NINE ELEVEN

Cerpen
Dimuat di Harian pagi “Jawa Pos” edisi 13 September 2015

Pembodohan masyarakat dunia

Betapa apes nasibku. Ketika peristiwa 9/11 terjadi, aku persis berada di jantung kota New York, di rumah keluarga teman dekatku. Aku sulit menggambarkan kepada Anda, bagaimana wajah-wajah ramah di ruang tamu itu berubah menjadi masam, sedih, histeris, marah. Kalau saja aku siput atau kura-kura, aku pasti sudah memasukkan kepalaku ke dalam cangkangku dan perlahan-lahan beringsut dari ruang tamu yang tadinya ceria diisi canda tawa.

Aku terpaku di kursiku, mungkin wajahku pucat pasi. Mata kami semua terpaku pada layar televisi yang menyiarkan secara live menit-menit runtuhnya the Twin Tower, si Menara Kembar, digempur pesawat udara yang diawaki seorang berkebangsaan Arab Saudi.

“Kurang ajar! Biadab!” Rob, ayah Rachel, memaki-maki dan membanting gelas di meja.
“Bagaimana mungkin? Kok bisa?” suara perih dan putus asa Mary, ibu Rachel. Baca lebih lanjut

Sajak tentang Kepergian Seorang Sahabat

Ketika televisi menyiarkan berita tragedi Masjidil Haram
Dimana puluhan orang tewas dan ratusan terluka
Hatiku seperti dihunjam sembilu
Ada seorang karib pergi di malam itu

Pak Suparto Brata,
Perkenalan kita dimulai saat aku masih pakai seragam putih coklat
Seragam SMA jaman dulu
Aku main-main ke kantormu di Humas Pemkot
Menyaksikanmu mengetik cerpen di sela-sela pekerjaan
Sementara teman lain mungkin main catur atau baca koran Baca lebih lanjut

Kulepas Engkau Terbang

Catatan buat Astrid

Tiba-tiba saja kau muncul
Entah dari mana
Mengisi ruang kelasku yang seringkali hampa tanpa tanya
Kau hidupkan suasana
Perkuliahan jadi terasa lebih menyenangkan
Tubuh mungilmu tak kuasa
Menutupi kharisma kehadiranmu
Kelincahanmu menggerakkan kawan di sekitarmu
Ah, kalau saja ada lebih banyak siswa seperti kamu
Dan, kalau saja engkau tak segera berlalu Baca lebih lanjut

SSW menginjak usia tiga tahun

Bapak Isro' (Wawali Bontang)

Bapak Isro’ (Wawali Bontang) membuka pelatihan

Tanggal 11 Juni besok, Sirikit School of Writing menginjak usia tiga tahun. Masih Balita, tapi sudah lumayan lancar berjalan dan berbicara. Sebagai salah satu dari lima pendirinya, saya merasakan, tidak mudah mengelola sebuah sekolah atau kursus menulis. Target pasar belum memiliki kesadaran bahwa menulis itu perlu dalam hidup mereka –setidaknya pada suatu titik (at some point) seseorang akan diharuskan menulis, apapun profesinya. Maka, peserta kursus tidak berbondong-bondong seperti kalau akan les matematika, bahasa Inggris, komputer, dsbnya.

Meskipun berjalan tertatih-tatih, SSW masih bertahan hingga tahun ketiga. Cita-cita balik modal (BEP) pada tahun kedua terlewati. Namun Alhamdulillah, BEP tercapai pada tahun ketiga ini. Meskipun mendorong dan mengajarkan menulis tampak sebagai sebuah kegiatan yang mulia dan ideal, ini adalah sebuah venture, sebuah usaha, yang telah menelan modal dan harus membiayai operasionalnya: menggaji karyawan, menghonori para pengajar, membayar sewa kantor-kelas, dan sebagainya. Tak jarang dalam waktu tiga tahun itu gaji karyawan terlambat, atau sewa kantor nunggak. Untunglah, kami semua tak putus asa. Untungnya lagi, setiap bulan ada saja peserta kursus. Baca lebih lanjut