Ditulis oleh Sirikit Syah di/pada Ming, 17 Januari 2010
Kolom Peduli
Baru-baru ini ada peringatan Hari Aids se-dunia. Indonesiapun merayakannya. Namun ironis, bukannya memperingati Aids sebagai tragedi di bidang kesehatan yang harus dihindari dan dicegah terjadinya, orang-orang kita merayakannya sebagai sebuah hal yang patut dirayakan. Lihat saja: pelepasan balon warna-warni ke langit oleh para remaja yang tertawa-tawa, acara meniup kondom oleh remaja putri yang mengenakan jilbab, launching ATM kondom di tempat-tempat terbuka, dan penyebutan angka jumlah korban dengan nada seperti sebuah pencapaian (prestasi).
Makna peringatan Hari Aids menjadi kabur. Bukankah seharusnya kita memperingatinya dengan tone (nada) prihatin? Tanpa kampanye pemakaian kondom di mal-mal dan tanpa konser musik? Bukankah mestinya kita bersembahyang di gereja atau masjid atau pura, mohon ampun pada Allah atas azab yang menimpa umat manusia? Bukankah kita mesti semakin gencar menasehati anak-anak kita untuk “no sex before/outside marriage” and “no drugs”? Mengapa kita malah menciptakan kondisi yang dapat dikeliru-artikan oleh anak muda sebagai “sex is alright as long as you use condom”? Apakah nilai-nilai moral kita sudah hilang?
Kita hidup di jaman dimana kita takut mengungkapkan ketidaksetujuan pada homoseksual dan lesbianisme yang jelas-jelas dilarang agama. Kalau dulu kaum gay-lah yang segan mengungkapkan jati dirinya, sekarang masyarakat umum yang segan mengungkapkan pendapatnya. Takut salah. Takut dicap. Coba kalau ada yang bertanya: “Apakah Anda setuju homoseksualitas?” Anda akan memilih untuk tidak menjawab. Bila Anda menjawab, “Saya tidak setuju, sudah jelas itu dilarang agama”; maka Anda akan di-cap sebagai musuh pluralisme, bahkan penentang hak asasi manusia. Jaman memang berubah. Seseorang yang anti-homoseksualitas, membawa kitab suci kemana-mana, berjenggot dan berjubah, tak dapat diterima di masyarakat milenium ini. Sebaliknya, mereka yang berpandangan liberal sekular, tak rajin ke gereja namun rajin ke diskotek, berpakaian agak terbuka, sangat well-accepted. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam KOLOM, PEDULI | Bertanda: Artikel/Opini | 4 Komentar »
Ditulis oleh Sirikit Syah di/pada Ming, 17 Januari 2010
Sorot Media Sabili
Sekilas, orang akan langsung melihat kesamaan nasib yang menimpa tiga orang ini: Bersihar Lubis, Prita, Luna Maya. Mereka sama-sama terjerat Pasal 27 Ayat 3 UU ITE karena dianggap mencemarkan nama baik/menghina seseorang atau lembaga secara publik melalui medium elektronik.
Sebelum menganalisis lebih jauh kasus yang menimpa ketiga orang ini, perlu kita perjelas makna UU ini, agar rakyat benar-benar paham. UU Informasi dan Transaksi melalui Elektronik ini dibuat dengan tujuan melindungi warga negara dari kejahatan transaksi dan informasi melalui elektronik. Seseorang yang terpedaya karena transaksi kartu kredit atau Hand Phone-nya, bisa menelusuri kejahatan dan menuntut keadilan dengan UU ini. Demikian pula orang yang difitnah atau dicemarkan nama baiknya melalui penyebaran informasi elektronik (internet, handphone, radio, televisi), dapat mencari keadilan. Pendeknya, UU ITE ini menghambat keisengan dan ke-kurangajar-an orang-orang yang akan beritikad buruk pada orang lainnya.
Sebagai warga negara, kita tentu merasa aman dan terlindungi dengan UU ini, bukan? Sebagian wartawan memang merasa terancam dengan lahirnya UU ini. Mereka cemas bahwa UU ini akan diterapkan secara membabi-buta alias ngawur. Kritik sosial atau pengawasan atas kinerja pejabat, dikuatirkan dapat terhambat dengan berlakunya UU ini. Wartawan cemas mereka tak bisa bebas lagi menulis. Mereka kuatir ditangkap dan diadili dengan UU ini. Kebebasan pers dan kebebasan berekspresi akan mati. Benarkah? Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam KOLOM, SABILI | Bertanda: Artikel/Opini | 2 Komentar »
Ditulis oleh Sirikit Syah di/pada Sen, 11 Januari 2010
Ruang Publik Jawa Pos
Menginjak tahun baru 2010 ini Surabaya akan mengalami peristiwa yang bisa dimaknai berbeda. Bisa saja ini sebuah pesta demokrasi, bisa juga sebuah tantangan bagi reformasi. Tahun ini warga Surabaya akan menggunakan haknya untuk memilih pemimpin kota.
Agak membosankan juga melihat media massa terus menerus mengelu-elukan calon yang itu-itu juga. Tapi apa boleh buat, tampaknya tak ada calon lain sekuat Arif Afandi, yang sekarang wakil walikota. Arif nyaris tanpa saingan. Saking perkasanya, Arif terkesan ‘jual mahal’ dengan mengulur-ulur waktu dalam menentukan calon pendampingnya. Saking lamanya dia menentukan, beberapa partai telah patah hati menunggu pinangan yang tak kunjung datang, lalu mengancam akan berkoalisi mengusung nama lain. Artinya, mereka menghentikan dukungan kepada Arif, si anak emas yang digadang-gadang.
Ada nama-nama lain yang muncul di belakang Arif. Ada Fandi, Wishnu,Yusuf, Soleh, yang gambarnya sudah memenuhi jalanan kota dan kaca belakang angkot. Warga kota tentu lebih mengenal nama Saleh Mukadar atau Erlangga Satriagung. Apakah Erlangga dan Saleh akan maju juga? Wallahu alam bisawab. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Artikel | Bertanda: Artikel/Jawa Pos | Leave a Comment »
Ditulis oleh Sirikit Syah di/pada Sen, 11 Januari 2010
Opini Jawa Pos
Produk hiburan –terutama yang diciptakan dengan cita rasa seni yang tinggi- besar sekali artinya bagi kita, manusia. Film yang baik tak hanya menyegarkan pikiran kita (refreshing), tetapi juga mengilhami (inspiring) kita untuk berkarya. Sepanjang tahun 2009 saya beruntung telah menyaksikan film-film terbaik, baik yang sudah diputar di bioskop maupun belum. Memang kebanyakan film yang saya tonton adalah film asing. Saya tak suka film horor/hantu dan seks, sementara sebagian besar film Indonesia berkisar di tema itu.
Saya mengagumi akting Brad Pitt di The Curious Case of Benjamin Button dan ikut kecewa dia tidak memenangkan piala aktor terbaik tahun ini. Kerap mengikuti perjalanan akting Brad Pitt, saya mengangap Pitt tergolong aktor serius di balik ketampanannya. Bisa dibandingkan dengan Nicholas Cage, namun agak berbeda dengan Tom Cruise yang cenderung melakoni peran-peran yang sejenis (pahlawan dalam aksi laga). Saya masih ingat betapa bagus akting Brad Pitt di film Legend of the Fall. Di Benjamin Button ini, cukup terasa usaha kerasnya untuk membawakan peran yang amat sulit: lelaki dengan karakter yang membentang usia panjang dan terbalik (lahir tua, meninggal bayi).
Film ini juga memamerkan kepiawaian tata rias yang luar biasa. Metamorfosis Brad Pitt dari bayi tua keriput menjadi lelaki dewasa yang luar biasa tampan, sangat mengagumkan. Namun yang tak kalah bagusnya adalah rias dan akting Cate Blanchet, dari gadis muda yang cantik dan lincah (dia bahkan menari balet dengan tubuh amat ramping –Blanchet adalah ibu beberapa anak), menjadi nenek tua. Satu-satunya kelemahan film ini adalah ceritanya yang tidak masuk akal, bahkan melanggar nalar. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Artikel | Bertanda: Artikel/Jawa Pos | 3 Komentar »