Inspirasi Tri Mumpuni

Dari semua speakers di Konferensi Internasional dengan tema New Asia Rising, dan mereka orang-orang top di bidangnya dari manca negara, pembicara terbaik menurutku adalah Tri Mumpuni. Itu pertama karena fluency-nya dlm berbahasa. Tentu masuk akal, karena lainnya adalah bahasa Inggris Jepang, bahasa Inggris Malaysia, bahasa Inggris Thailand, bahasa Inggris Indonesia, bahasa Inggris Mesir, dll. Saya tak menghitung yang bahasa Inggris Amerika karena dia juga cuma membuka acara (Presiden EF).

Saya baru pertamakali itu mendengar Puni (begitu dia biasa dipanggil) bicara di depan publik. Aku terkesima. Amat sangat fluent (mengalir seperti air), eloquent, efficient (tidak bertele-tele dan berbunga-bunga), significant (isinya bernas semua). I think she is the next Mari Pangestu. Dalam lingkungan kami, Mari is the best speaker, saya pernah melihat dia bicara di depan 200an fellow internasioanl di Singapura dan dia so perfect (dari segi delivery/bahasa maupun content), sampai dapat applause berkepanjangan. Melihat dan mendengar Puni, saya yakin she could be, she is almost, as good as Mari Pangestu dalam hal menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Continue reading

Reaksi Berlebihan dan Salah Kaprah

Kolom BAZ, Edisi Oktober 2011

Pada suatu hari di bulan September 2011, media massa memberitakan Gubernur Aceh mengeluarkan pernyataan: “Perempuan yang tidak berjilbab layak diperkosa!”. Tentu saja pernyataan itu menyinggung perasaan banyak perempuan di Indonesia. Para perempuan tak berjilbab di luar Acehpun bersimpati, lalu rama-ramai mengecam Gubernur Aceh.

Beberapa hari kemudian, Gubernur DKI Jakarta mengeluarkan pernyataan atas maraknya kasus perkosaan di Jakarta: “Wahai perempuan, kalau tak ingin mengundang pemerkosa, jangan pakai rok mini.” Tak pelak lagi, inipun mengundang rekasi keras dari para perempuan Indonesia, utamanya yang masih suka memakai rok mini. Pada suatu hari di bulan September itu, mereka berduyun-duyun turun ke jalan memprotes Gubernur DKI. Poster dan spanduknya lantang: “Rok Mini is My Right” (Rok Mini adalah Hak Saya), atau “Salahkan Pemerkosa, bukan Korban.” Continue reading

Sehari bersama kawan-kawan lama

Eks. “Surabaya Post”

Reuni sekaligus halal bi halal para mantan Surabaya Post kemarin berlangsung meriah di kediaman mas Yoeleng di Taman Putro Agung. Ketika saya tiba bersama suami tepat pukul 11 siang, di sana sudah ada Ali Salim (Bhirawa) dan istri, lengkap dengan lumpia, nasi kebuli, dan kopi Arabnya. Juga ada Aguk (Antara Bojonegoro) dengan istrinya yang cantik dan wingko buatan rumah yang masih hangat. Bahkan Muflihana dan Budiono (eks-detikcom) juga sudah tiba dari ShangriLa, mereka tiba kemarinnya dari Jakarta. Muflihana gak bawa apa-apa, cukup uang saja, untuk membayar catering untuk 100 orang. Aku sendiri bawa dua nampan jajan pasar (kue-kue basah).

Nyonya rumah sendiri, Mbak Nunung (salah satu pelukis perempuan Indonesia), sudah menyiapkan setampah penuh ikan goreng, lalapan dan sambalnya. Setelah saya, beruntun teman-teman datang dan semua membawa buah tangan. Mbak Iswati membawa kebab (maklum dia juragan Kebab King), Yusron (penulis buku Mindset Pembelajaran) membawa sate dan gule kambing. Luki (beritajatim.com) membawa buah-buahan, Denny (aku gak tahu sekarang jobnya apa) mengirim organ, penyanyi, dan sekantung besar es krim. Continue reading

Fungsi Utama Media: Sampaikan Informasi

Kolom LKM Media Watch, Untuk Antara.com

Tampaknya ini persoalan sederhana. Semua orang juga tahu bahwa fungsi media yang utama adalah menyampaikan informasi. Namun ini perlu saya ulang dan saya tegaskan berkali-kali, supaya media tetap ingat. Juga supaya media massa tak didominasi berita hiburan (=gosip selebriti) atau iklan.

Nah, apakah berita tentang Nazarudin yang menghiasi halaman depan semua media arus utama di Indonesia sejak bulan Mei 2011 termasuk memenuhi fungsi informasi? Tentu ada yang merasa sudah tercukupi dan terpuasi. Namun tak sedikit pula yang merasa tak mendapat info apa-apa (maksudnya yang siginifikan, bukan sekadar tong kosong nyaring bunyinya). Ada juga  yang tak melihat perkembangan (progress) dari kasus suap dan korupsi Wisma Atlet. Semua seperti berjalan di tempat atau mundur atau kesana kemari tak sampai jua ke tujuan: pembongkaran kasus suap itu. Continue reading

Pendidikan Karakter dan Harga Diri Bangsa

Artikel Opini

Pada suatu pagi di pompa bensin. Saya merasa dihina oleh negara, dalam sebuah antrean berbunyi “BBM hanya untuk orang tidak mampu!”

Pagi itu kendaraan kami perlu membeli BBM. Pengalaman pertama saya ikut suami membeli BBM membuat saya terpukul. Di pompa bensin dipasang spanduk besar dengan tulisan besar: BBM Untuk Orang Tidak Mampu. Kesitulah kendaraan kami menuju. Ketika ditanya petugas: “Beli apa, pak?”

Suami saya menjawab: “Yang untuk orang tidak mampu. Kami rakyat Indonesia yang tidak mampu.” Continue reading

Siapa sesungguhnya kita, manusia?

Kolom Media

Belakangan ini, di Perancis dan beberapa negara Eropah terjadi perdebatan ulang (karena kerap terjadi sebelumnya) antara para pengikut dan pemercaya Teori Darwin (Teori Evolusi) dan mereka yang menentangnya. Para penentang ini pada umumnya mereka yang percaya pada Kisah Penciptaan, seperti  yang tercantum dalam Kitab Injil maupun Al-Quran. Tokoh anti-Darwinism yang amat terkenal dan disegani adalah Harun Yahya.

Di Eropah, Harun Yahya (berkebangsaan Turki) dianggap tokoh kontroversial karena sering membagikan buku-buku tentang Teori Penciptaan seperti yang dijelaskan Quran dan Injil, ke sekolah-sekolah. Melalui buku karyanya dan indstri VCD/DVD-nya, dia berkampanye memerangi gejala atheisme di kalangan anak-anak muda karena pengaruh Teori Darwin yang diajarkan di sekolah-sekolah. Harun Yahya mengkampanyekan diajarkannya pula kandungan Injil dan Quran untuk mengimbangi Teori Darwin tentang asal usul manusia. “Manusia diciptakan sebagai manusia. Kita bukan kera,” demikian kampanyenya di kalangan para pelajar di daratan Eropah. Continue reading