Media Melintir atau Diplintir?



SBY_sasaran tembakInsiden Bom Jakarta telah dua minggu berlalu. Yang diduga sebagai pelaku masih, bahkan semakin tidak jelas. Namun sudah begitu banyak tudingan kepada media massa, diantaranya dari Presiden SBY dan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna. Dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (24/7), Nanan mengungkapkan, maraknya penayangan gambar-gambar korban ledakan bom sebagai aksi media menyuarakan teroris.

Mula-mula SBY menyatakan dirinya diplintir media. Itu setelah hiruk pikuk pemberitaan mengikuti pidato resminya di hari pertama pengeboman (Jumat 17 Juli 2009). Tak hanya di media massa pidato SBY mengundang komentar miring, di berbagai milis dan komunitas juga pidato itu dikritisi dengan tajam, bahkan jadi bahan ledekan. Pidato hari Jumat itu kemudian disusul pidato hari Rabu, saat SBY menuduh media massa telah memlintirnya.

Mari kita membahas persoalan ‘plintir memlintir’ ini. Istilah ‘mlintir’ ini dipopulerkan oleh Presiden Gus Dur, yang dalam catatan saya termasuk presiden yang paling banyak diberitakan negatif oleh media massa. Berita negatif seputar Gus Dur sering diusung media pada masa jabatannya sebagai presiden (1999-2001): dari kekerapannya ngelencer ke LN, penghapusan kesakralan istana, minimnya fasilitas bagi pers, banyaknya para ‘pembisik’, adanya perempuan simpanan, dll). Bagaimana Gus Dur mensikapi media yang cenderung offensive terhadap dirinya itu?

Gus Dur memanggil para pemred se-Indonesia untuk berdialog di Utan Kayu menjelang akhir jabatannya. Meskipun pertemuan itu tetap tidak produktif bagi Gus Dur karena audience tetap dan makin kritis; itu adalah upaya elegan membina relasi media. Bandingkan dengan era Megawati, dimana beberapa pemred dan mahasiswa demonstran masuk penjara (di antaranya pemred Rakyat Merdeka dari Jawa Pos Group). Patut kita ingat, betapapun kejamnya pers meliput Gus Dur, Gus Dur tidak pernah membreidel media atau memenjarakan wartawan.

Gus Dur merasa sering ‘diplintir’ media, karena dari sekian banyak/panjang pernyataannya, media hanya mengutip sebagian, dimana pilihan fcuplikan itu ditentukan oleh pihak pers (wartawan atau redaktur). Menurut teori jurnalistik, ini sebetulnya bukan plintiran, melainkan normal editing. Space (untuk media cetak) dan durasi (untuk media siaran) terbatas. Memberi statement panjang lebar saat diwawancarai media sangat tidak dianjurkan. Media punya hak menyuntingnya, dan akan bertanggungjawab penuh atas pilihan suntingan. Dalam kasus Gus Dur, kesalahan terletak pada kekurangbijaksanaan narasumber sendiri dalam mensikapi/mensiasati media. Wiranto adalah jenis narasumber yang paling cerdas dalam memberi pernyataan di media massa. Pernyataannya pendek, to the point, sulit diedit di meja redaksi.

Kasus plintiran paling terkenal tentu saja Presiden Ahmadinejad dari Iran, ketika tahun 2006 memberi pernyataan dalam jumpa pers, perihal rekayasa teknologi nuklir. Wartawan CNN menyiarkan beritanya dengan mengubah kata “teknologi” dengan “senjata”. Sejak itu Iran dimusuhi oleh banyak negara di seluruh dunia, dimotori oleh AS, karena dituduh melakukan pembangunan senjata nuklir. Betapa beda makna kata “teknologi” dan “senjata”, dan betapa besar dampaknya. CNN dilarang beroperasi di Iran hingga mereka minta maaf dan mengakui adanya kesalahan terjemahan.

Namun, situasinya menggelikan ketika Presiden SBY mengaku diplintir media, atas pidato/pernyataannya yang disiarkan full and live oleh beberapa stasiun televisi. Media televisi tidak mengedit/memotong, tidak mencuplik sebagian. Media televisi menyiarkan langsung dan penuh. Kita, pemirsa, menyaksikan kata demi kata, gesture, body language, mimik wajah, tekanan/intonasi, ekspresi geram, dari Presiden SBY.  Kita semua ingat butir-butir penting pidato di hari naas itu: bahwa ada kaitan bom dengan pilpres, ada upaya menduduki KPU, ada rencana menggagalkan pelantikan SBY sebagai presiden terpilih, ada drakula cawapres, ada foto-foto latihan penembakan, semua data dari intelijen, bukan rumor atau gosip, semua ada buktinya.

Tak lama sejak pidato yang menghebohkan itu (kurang dari setengah hari), para orang dekat buru-buru meralat dan mengkoreksi, di antaranya Jubir Andi Malarangeng dan Menkopolhumkam Widodo AS. Coba kita pikirkan: bila tak ada pernyataan yang salah, mengapa ada koreksi? Dan itu masih di hari pertama. Di hari-hari berikutnya, kesalahan presiden mensikapi bom Jakarta itu menggelindhing bagai bola salju. Secara mental intelektual, sebetulnya SBY pantas malu, sebab sesungguhnya media massa tidak memlintir ucapannya. Media massa memotret fakta.

Kasihan media massa. Sudah menyiarkan pidato secara lengkap dan langsung, masih dituduh mlintir. Mungkin saja media cetak dan on-line bisa mengedit (bukan mlintir), karena space terbatas, tetapi media televisi telah menayangkannya secara penuh, bahkan berulang-ulang. Persepsi masyarakat atas pidato presiden adalah sepenuhnya hak masyarakat, tak ada campur tangan media di situ.

Media massa semakin terpojok dengan tuduhan Kadiv Humas Mabes Polri bahwa media digunakan sebagai alat teroris. Media yang terlalu agresif, kata Kapolri, dapat menjadi corong terorisme. Ini pernyataan mengada-ada, yang sesungguhnya hanya alibi atas upaya pihak keamanan menggunakan media massa untuk memancing di air keruh. Rekaman CCTV yang ditayangkan media adalah pemberian pihak keamanan. Nama-nama para tersangka (yang masih sangat sumir) dibocorkan sendiri oleh kepolisian. Semua ini dengan tujuan pembentukan opini publik. Leak adalah salah satu strategi yang lazim dipakai untuk testing the water. Kalau ada tuduhan media digunakan atau diperalat, itu lebih oleh aparat kepolisian daripada oleh teroris. Siapa teroris yang menggunakan media? Kita menyaksikan, sumber media didominasi oleh aparat kepolisian dan para pakar selebriti, yang dipotret sebagai ahli bom atau ahli terorisme.

Untunglah SBY sekarang sudah diam. Jumat dia bicara sesuatu, lalu Rabu dia menyatakan sesuatu yang lain, sambil menuduh media. Di masa genting seperti saat ini, dimana kesahihan hasil pilpres masih dalam ujian, memusuhi (atau memfitnah) media adalah hal yang paling tidak disarankan.

Sirikit Syah, 29 July 2009

Pengamat Media


3 comments on “Media Melintir atau Diplintir?

  1. Wiranto adalah jenis narasumber yang paling cerdas dalam memberi pernyataan di media massa. Pernyataannya pendek, to the point, sulit diedit di meja redaksi.
    :D

  2. hmmm, lain orang lain pemikiran. media pada posisi ini, memang menyiarkan secara apa adanya. dan kesalahan sedikit saja dari pernyataan orang no 1 indonesia saat ini, tentu saja dapat menjadi bola salju. dan ketika itu, media tentu saja punya peran di dalamnya…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s