiap menit. Dengan rasa curiga kita bertanya-tanya: darimana uang sebanyak itu? Mengapa dihambur-hamburkan begitu mudah demi mencapai kemenangan?
Namun mari kita lihak sisi positifnya. Pemilu dan Pilpres telah menumbuhkan geliat ekonomi rakyat, lima tahun sekali. Bila industri periklanan banjir pesanan, itu artinya industri kreatif (yang sedang dipopulerkan oleh Menteri Perdagangan Marie Pangestu) juga bangkit. Kita melihat indahnya iklan Mega-Pro, SBY-Boediono, dan JK-Win, dan kita terkagum-kagum pada seni koreografi, aransemen musik, videografi-nya. Iklan ini menggerakkan daya kreatif dan artistik anak bangsa. Ini belum menghitung berapa banyak industri rumahan yang mendapat berkah order membuat baliho, poster, leaflet, kaus, topi, jaket, dll. Triliunan rupiah dibelanjakan di dalam negeri dan dibayarkan kepada anak negeri.
Dari segi kampanye, memang ada beberapa paradox yang mencerminkan kualitas tim sukses masing-masing kandidat. Ada JK yang berhasil menghemat dana Pemilu KPU dari Rp 45T menjadi Rp 25T, namun keberatan gagasan penghematan dengan iklan satu putaran. Ada pakar yang menganggap hasil survai atau polling tidak signifikan –kalau yang angkanya tinggi adalah kandidat yang bukan jagonya. Giliran ada polling lain meninggikan angka kandidat jagoannya, pakar yang sama mengutip hasil polling itu dalam ceramah-ceramah atau wawancaranya di media massa. Percaya atau tidak percaya hasil polling, ternyata bukan berdasarkan keilmuan, melainkan berdasarkan siapa yang diuntungkan oleh hasil polling.
Yang paling menarik adalah adanya iklan bodoh satu putaran. Iklan ini bodoh karena –dalam teori tentang message- iklan ini meaningless, tak bermakna. Mana bisa mengajak rakyat untuk satu putaran? Rakyat akan mencoblos sesuai hati nurani, apakah hasilnya satu atau dua putaran, hanya bisa ditentukan setelah coblosan. Iklan bodoh seperti ini mestinya tak perlu ditanggapi. Maka, lebih bodohlah orang yang menanggapinya. Ada yang gusar dengan iklan ini, merasa terintimidasi oleh iklan yang berbunyi ‘netral’ ini. Padahal, satu putaran bisa saja dimenangkan kandidat nomor 1, 2 atau 3, kan? Mestinya semua pihak berdoa agar pilpres cukup satu putaran.
Selain pengalaman-pengalaman menarik di masa kampanye ini, pilpres kali ini banyak membuat kita melek politik, membuat kita belajar. Media massa membantu kita memotret sosok dan karakter para kandidat. Megawati tampak keibuan, lembut sekaligus tegas, kelihatan tidak cerdas tetapi membumi, teguh pendirian. SBY dipotret sebagai sosok yang gagah, membanggakan bila berdiri bersama kepala negara lain di dunia, tampak cerdas, namun terkesan seperti banyak latihan (dalam berbicara maupun body language dan gesture). JK boleh dikata menjadi bintang musim kampanye ini. Ceplas-ceplos, tidak takut tidak populer, tak takut salah, sedikit ngawur/tidak teratur, namun kelihatan genuine/jujur.
Mungkin JK-Win tidak akan menang. Namun harus diakui bahwa JK telah menghadirkan ke pentas politik kita suatu pertunjukan yang menghibur sekaligus mencerdaskan. Bila JK-Win tidak menang, setidaknya kita mesti berterimakasih kepada mereka karena telah memberi kita pengalaman dan pelajaran berharga. JK dan media massa telah menjalankan peran dan fungsinya secara lengkap: memberikan informasi sebanyak-banyaknya, memberikan edukasi kepada rakyat calon pemilih, melakukan kontrol sosial (klaim-klaimnya mematahkan arogansi SBY yang semula mencitrakan keberhasilan 5 tahun belakangan ini adalah keberhasilannya sendiri), menghibur (sense of humornya betul-betul membuat politik menjadi menarik), dan ekonomi (menumbuhkan geliat ekonomi bangsa). Namun rasa terimakasih saya pada JK yang terutama adalah: kemampuannya membuat kalangan Golput berpikir ulang. Saya memprediksi jumlah Golput menurun karena JK.
Kita juga mesti berterimakasih pada Mega-Pro yang telah menggelontorkan begitu banyak dana pribadi untuk memeriahkan pilpres kali ini. Kritik-kritik tajamnya kepada pemerintah yang sedang berjalan menggugah kita semua bahwa semua tak seindah kelihatannya. Memang ada kecaman bahwa statemen-statement Prabowo menyesatkan, namun sejauh pemerintah tidak menuntutnya mencabut pernyataan, rakyat masih akan percaya pada pandangan-pandangan Prabowo.
SBY tampaknya akan menang. Kita harus menaruh hormat pada kemenangannya, yang tentu tak diperolehnya dengan mudah. Sebuah survai oleh lembaga PR di Jakarta menyebutkan pasangan ini paling banyak diserang negative dan black campaign. Mulai dari isu neo-lib, jilbab, agama istri cawapres, persoalan ras, dll, betapa berat hantaman yang mesti dihadapi SBY-Boediono menuju ke tampuk kepemimpinan. SBY, yang juga adalah presiden incumbent, memungkinkan kita semua mengalami pesta demokrasi ini. Akan mengherankan bila dalam pilpres yang amat demokratis ini masih ada yang akan Golput. Menganggap tak ada calon yang layak? Curiga penyelenggaraan tidak jujur? Semua dimulai dari diri kita sendiri: berikan suaramu dengan jujur, jangan mau dibayar. Dari tiga kandidat yang ‘jelek semua’ itu, singkirkan ‘yang paling jelek’ dengan cara memberikan suaramu pada ‘yang agak lumayan’. One vote matters. Lima menit untuk lima tahun. Negara di tangan kita sekarang.
Sirikit Syah
Dosen dan pengamat media
Direktur LKM-Media Watch