Saya baru saja menyelesaikan buku “Black Swan” karya Nassim Nicholas Taleb. Saya sedang berusaha menganalisis peristiwa apa di Indonesia yang tergolong Black Swan, ketika bom meledak di Jakarta kemarin. Saya benar-benar terganggu, karena betapapun saya berusaha keras mencocokkannya, fenomena bom Jakarta tidak cocok dengan teori Black Swan.
Baiklah, mungkin perlu saya jelaskan lebih dulu apa yang dimaksud dengan Black Swan. Inilah ciri-ciri peristiwa yang disebut Black Swan: tidak dapat diramalkan, berdampak besar, dan ketika terjadi, mendorong manusia membuat penjelasan bahwa itu bukan kebetulan. Teori yang lahir dari akar ilmu statistik, khususnya tentang ketidakpastian, ini telah menemukan bukti-bukti nyatanya. Peristiwa Depresi di AS di akhir abad 19, Perang Dunia II, runtuhnya Uni Soviet, runtuhnya Tembok Berlin, bubarnya apartheid di Afrika Selatan, krisis ekonomi tahun 1997, jatuhnya bursa saham 2008, bahkan munculnya Internet dan kejayaan Google. Semua hal yang bermakna pada hidup kita atau di sekitar kita, sesuatu yang berdampak besar, terjadi tanpa dapat diramalkan sebelumnya.
Meskipun para “pakar ilmu sosial”, menurut Taleb, berusaha menganalisis peristiwa masa silam (yang telah terjadi) dan bersikeras bahwa bahkan ketidakpastian dapat diukur, tetap saja kita dikejutkan oleh hal-hal yang tidak diperhitungkan, tidak terduga. Sebelum benua Australia ditemukan, orang tak pernah berpikir bahwa ada angsa berwarna hitam. Sebelum ada Internet, orang tidak pernah meramal itu akan ada. Siapa pula meramal akan ada tokoh seperti Hitler?
Bom yang meledak di Jakarta kemarin, apakah itu Black Swan atau bukan? Para pakar ilmu sosial akan mengatakan, itu sama sekali bukan Black Swan. Bom rutin terjadi di Indonesia, sejak jaman Soeharto hingga era reformasi. Sejak Bom Bali I tahun 2002, hingga Bom Bali II, dst, semua dapat diduga. Bahkan bom sudah pernah meledak di Hotel Marriot tahun 2003, dan kini bom meledak lagi di tempat yang sama. Seharusnya kejadian kemarin dapat diprediksi. Tampaknya, memang sudah diprediksi. Lihat saja, menurut catatan para jurnalis di sebuah milis jurnalisme, Hotel JW Marriot dan Ritz Carlston adalah hotel paling ketat penjagaannya di Jakarta. Toh, pemeriksaan dan penjagaan yang super ketat itu –yang berarti ada perhitungan bahwa sesuatu bisa saja terjadi- tidak mencegah terjadinya bom meledak.
Namun bisa saja peristiwa ini memang Black Swan. Setidaknya dalam ukuran lima tahun kepemimpinan SBY. Lima tahun ini Indonesia tergolong aman dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada konflik etnis dan agama, bahkan separatisme (Aceh dan Papua) telah diatasi dengan cukup elegan. Terakhir, pemilu berjalan dengan aman dan lancar. Ya, ada kelemahan disana-sini, namun siapa di antara kita yang sudah memprediksi akan terjadinya ledakan bom yang menewaskan tujuh orang dan melukai puluhan lainnya itu?
Ini juga bisa Black Swan karena dampaknya besar, dirasakan tak hanya oleh seluruh rakyat Indonesia, tetapi juga para negara sahabat. Sebuah rencana pertandingan sepakbola spektakuler bahkan dibatalkan. Dapat dibayangkan betapa kecewanya para penggemar Manchaster United. Lalu, sebagai karakter ketiga: peristiwa ini membuat banyak pakar berusaha menciptakan penjelasan-penjelasan masuk akal. Para pakar berusaha mengajukan analisisnya bahwa peristiwa ini dapat diperhitungkan.
Yang paling pakar dari segala pakar adalah Presiden SBY sendiri, yang segera menganalisis –dalam pidatonya kemarin- bahwa bom ini ada kaitannya dengan Pilpres dan kemenangannya. Presiden SBY bahkan menyatakan bahwa ini “sudah diduga sebelumnya”, sambil menunjukkan “beberapa bukti yang telah diperoleh”. Tentu saja ini memancing reaksi, terutama dari pihak yang merasa disindir. Kubu Mega-Pro kemudian mengadakan jumpa pers, yang intinya menyatakan “Presiden lari dari tanggungjawabnya yang gagal, yaitu memberi rasa aman dan melindungi rakyat, dengan melempar kesalahan kepada lawan politiknya.” Seseorang yang sinis bahkan menulis di sebuah milis: “Sudah menang mutlak kok masih bekampanye, mem-victimize diri sendiri. Seperti tidak PD (Percaya Diri, pen).”
Tentu saja statement-statement presiden yang terlalu dini itu memancing masalah. Apalagi dalam perkembangannya, ada sumber-sumber yang mengatakan pelaku pengeboman adalah jaringan Al-Qaeda. Dua-duanya sama-sama absurdnya. Rakyat Indonesia memerlukan penjelasan yang lebih masuk akal, dan itupun tak perlu diberikan secara terburu-buru dan prematur.
Beberapa tokoh segera menggalang solidaritas yang mendeklarasikan kutukan atau kecaman kepada terorisme dan teroris. Sebetulnya kita mesti berhati-hati dalam mendeklarasikan sebuah pernyataan politik. Kita tengah dihadapkan pada sebuah upaya penggiringan: kita diajak mengecam teror sekaligus memainkan sebuah ‘trick’ menyudutkan seseorang yang terlanjur dianggap sebagai personifikasi kejahatan kemanusiaan di masa lalu.
Peristiwa ini tidak cukup direaksi dengan pernyataan keprihatinan dan deklarasi politik. Peristiwa ini memerlukan sebuah aksi nyata, bukan retorika. Kita menunggu aparat menuntaskan penyelidikan. Take your time ….. rakyat sabar menunggu. Kita juga berharap agar peristiwa ini tidak serkaligus digunakan sebagai alasan untuk menyingkirkan mereka yang tak disukai, atau mengalihkan perhatian dari hal yang tak kalah crucial: kejujuran hasil pemilu.
Nassim N Taleb, penulis buku ini, mencatat betapa bingungnya manusia melihat persekutuan antara fundamentalis Kristen dan lobi Yahudi/Israel serta permusuhan Islam-Yahudi saat ini. Pada abad terdahulu, dari abad 16 hingga 19, orang Kristenlah yang bersikap anti-semit (digambarkan dengan sangat gamblang di film Merchant of Venice yang dibintangi Al Pacino dan beberapa karya sastra lainnya); sementara Islam –sepanjang sejarahnya- lebih melindungi kaum Yahudi.
Seorang teman mengingatkan, tidak mungkin Prabowo berada di balik peristiwa ini, karena dia seorang ultra-nasionalis. Mana mungkin ultra-nasionalis bertemu dengan jaringan Al-Qaeda? Ya, peristiwa ini tetap menantang pemikiran kita semua. Meskipun beberapa kambing hitam sudah disebut, kita masih belum tahu apakah ini sebuah Angsa Hitam.
Sirikit Syah
18 Juli 2009
Catatan: Artikel ini ditulis khusus untuk Harian Sore “Surabaya Post” edisi, Sabtu, 18 Juli 2009, dalam kolom “Malem Minggon”
“Tentu saja statement-statement presiden yang terlalu dini itu memancing masalah. Apalagi dalam perkembangannya, ada sumber-sumber yang mengatakan pelaku pengeboman adalah jaringan Al-Qaeda. Dua-duanya sama-sama absurdnya. Rakyat Indonesia memerlukan penjelasan yang lebih masuk akal, dan itupun tak perlu diberikan secara terburu-buru dan prematur.”
I like it..Jadi apa tujuan konferensi itu?